Ust. Haris Abu Ulya: Densus 88 “Gerombolan Penjahat yang Terorganisir”

Jakarta, Mukminun.com – Gencar pemberitaan di media-media Islam, namun sepi pemberitaan di media-media mainstream bahwa Densus 88 laknatullah telah salah tangkap terhadap 14 umat Islam di Poso, serta pembantaian terhadap lima warga Nusa Tenggara Barat dalam tempo dua hari.

Hal itulah yang kemudian memicu reaksi keras dari beberapa pihak seperti:

Kamis (10/01), Direktur the Community of Islamic Ideology Analyst (CIIA), Ustadz Haris Abu Ulya juga angkat bicara dengan menyebut aparat, secara umum, atau Densus 88 secara khusus sebagai gerombolan penjahat yang terorganisir.

Hal tersebut terungkap kepada media ketika sampai pada pembahasan salah tangkap terhadap 14 umat Islam sipil di Poso yang oleh Ust Haris dinilai sebagai tindakan tidak manusiawi dan berkali-kali terjadi dalam “drama kontra terorisme.”

“Aparat itu bukanlah penegak hukum, melainkan gerombolan penjahat yang terorganisir... Saya rasa tidak sulit untuk menemukan siapa saja yang terlibat tindakan tidak manusiawi ini. Jadi ini bukanlah kasus pura-pura salah tangkap, ini kasus serius yang kesekian kalinya dalam drama kontra terorisme,” tutur Ust Haris Abu Ulya.

Lebih lanjut beliau menerangkan beberapa temuan mengenai kasus penculikan dan penganiayaan terhadap 14 umat Islam sipil di Poso yang dilakukan oleh Densus 88 laknatullah.

Dalam keterangannya, Ust Haris menjelaskan bahwa ke-14 umat Islam yang diculik Densus 88 laknatullah tersebut diinterogasi dengan mata ditutup lakban serta diikuti dengan tindak kekerasan yang sangat tidak manusiawi.

Meski toh dalam tempo 7x24 jam ke-14 muslim sipil tersebut dibebaskan, namun pihak kepolisian masih enggan mengklarifikasi kasus salah tangkap yang kesekian kalinya tersebut.

“Mereka (polisi) masih butuh saksi lengkap sejumlah 14 orang yang mengaku ditangkap dan disiksa. Apakah tidak cukup dengan 9 atau sepuluh orang yang babak belur menjadi bukti adanya tindak pidana yang sangat serius oleh aparat?” tutur Ust Haris Abu Ulya.

Di kesempatan yang sama, Ust Haris Abu Ulya juga membeberkan temuannya tentang pembantaian umat Islam sipil di Makassar dan NTB yang dalam tempo waktu dua hari saja “berhasil” membunuh tujuh umat Islam.

Menurutnya, penembakan terhadap “terduga teroris” oleh Densus 88 sebagaimana yang diberitakan di media-media sekuler merupakan suatu pembohongan karena banyak saksi menyebut tidak ada baku tembak.

“Saksi mata banyak menuturkan tidak ada baku tembak. Yang ada adalah dua orang ditembak oleh aparat Densus 88 tanpa perlawanan,” tegas Ust Haris Abu Ulya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam aksi-aksi terornya, Densus 88 laknatullah sering kedapatan membawa “barang bukti” bahan peledak dari kantor mereka untuk kemudian melakukan pembohongan publik dengan mengaku bahwa barang tersebut ditemukan di rumah “terduga teroris.”

“Masalah BB (b arang bukti) adanya pistol dan sebuah granat nanas, kebenarannya tidak bisa lagi secara obyektif dibuktikan. Karenanya, pemiliknya juga sudah meninggal. Bukan tidak mungkin bahwa BB tersebut adalah rekayasa,” imbuh Ust Haris Abu Ulya.

Akhirnya, Ust Haris Abu Ulya di akhir penjelasannya menuturkan bahwa upaya keji Densus 88 laknatullah bukan semata tindakan kejahatan, melainkan ada unsur kepentingan politik dari negara juga.

Beliau menyampaikan optimismenya bahwa suatu saat kejahatan Densus 88 laknatullah tetap akan mendapat balasan dari Allah Ta’ala.

“Saya tetap optimis, kejahatan Densus 88 tetap saja akan menemukan garis demarkasinya. Dan tidak ada kejahatan kecuali ada balasan dan catatannya,” ucap Ust Haris Abu Ulya mengakhiri pembicaraan. Wallahu’alam bish shawwab. (Voaislam/Mukminun)