Ummi Muhammad Dan Sepenggal Kisah Penderitaan Umat Islam Di Suriah

Suriah, Mukminun.com – Rakyat Suriah, laki-laki, perempuan, dan anak-anak rela mengantri berjam-jam setiap harinya, bahkan ketika hujan deras, demis sepotong roti mengingat susahnya bahan pangan di kawasan yang sedang diluluhlantakkan teroris syiah nushairiyah pendukung Bashar Assad laknatullah.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, sepotong roti tersebut kemudian harus dibagi dengan seluruh anggota keluarganya mengingat tingginya permintaan terhadap roti di kawasan tersebut.

Seperti inilah sebongkah cerita tentang kurangnya pasokan roti sebagai bahan pangan utama di tengah-tengah situasi pembantaian yang dilakukan oleh teroris syiah nushairiyah pendukung Bashar Assad laknatullah sejak Maret 2011 silam.

Kurangnya pasokan bahan bakar dan teung serta ledakan bom-bom teroris syiah nushairiyah membuat para pembuat roti tidak mampu memberikan pasokan roti yang cukup kepada rakyat Suriah.

Reporter Al-Arabiya dalam laporannya mengatakan bahwa satu perusahaan roti kemudian terpaksa memasok roti untuk 30 desa di sekitarnya.

Hassan Haj Hassan, salah satu mujahid Free Syrian Army mengatakan, “Ada banyak keluarga yang menderita. Mereka datang ke kami menanyakan bagaimana kami memberi makan anak-anak kami? Kami terbiasa membuat tepung, membuat adonan untuk memberi makan mereka. Jika mereka tak mendapat roti, mereka hanya akan makan tepung mentah atau beras atau biskuit semata.”

Meski begitu, seorang wanita perkasa di Suriah mengaku tidak akan menyerah dengan keadaan seperti ini.

“Kami tidak lelah dan tidak akan lelah. Dengan ijin Allah, kami akan tetap hidup hingga tetes darah terakhir. Kami siap jika harus kehilangan semua anak-anak kami. Kami telah terbiasa dengan kedzhaliman,” ungkap Ummi Muhammad yang anaknya diculik dan disiksa oleh teroris syiah nushairiyah laknatullah sejak empat bulan yang lalu.

Lebih lanjut Ummi Muhammad menyeru kepada dunia internasional agar tidak tinggal diam melihat anak-anak muslim Suriah dikubur dalam reruntuhan bangunan, bukan dikubur di pemakaman.

“Kami ingin dunia yang diam ini tergerak dengan kesadarannya, dan melihat anak-anak yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Mereka bahkan tidak dikubur secara layak di pemakaman,” imbuh Ummi Muhammad.

Lebih lanjut Ummi Muhammad menunjukkan salah satu anaknya yang menderita kedinginan tingkat akut selama satu setengah bulan.

“Saya tak punya apa-apa untuk menyelimuti mereka. Kemudian ada orang-orang baik yang membawa selimut untuk membantu kami,” tutur Ummi Muhammad yang berusaha menahan air matanya.

Khaled, putra lain dari Ummi Muhammad, pun nampak berusaha menahan air matanya. Ketika ditanya apa cita-citanya kelak, ia menjawab, “Aku ingin bergabung dengan Free Syrian Army dan membalas dendam terhadap mereka yang membunuh saudara-saudaraku.”

Seperti inilah sepenggal kisah penderitaan umat Islam di Suriah yang sedang terdzhalimi oleh teroris syiah nushairiyah pendukung rezim Bashar Assad laknatullah.(Alarabiya/Mukminun)

Allahumang Tsur Ikhwaninal Muslimiina Wal Mujahidiina Fii Suriah Wa Fii Kuli Makaan Wa Fii Kuli Zamaan... Aamiin