Guru Geografi Non-Muslim di Texas ini Sebut Pelaku 9/11 "Pejuang Kemerdekaan"

Amerika Serikat, Mukminun.com – “Pembajak” pesawat dalam serangan 9/11 harus disebut sebagai "pejuang kemerdekaan" dan bukan "pelaku bom bunuh diri" atau "teroris," demikian tutur seorang guru geografi non-muslim di salah satu sekolah di Texas, Amerika Serikat.

Suatu sekolah di Lumberton juga akhir-akhir ini dikecam karena mendidik murid-muridnya untuk berhenti mengartikan “Holocaust” sebagai “genosida” melainkan menyebutnya sebagai "pembersihan etnis."

Guru geografi non-Muslim tersebut, yang belum diketahui namanya, juga mendorong murid-muridnya untuk praktek mengenakan pakaian Islami sebagai metode pembelajaran geografi Negara-negara di dunia dan budayanya.

Metode pengajaran negara dan budaya ini dinilai kontroversial oleh kalangan orang tua di Texas yang menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah tersebut.

April LeBlanc mengatakan kepada Fox News yang mana beliau menyebut “anak-anak Islam menjenuhkan.” Ia juga menambahkan bahwa metode pengajaran serupa merupakan suatu hal yang "menakutkan,” (karena khawatir anaknya sadar akan pentingnya menghormati kepercayaan dan budaya yang berbeda –red).

Putri dari LeBlanc, yang berusia 15 tahun, muncul dalam foto di facebook bangga sedang mengenakan burqa dalam pelajaran tentang negara-negara di dunia dan budayanya.

Meski begitu, ibu justru berpandangan picik dengan mengatakan di publik bahwa dirinya merasa dikhianati oleh sekolah tersebut. Naudzubillahi min dzalik…!

Dalam provokasinya, Washington Post menulis tentang upaya sekolah tersebut menghilangkan stigma negative tentang Islam denga mengunggah artikel bahwa murid-murid di sekolah tersebut disuruh menulis artikel bahwa penyebab kerusuhan di Mesir adalah penerapan sistem kufur demokrasi.

Patrick mengatakan kepada media sekuler Fox News, "Orang tua sangat sensitif terhadap setiap masalah yang anti-Amerika, seperti kecenderungan menyalahkan demokrasi."

Meski begitu, sang guru geografi non-muslim tersebut, yang ternyata seorang veteran berusia 32 tahun, mendapat dukungan dari komite sekolah di Lumberton, serta dari pengawas John Valastro.

Valastro menilai bahwa guru tersebut tidak melakukan kesalahan apapun.

Ia juga menyangkal asumsi masyarakat sekitar bahwa guru tersebut berusaha meradikalisasi murid-muridnya.

Lebih lanjut pengawas sekolah di Lumberton tersebut mengatakan bahwa merupakan suatu hal yang penting bagi anak-anak untuk memahami konteks.

Dia mengatakan, "Kita mungkin melihatnya sebagai terorisme, tetapi dari sisi Islam mereka mungkin menyebutnya jihad atau pejuang kemerdekaan." Wallahu’alam bish shawwab. (Nydailynews/Mukminun)

Baca juga: Guru Geografi non-Muslim di Texas Minta Muridnya Kenakan Burqa