NGO Anti-SARA: Polisi gagal ungkap kasus pelecehan SARA terhadap umat Islam

Inggris, Mukminun.com – Polisi dinilai telah gagal mengungkap kasus pelecehan SARA, yang membuat minoritas umat Islam untuk berjuang mengatasi kedzhaliman yang mereka terima. Tell Mama, organisasi penentang prasangka antiislam, mencatat adanya 1.432 kasus pelecehan SARA hanya dalam rentang waktu 22 bulan.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke polisi oleh Tell Mama namun tidak semua mampu ditangani. Fiyaz Mughal, pendiri organisasi Faith Matters, menyatakan bahwa "jumlah investigasi yang dilakukan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan volume kedzhaliman yang dibawa ke polisi."

Tahun ini saja, seorang muslimah dilaporkan mendapat serangan dari tiga gadis lainnya setelah dia keluar dari Masjid Al-Noor. Ketiganya adalah gadis asing yang melakukan pemukulan pada kepala gadis muslimah tersebut dan berujung pada luka kecil di tangan dan hidung. Sebelum mendapat serangan fisik, ketiga gadis tersebut meneriakkan ejekan bersifat SARA kepada gadis muslimah tadi dan sempat pula memojokkan gadis tersebut ketika ia hendak kabur dari lokasi.

Tell Mama banyak terlibat dalam kasus-kasus seperti ini, mulai dari kekerasan dan penghinaan, sampai pada ancaman pembunuhan dan ancaman terhadap termpat ibadah seperti pembakaran masjid. Ketika masyarakat maju dengan kasus seperti ini, Tell Mama mencatat detailnya dan melaporkannya secara langsung kepada Asosiasi Kepala Polisi yang berwenang menangani kejahatan kebencian. Meski begitu, Tell Mama mengatakan bahwa polisi gagal mengungkap kasus-kasus pelecehan SARA.

Tahun ini di London, Al-Rahma Islamic Center dilaporkan dibakar dengan menggunakan bom molotov. Pada bangunan Al-Rahma Islamic Center tersebut tertulis "EDL" yang merupakan singkatan dari English Defence League, kelompok sayap kanan yang sering melakukan demonstrasi antiislam di kota tersebut. Seminggu sebelumnya di Kota Grimsby, satu masjid dilempar dengan bom molotov. Umat Islam mengaku lelah dengan perlakukan seperti ini dan sering mengeluhkan bahwa tidak ada upaya yang cukup yang dilakukan polisi untuk menghentikan serangan serupa.

Departemen Kepolisian Scotland Yard kemudian dibawa ke meja hijau atas tuduhan keterlibatan dalam kasus prasangka buruk terhadap umat Islam. Kasus tersebut muncul setelah umat Islam menyampaikan keluhan atas tindakan diskriminatif Departemen Kepolisian Scotland Yard seperti dilarang atau ditahan hanya karena mereka menganut agama Islam. Namun, investigasi oleh Komisi Independen Pengawas Kepolisian menemukan bahwa komplain dari masyarakat muslim tersebut sering tidak ditanggapi dalam tujuh hari sehingga berujung pada pemerkaraan Kepolisian Scotland Yard di pengadilan.  Asif Bhayat dari CagePrisoners, suatu organisasi HAM, menyatakan bahwa ada indikasi "arogansi dan angkat-tangan" yang ditunjukkan oleh kepolisian setempat.

Yang mengejutkan adalah, dari 1432 laporan yang disampaikan ke kepolisian, hanya 70 kasus yang mendapat tanggapan. Seorang wanita muslimah pernah melaporkan tindakan kedzhaliman karena fotonya ditayangkan ditayangkan di Twitter dan diberi komentar SARA di dalamnya. Wanita muslimah tersebut memilih untuk menyembunyikan identitasnya, namun memberanikan diri berbicara tentang pengalamannya karena ketika dia melaporkan kejadian tersebut, kepolisian setempat justru mengatakan tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kepolisian setempat justru mengatakan padanya bahwa kasus tersebut sangat sulit untuk ditindaklanjuti, terutama untuk menangkap seseorang yang terlibat dalam pelecehan SARA di media online. Mereka sempat berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut, namun sampai saat ini kasus tersebut tidak ada kabarnya lagi.

Polisi telah gagal mengungkap kasus pelecehan SARA terhadap umat Islam dan akibatnya serangan terhadap Islam semakin meningkat. Tell Mama berjanji untuk terus mengupayakan bantuan semaksimal mungkin terhadap umat Islam dengan menyeru kepolisian untuk menindaklanjuti kasus-kasus serupa. (GuardianLV/Mukminun)

*Diterjemahkan dari artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh Irfan Translator Pro