Tragedi Ukhuwah! Seorang Ustadz Asal Papua Hampir Dihajar Massa

Cianjur, Mukminun.com – Ustadz Idris hampir saja menjadi bulan-bulanan warga Gang Kalimantan, Kampung Pasarean, Cianjur, hanya karena ajaran syariat yang beliau sampaikan berbeda dengan tradisi ke-Islaman yang selama ini diamalkan oleh warga sekitar.

Beliau sendiri kemudian diamankan oleh kepolisian setempat di sela-sela dialog antara warga Gang Kalimantan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cianjur di Masjid Jami Al-Mukhlisin pada Jumat (02/11) kemarin.

Tindakan polisi untuk melarikan Ustadz Idris dari dialog dirasa perlu menyusul ulah warga yang sempat melemparkan beberapa gelas plastik air mineral ke arah sang Ustadz, padahal mereka masih berada di dalam masjid.

Ewo (43), seorang warga Gang Kalimantan, menilai bahwa ajaran yang disampaikan oleh Ustadz Idris merupakan ajaran yang menyimpang dan akan memecah-belah ukhuwah Islamiyah di kampung tersebut.

Dalam penuturannya kepada media lokal, Ewo mengatakan bahwa Ustadz Idris mengharamkan tradisi ziarah kubur sebagaimana banyak dilakukan oleh warga di kampung tersebut.

Selain itu, Ewo dan beberapa warga yang terprovokasi mengatakan bahwa salah satu alasan kenapa Ustadz Idris diusir dari kampung tersebut adalah sikapnya yang menentang tradisi Yasinan berkala ketika ada orang yang meninggal.

“Ia mengharamkan kami melakukan ziarah.... Selain itu, juga mengharamkan Yasinan ketika ada orang yang meninggal,” papar Ewo kepada wartawan.

Yang paling tragis dari tragedi perpecahan umat di Gang Kalimantan, Cianjur tersebut adalah Ustadz Idris difitnah menyampaikan ajaran menyimpang hanya karena berpijak pada mahdzab yang berbeda dalam urusan jumlah jamaah shalat Jumat.

Menurut Ewo, warga menyakini bahwa jumlah minimal shalat Jumat adalah 40 orang, dan hal tersebut memang benar adanya karena pendapat tersebut adalah pendapat Mahdzab Hanbali dan Syafiiyah.

Meski begitu, hendaknya Ewo dan warga sekitar tidak perlu mengatakan ajaran Ustadz Idris sesat hanya karena Ustadz Idris membolehkan shalat Jumat dilakukan oleh jamaah yang kurang dari 40 orang.

Pendapat Ustadz Idris sendiri tidaklah salah, karena dalam Mahdzab Hanafiyah dan Malikkiyah, shalat Jumat boleh dilakukan oleh jamaah kurang dari 40 orang.

Dalam Mahdzab Hanafiyah, jumlah minimal shalat Jumat adalah dua orang, yang terdiri dari satu imam dan satu jamaah (ada pula ulama Hanafiyah yang menyatakan tiga makmum dan satu imam) dengan menyandarkan pada Quran Surat Al-Jumuah Ayat 9,

“Maka bersegeralah kaliam kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli,” (QS Al Jumuah: 9).Adapun pendapat Mahdzab Malikkiyah menyakini bahwa shalat Jumat boleh dilaksanakan dengan jumlah minimal jamaah sebanyak 12 orang dengan bersandar pada hadist riwayat Imam Muslim nomer 863.

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdiri khutbah pada hari Jum’at, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tak tersisa kecuali dua belas orang,” (HR Muslim No. 863).

Terkait dengan tragedi perpecahan umat di Gang Kalimantan, Cianjur, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cianjur berjanji akan terus melakukan mediasi karena memang MUI Cianjur tidak berani menyebut ajaran Ustadz Idris sebagai ajaran yang menyimpang.

“Kami belum berani apakah ini disebut menyimpang atau tidak,” kata Ustadz Ahmad Yani dari MUI Cianjur.

Sebagai langkah pencegahan, MUI Cianjur menugaskan kader-kadernya untuk mengisi aktivitas-aktivitas keagamaan di Masjid Jami tersebut.

Selain itu, MUI Cianjur juga menghimbau warga untuk tidak main hakim sendiri.

“Kami imbau tidak perlu melakukan main hakim sendiri,” tambah Ustadz Ahmad Yani. Semoga gesekan antar umat di Gang Kalimantan, Kampung Pasarean, Cianjur, segera membaik. Aamiin. Wallahu’alam bish shawwab. (Pikiranrakyat/Mukminun)