Veteran Muslim Angkatan Udara AS Jadi Korban Islamophobia

Kairo, Mukminun.com – Seorang veteran muslim di Angkatan Udara AS mendapati dirinya dilarang terbang pulang ke Amerika untuk menjenguk ibunya di Oklahoma setelah dirinya menghabiskan beberapa saat di Mesir, negara asalnya.

“Saya tidak mengerti bagaimana bisa pemerintah mengebiri hak saya untuk melakukan perjalanan tanpa memberitahu saya sebelumnya,” jelas Saadiq Long (43) kepada Guardian, Senin (05/11).

“Jika pemerintah AS menginginkan saya untuk diintergogasi, ditangkap, atau dieksekusi tentu bisa saja bahkan hanya dalam hitungan menit. Namun ini tak ada dakwaan, tuduhan, nihil...” sambungnya.

Dilema yang dialami Saadiq, yang telah bekerja di kemiliteran AS selama sepuluh tahun, telah dimulai sejak enam bulan lalu ketika dirinya membeli tiket ke Oklahoma, dimana ia tumbuh bersama ibunya.

Saat itu adalah perjalanan keluar kotanya pertama setelah mengabdi pada militer AS selama 10 tahun untuk mengajar bahasa Inggris di tiga negara Arab, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Namun pelarangan dirinya untuk melakukan perjalanan ke Oklahoma membuatnya kaget, terlebih namanya termasuk dalam daftar larangan terbang yang dikeluarkan pemerintah AS.

Saadiq sendiri merasa dirinya tidak pernah terlibat dalam suatu kejahatan apapun.

Dengan mendapati dirinya termasuk dalam daftar larangan terbang, Saadiq justru tidak mengkhawatirkan dirinya, melainkan mengkhawatirkan kesehatan ibunya.

“Ibu saya terlalu rapuh untuk datang mengunjungi saya, karena beliau kesulitan untuk berjalan, bahkan dalam jarak dekat sekalipun,” ungkap Saadiq.

Daftar larangan terbang sendiri merupakan program FBI yang diluncurkan sejak tahun 2003 silam.

Dalam daftar tersebut, terdapat 20,000 nama (500 diantaranya adalah warga negara Amerika) yang dicurigai terlibat dalam tindakan terorisme, yang kemudian mereka dilarang untuk melakukan penerbangan dari atau ke Amerika.

Mei 2012, Kebijakan daftar larangan terbang sempat digugat oleh 15 Muslim Amerika, empat diantaranya adalah veteran militer Amerika karena alasan yang tidak jelas.

Kedzhaliman Terhadap Umat Islam
Kasus yang menimpa Akhi Saadiq bukanlah yang pertama kali dialami oleh muslim Amerika pasca tragedi 9/11.

Menurut pengacara dari Council on American-Islam Relations (CAIR), Gadeir Abbas, apa yang terjadi pada Akhi Saadiq juga terjadi pada umat Islam lainnya di Amerika dalam frekuensi yang sangat sering.

“Setiap beberapa minggu, saya mendengar umat Islam lainnya melaporkan tidak dapat kembali ke negara dimana ia juga adalah warga negara di sana,” ungkap Gadeir Abbas yang kini sedang menangani kasus Saadiq.

Menurut Gadeir, pemerintah AS seolah telah menciptakan sebuah hukum rahasia dimana beberapa perilaku tertentu – yang salah satu perilaku tersebut adalah menjadi seorang muslim – dapat dijadikan alasan untuk memisahkan seseorang dari keluarganya, atau dari karirnya, atau berbagai ikatan lainnya.

Saadiq pun tak mau menyerah begitu saja, ia mengaku telah memesan tiket untuk penerbangan ke Amerika pada 8 November, dan besar harapannya agar dirinya diijinkan untuk menengok ibunya di Oklahoma.

Gadeir, pengacara Saadiq, berjanji akan memobilisasi massa untuk menggeruduk kantor FBI di Oklahoma jika kliennya tidak diijinkan untuk melakukan penerbangan pada 8 November mendatang. Wallahu’alam bish shawwab (Onislam/Mukminun)