Indonesia sewa ulama yang divonis murji’ah bid’ah dan batil oleh Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi

Foto: TribunNewsCom
Jakarta, Mukminun.com – Harian Tribun edisi nasional memberitakan pada Ahad 8 Desember 2013 bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mendatangkan tiga ulama asal Timur Tengah untuk ‘meluruskan kekeliruan penafsiran Islam yang dipahami narapidana teroris.’

Hal tersebut diungkapkan kepada media pada Sabtu (7 Demsember 2013) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, dengan dihadiri oleh Kepala BNPT Ansyaad Mbai laknatullah dan Wakil Menteri Agama Nassarudin Umar.

Tiga ulama yang disewa oleh BNPT tersebut adalah Sheikh Najin Ibrahim, Sheikh Hisyam Al-Najjar, dan Sheikh Ali Hasan Al-Halaby. Ketiganya masing-masing berasal dari Mesir dan Jordania, dan akan di Indonesia selama satu pekan hingga 14 Desember 2013.

Yang unik dari ketiga ulama tersebut adalah sosok Sheikh Ali Hasan Al-Halabi, yang jelas-jelas telah divonis penganut murjiah yang bid’ah dan batil oleh Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi.

Abu Hatim, Lc, dalam tulisannya yang dimuat di Majalah An-Najah tahun 2010 mengungkap fakta bahwa Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa haram terhadap dua buku Sheikh Ali Hasan Al-Halabi yang berjudul Shaihah Nadzir dan Fitnah At-Takfir.

Dalam tulisan tersebut, Abu Hatim mengutip pernyataan Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi yang berbunyi, “Madzhabnya (Sheikh Ali Hasan Al-Halabi –red) dalam masalah iman adalah madzhab Murji’ah yang bid’ah dan bathil, menyeleweng dalam menukil perkataan Ibn Katsir dan Syaikh Muhammad Ibrahim, dusta atas nama Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, menafsirkan pendapat ulama tidak sebagaimana yang mereka maksudkan, meremehkan masalah tidak berhukum dengan hukum Allah, hendaknya ia mencabut pendapat-pendapat ini, hendaknya ia bertaqwa kepada Allah pada dirinya yaitu dengan kembali kepada kebenaran, hendaknya bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu syar’i kepada ulama yang keilmuannya terpercaya dan akidahnya benar.”

Fatwa tersebut juga didukung oleh pernyataan dari sosok ulama mantan pengikut sekte Murjiah, yakni Sheikh Muhammad Ibrahim Syaqrah yang pernah menjadi penengah dalam debat antara Sheikh Ali Hasan dengan DR. Abu Ruhayyim, yang dalam debat tersebut Sheikh Ibrahim Syaqrah membenarkan dan memuji apa yang disampaikan DR. Abu Ruhayyim.

Dalam bukunya berjudul “Aina Taqa’ Laa Ilaaha Illallah Fi Dien Al Murjiah Al Judud,” Sheikh Ibrahim Syaqrah mengatakan bahwa Sheikh Ali Hasan Al-Halabi adalah “embrio Salafiyah Murji’ah.”

Salafi Murji’ah sendiri, menurut Abu Hatim – mengutip pernyataan Sheikh Ibrahim Syaqrah, adalah sekelompok jamaah yang mengaku salafi yang bersikap “lembut, lunak, menolong, membantu, mencintai, dan siap menjadi garda terdepan serta memberikan loyalitas kepada orang-orang yang anti dengan syariat Islam.”


Komentar ulama tentang Sheikh Ali Hasan Al-Khalabiy
Dan ternyata, testimoni tentang Sheikh Ali Hasan Al-Khalaby, tidak berhenti pada Komisi Fatwa Kerajaan Arab Saudi dan Sheikh Ibrahim Syaqrah saja. Kesaksian tentang perangai buruk Sheikh Ali Hasan Al-Halabi juga dikeluarkan oleh Sheikh Abdulatief, putra dari Sheikh Nashiruddin Al-Albani.

Dalam buku saku Ma’a Syaikhina Nashir As Sunnah Wa Ad Dien Fi Syuhur Hayatihi Al Akhirah, Ali Hasan menyebutkan; Ketika Syaikh dikubur aku memang jauh darinya, namun aku adalah sosok yang paling akhir berbicara dengan Syaikh.

Namun Sheikh Abdulatif bin Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa yang paling terakhir berbicara dengannya selain keluarga dan kerabatnya adalah salah seorang ikhwah dari Bahrain. Ini menunjukan kebohongan Ali Hasan sang qadhi dan Ahli Jarh dan Ta’dil salafi Indonesia.

Kesaksian tentang Sheikh Ali Hasan Al Khalaby juga dikeluarkan oleh Sheikh Abdul Aziz bin Faishal penulis artikel berjudul Al Farq Baina Al Muhaqqiq Wa As Sariq (Perbedaan Antara Muhaqqiq Dan Pencuri) yang kemudian menyebutkan beberapa bukti di antaranya Sheikh Ali Hasan Al-Halabi telah mencuri hasil tahqiq Al Thanahi dan Az Zawi dalam kitab An Nihayah karya Ibn Atsir dan mayoritas dari karya-karyanya banyak membela dirinya dengan berlindung dibalik nama besar Syaikh Albani. Pada hal Sheikh Ali Hasan Al-Halabi, menurut beliau, tidak pernah duduk lama-lama belajar dengan Sheikh Albani hal ini dikarenakan Sheikh Al-Albani juga sibuk dengan tahqiq, takhrij dan ta’liq. Dengan Sheikh Albani, Sheikh Ali Hasan hanya tuntas membaca kitab kecil Nukhbah Al Fikr.

Dan terakhir, Abu Hatim juga mengutip kesaksian dari Sheikh Rabi’ al Madkhali yang ditanya tentang ‘Sheikh Ali Hasan Al-Halaby. Maka Sheikh Rabi’ Al-madkhali menjawab:

“Saya akan jelaskan kepada kalian keadaan ‘Ali Al-Halaby. Selama sepuluh tahun kami bersabar atas dia dan apa yang dimunculkan dari fitnahnya, sedang dia memperkuat fitnah tersebut dan berusaha untuk memecah belah dan membuat musykilah, diantaranya: Dia memberi kata pengantar pada kitabnya Murad Syukri yang mana padanya ada aqidah murji’ah dan pendalilan dengan ucapan ahlu bid’ah. Wallahu’alam bish shawwab.

Sumber:
1. http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/08/tiga-ulama-besar-dari-timteng-jadi-guru-bagi-napi-teroris-nusakambangan-dan-cipinang

2. Wahab, Sheikh Muhammad bin Abdul. ____. Sepuluh Pembatal Keislaman. Jakarta: Salafy.Or.Id.

3. Hatim, Abu. Lc. 2010. “Perpecahan Kelompok Salafi Maz’um.” Solo: Majalah An-Najah.