Dunia... Penjaranya Mukminun, Surganya Kafirun

Irfan Nugroho
Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan (dunia adalah) surga bagi orang-orang kafir,” (HR Muslim).

Demikianlah petuah kata-kata bijak yang keluar dari lisan mulia Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam yang tercatat rapi oleh Imam Muslim Rahimahullah.

Apa sebab hingga kemudian dunia dianggap sebagai penjara bagi orang-orang yang beriman?

Dunia merupakan penjara bagi orang-orang yang beriman karena mereka yakin akan kekalnya kehidupan akhirat, sehingga mereka lebih memilih untuk “memenjarakan” nafsu duniawi.

Merekalah yang percaya dan yakin pada janji Allah Ta’ala:

“Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya,” (QS An-Naziat: 40-41).

Dunia merupakan penjara bagi orang-orang yang beriman karena mereka percaya bahwa kekalnya kenikmatan di akhirat hanya dapat diraih dengan “memenjarakan” dirinya dalam “penjara” taqwa.

Mereka adalah manusia yang percaya akan kebenaran firman Allah Ta’ala:

“...Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (Yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga tersebut mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang bertakwa,” (QS An-Nahl: 30-31).

Dunia merupakan penjara bagi orang-orang yang beriman karena mereka tahu bahwa sekeras apapun ia mengumpulkan kenikmatan duniawi, maka hal tersebut tidak akan mampu menandingi kekalnya nikmat surga di akhirat kelak yang hanya diperoleh dengan menjalani masa “penjara” dalam ketaqwaan.

Ia paham betul nasihat Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:

“Tidaklah berarti dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan lalu ia mengangkatnya, dan cobalah lihat dengan apa ia kembali. Berapa banyak air yang melekat di jarinya itu? Dunia itu sangat kecil nilainya seperti halnya air yang melekat di jari tadi,” (HR Muslim dalam Riyadhus Shalihin Bab 55).

Di sisi yang berbeda, dunia adalah “surga” bagi orang-orang kafir.

Apa sebab dunia dianggap layaknya “surga” bagi orang-orang kafir?

Dunia merupakan “surga” bagi orang-orang kafir, orang-orang yang tidak percaya bahwa kekalnya nikmat akhirat tidak tertandingi oleh sebesar apapun kenikmatan duniawi.

Oleh karena itu tak jarang dijumpai orang-orang kafir berbuat sesuka hati, sesuka nafsunya, semau mereka sendiri dalam mencari kenikmatan dunia yang sebenarnya tidak lebih mahal dari bangkai kambing.

Dunia merupakan “surga” bagi orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat karena mereka menganggap hidup hanya sekali sehingga mereka memuaskan segala nafsu duniawinya.

Oleh karena itu wajar jika kemudian orang-orang kafir menjalani hidup dengan melampaui batas dengan lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat, karena memang mereka juga tidak mempercayai kehidupan akhirat.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sehungguhnya nerakalah tempat tinggalnya,” (QS An-Naziat: 37-39).

Dunia merupakan “surga” bagi orang-orang kafir karena tak ada lagi konsep konsep taqwa dan konsep keyakinan kehidupan akhirat di dalam dirinya.

Padahal dari iman dan taqwa itulah seorang mukmin ketika meninggal, ia lepas dari “penjara” di dunia untuk kemudian menuju surga tanpa tanda kutip, surga yang sebenarnya, yang kekal di alam akhirat.

Di sisi lain, kematian lantas menjadi gerbang menuju penjara di alam akhirat bagi orang-orang kafir setelah dirinya dibuai dengan kenikmatan sesaat “surga” duniawi.

...Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman. Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, Dan Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih,” (QS Al-Isra: 8-10). Wallahu’alam bish shawwab.