MUI Desak DPR Panggil Kapolri Terkait Ulah Biadab Densus 88

Jakarta, Mukminun.com – KH Amidhan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mendesak Komisi III DPR RI untuk memanggil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) terkait penembakan warga muslim sipil di Nusa Tenggara Barat oleh Densus 88 laknatullah.

Hal tersebut beliau ungkapkan kepada media pada Rabu (09/01) menyusul maraknya pemberitaan mengenai penembakan terhadap tujuh “terduga teroris” di Nusa Tenggara Barat dan Makassar pada 04 dan 05 Januari 2013 lalu.

“DPR Komisi III itu saya anjurkan harus memanggil Kapolri dalam persoalan ini. Komisi III juga tidak boleh bungkam. Kenapa kok dengan mudah mencap orang sebagai teroris lalu dilakukan tindakan represif? Saya kita itu menyalahi prosedur,” tutur KH Amidhan kepada media.

Setidaknya ada dua poin yang melandasi desakan MUI kepada DPR agar memanggil Kapolri tersebut, yakni ulah Densus 88 yang bertentangan dengan asas praduga tak bersalah dan juga ulah biadab mereka yang bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Pertama, tentunya ini bertentangan dengan asas praduga tak bersalah. Kedua, bertentangan Hak Asasi Manusia (HAM) karena mereka belum dibuktikan,” tutur KH Amidhan.

Lebih lanjut ulama kharismatik tersebut memaparkan bahwa aparat semestinya bisa melakukan proses hukum terlebih dahulu untuk membuktikan apakah seseorang itu terlibat dalam tindakan kriminal atau pidana, dalam hal ini terorisme tentunya.

“Harus dilakukan penyelidikan dan penyidikan, diajukan ke pengadilan sehingga mereka terbukti memang bersalah dan terbukti mereka teroris. Kalau ini kan belum bisa dibuktikan, jadi ini tindakan represif yang menyalahi prosedur yang berarti melanggar hukum,” imbuh beliau.

Dalam keterangannya, KH Amidhan juga menyoroti ulah Densus 88 laknatullah yang menembak warga sipil muslim di teras masjid, sehingga muncul kesan bahwa sebaiknya umat Islam tidak ke masjid jika tidak ingin dituduh teroris lalu ditembak mati oleh Densus 88 laknatullah.

“Apalagi tempatnya di masjid, akhirnya nanti orang akan takut ke masjid. Kalau mereka ditembak mati di hutan mungkin kita tidak bisa berkomentar, tetapi kalau di masjid, bukan hanya yang diduga teroris saja kan yang ada di sana, tapi ada orang-orang yang lain juga...” imbuh KH Amidhan.

Sebagaimana gencar diberitakan sebelumnya, Densus 88 laknatullah melaksanakan operasi pembantaian umat Islam di dua kawasan berbeda dalam tempo dua hari dan berujung pada gugurnya tujuh aktivis Islam dari NTB dan Makassar.

Seorang pengamat media Islam, La Lumba Balumba menuturkan bahwa terdapat banyak kejanggalan dalam operasi pembantaian tersebut. Detail dari analisis beliau kemudian dapat di simak di tautan berikut:

http://www.mukminun.com/2013/01/kejadian-yang-sebenarnya-pembantaian.html Wallahu’alam bish shawwab. (Voa-islam/Mukminun)