Gelar “Ksatria Salib Agung” SBY, Mantan Aktivis Gereja: Ini Sinergi Politik Dan Theologi

Solo, Mukminun.com – Seruan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono agar penyelenggaraan puncak natal 2012 dilaksanakan secara inklusif, dengan melibatkan umat non-Kristiani, ditengarai merupakan agenda kristenisasi titipan Ratu Inggris yang memberinya gelar “Knight Grand Cross” atau “Ksatria Salib Agung.”

Hal tersebut terungkap dari penuturan mantan penginjil Dewi Purnamawati yang menyebut bahwa Kristen hendak membangun hegemoni (kekuasaan) dengan membangun sinergi antara politik dan theologi.

“Kalau dia (Ratu Inggris –red) ga punya kepentingan kenapa dia memberikan gelar seperti itu? Pasti ada satu kepentingan,” kata muallaf yang pindah dari Kristen menuju Islam pada umur 37 tahun ini.

Di Arena Politik, Kristenisasi Menerapkan Proyek Yusuf-Proyek Daud
Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dari sisi politis, Indonesia merupakan suatu kawasan yang strategis, yakni memiliki banyak kekayaan alam yang kemudian jika petinggi pemerintahan bisa menjadi antek mereka, mereka akan mudah mengeruk kekayaan alam Indonesia untuk melancarkan misi theologi mereka.

Di arena politik pula, agen-agen Kristenisasi menerapkan proyek Yusuf dan proyek Daud dalam melancarkan “dakwah” Kristen mereka di kalangan pemerintahan.

“Mereka punya proyek Yusuf dan proyek Daud. (Dalam) proyek Yusuf, mereka cukup menjadi orang kedua. Nabi Yusuf itu kan bukan raja, kan? Dia hanya menakwilkan mimpinya raja, tapi kemudian dia menjadi orang kepercayaannya. Cukup menjadi orang kedua, tapi dipercaya,” jelas Ustadzah Dewi kepada Mukminun.com pada Jumat (14/12).

Selanjutnya, imbuh ustadzah Dewi, agen-agen Kristenisasi akan menuju pada proyek Daud setelah sukses dengan proyek Yusuf dengan menganalogikan apa yang terjadi pada kasus Jokowi-Rudy dan Jokowi-Ahok.

“Buktinya Solo, Jokowi suruh naik jadi gubernur, dia (Rudy – Kristiani) naik. Sekarang lihat di Jakarta, Jokowi pasangannya siapa? Nanti kalau Jokowi naik presiden, gubernurnya Nasrani,” kata Bunda Dewi, demikian beliau biasa dipanggil.

Di Arena Theologi, Kristenisasi Menjadikan Islam Sebagai Musuh Utama
Di saat bersamaan, agen Kristenisasi juga sedang “berjuang” dikancah Theologi dengan berupaya memenuhi syarat agar Yesus kembali ke dunia untuk kedua kalinya, yang oleh ustadzah Dewi bisa terpenuhi jika orang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Injil sebagai kitab utamanya.

“Ini sinergi antara politik dengan theologi. Mereka bersinergi,” simpul ustadzah Dewi Purnamawati.

Oleh karena itu, mahasiswa S2 Pusat Studi Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta ini menghimbau agar pengkaderan di kalangan umat Islam tidak kalah dengan pengkaderan di kalangan para penginjil.

Beliau menyebut bahwa tertinggalnya gerakan umat Islam jika dibanding gerakan Kristenisasi umat Nasrani dikarenakan kurangnya pengkaderan, yang oleh Ustadzah Dewi disebut dengan “lost of generation.”

“Kita ini pengkaderannya kurang, sehingga terjadi lost of generation. Mereka leibh terorganisir, karena keburukan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir” kata Ustadzah Dewi menutup wawancara dengan Mukminun.com. Wallahu’alam bish shawwab. (Irfan/Mukminun)

Baca juga:
Natal Inklusif 2012, Mantan Biarawati: Itu Kristenisasi Ala Tebar Pesona!