PRESS RELEASE: IHH Insani Yardim Vakfi tentang Situasi Terkini di Mesir

Berikut adalah terjemahan dari Press Release yang dikirim oleh lembaga kemanusiaan dari Turki, IHH Insani Yardim Vakfi, kepada Mukminun.com tentang hasil investigasi mereka terhadap situasi terkini di Mesir.

Perkembangan terbaru di Mesir telah mencapai tingkat yang membahayakan. Hal ini dikarenakan, sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Muhammad Morsi memenangi pemilihan presidek setelah revolusi 25 Januari. Sebagai kandidat presiden dari partai Kebebasan dan Keadilam, Mursi menjadi presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis dengan perolehan suara 51% pada 30 Juni 2012. Presiden Morsi kemudian menunjuk Hisham Handili dari Partai Kebebasan dan Keadilan sebagai Perdana Menteri pada 24 Juli 2012 dan memberinya mandat untuk membentuk pemerintahan.

Dalam satu tahun, pemerintah baru tersebut berjuang dengan serentetan masalah yang telah terakumulasi, berhadapan dengan berbagai macam protes terkait dengan keterbatasan BBM dan masalah ekonomi. Kemudian diumumkan oleh Jenderal Sisi bahwa militer Mesir memberikan ultimatum kepada Morsi untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dalam waktu 48 jam pada 30 Juni 2013. Pada 04 Juli 2013, Jenderal Sisi dan antek-anteknnya menggelar konferensi pers dan mengumumkan bahwa militer mengambil alih kekuasaan dan membubarkan konstitusi.

Di bawah komando Jenderal Sisi, militer melakukan serangkaian penangkapan dan penculikan, mulaidari Presiden Morsi, pemimpin kelompok Ikhwanul Muslimin Khairat E-Shater dan pimpinan partai. Hingga hari ini, tak terdengar kabar dari pimpinan-pimpinan tersebut dan ribuan warga Mesir lainnya. Ketika gedung-gedung yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin terbakar, militer seolah-olah menutup mata dan menghalangi media-media untuk meliput hal tersebut. Militer Mesir juga menyerang kantor-kantor berita asing dan melarang publikasi tentang tragedi Mesir.

Setelah perebutan kekuasaan oleh militer, militer dan kepolisian Mesir melakukan serangan dengan menembaki kerumunan warga sipil yang sedang menjalankan shalat Subuh di depan gedung Garda Republik pada Senin 08 Juli 2013. Hasilnya, dilaporkan bahwa lebih dari 100 orang meninggal – termasuk wanita dan anak-anak, serta ratusan lainnya terluka. Bahkan, jasad mereka yang gugur pada tragedi tersebut tidak diperkenankan untuk dibawa pulang ke keluarga masing-masing. Sebagai organisasi HAM dan kemanusiaan, delegasi IHH, termasuk diantaranya beberapa pakar hukum, telah mengunjungi mesir dan menggelar beberapa pertemuan serta mengevaluasi situasi di lapangan. Berdasarkan evaluasi tersebut, dari perspektif HAM, IHH menggambarkan situasi terbaru di Mesir sebagai berikut: muncul rasa tidak puas dari rakyat Mesir sebagai hasil dari adanya perampasan “hak-hak demokratis” setelah adanya penggulingan kekuasaan oleh militer, pembantaian warga sipil, penangkapan dan penculikan terhadap lebih dari 1000 warga sipil termasuk pimpinan politik, tiadanya kontak dengan para tahanan, tiadanya informasi tentang keberadaan mereka, larangan terhadap akses komunikasi, larangan publikasi, penangkapan jurnalis asing dan perlakuan buruk serta kedzhaliman-kedzhaliman lainnya oleh rezim militer yang berhasil terekam kamera.

Dalam rangka menghindari dan menghentikan kedzhaliman-kedzhaliman tersebut, lembaga-lembaga internasional, lembaga-lembaga HAM internasional, serta beberapa organisasi non-pemerintah mempunyai peran yang krusial. IHH menilai bahwa upaya pengawasan oleh para pengamat HAM terhadap perkembangan dan detail rekaman tentang mereka yang ditangkap merupakan hal yang sangat mendesak.

Seruan ini mengandung kepentingan terhadap penerapan nilai-nilai tanggungjawab kemanusiaan untuk menumbuhkan kesadaran antar negara demi terwujudnya jaminan perlindungan terhadap HAM dan kehidupan manusia selain karena inilah salah satu tugas IHH terhadap orang-orang yang tertindas.

IHH juga menaruh harapan agar seruan wanita-wanita Mesir ketika menggelar protes damai menentang penggulingan kekuasaan oleh militer Mesir ketika mereka menyeru, “Kami tidak ingin anak-anak kami hidup di zaman kegelapan lagi, bersanding dengan ketakutan dan kedzhaliman. Kami ingin adanya rasa hormat terhadap kehendak negara, terhadap kehendak rakyat!” ini ditanggapi dengan penuh rasa tanggungjawab kemanusiaan.

Yasar Kutluay

Sekertaris Jenderal
IHH Humanitarian Relief Foundation