Ssst…! Ada Syiah Di Mana-mana, Termasuk Di Indonesia!

Semarang, Mukminun.com – Datangnya 10 Muharram biasa disambut oleh umat Islam dengan menjalankan ibadah Puasa Asy-Syura, namun hal berbeda justru dilakukan oleh umat agama Syiah.

Ya, umat agama Syiah – yang sering mengaku sebagai muslim seperti biasa – mempunyai cara konyol dalam mengisi aktivitas di tanggal 10 Muharram, yakni dengan bersedih dan berkabung karena memperingati wafatnya Husain Bin Ali Bin Abi Thalib.

Oleh umat agama syiah, tanggal 10 Muharram biasa disebut dengan hari Karbala, yang mana inilah hari ketika Husain Bin Ali Bin Abi Thalib gugur akibat salah paham di antara umat Islam zaman dahulu.

Hal inilah yang kemudian menjadi pembenaran bagi kaum agama syiah untuk menangis, memukul-mukul dada mereka sendiri, bahkan di Karbala, Iraq, mereka menyayat kepala mereka dengan pedang atau pisau hingga berdarah-darah.

Pusat peringatan 10 Muharram oleh umat agama syiah memang berpusat di Karbala, Iraq, namun hal serupa ternyata juga diadakan oleh oknum-oknum syiah di Indonesia, seperti di Semarang dan Makassar.

Kantor berita Metro TV melaporkan bahwa di Semarang, perayaan hari Karbala di ibukota Provinsi Jawa Tengah tersebut diikuti oleh ribuan umat agama syiah.

Acara yang digelar pada Sabtu (24/11) tersebut dipusatkan di kawasan Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, Jawa Tengan.

Selain di Semarang, umat agama syiah di Makassar juga kedapatan menggelar “hari raya” Karbaladi Gedung Graha Pena, Jl. Urip Sumoharjo, Makassar, pada Jumat (23/11) malam.

Alhamdulilah, acara yang digawangi oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) tersebut diketahui oleh umat Islam dari Front Pembela Islam (FPI) yang kemudian mendesak kepada pihak kepolisian setempat agar acara tersebut dibubarkan.

Untuk lebih jelas mengenai peristiwa dibalik hari Karbala, berikut kami kutip penjelasan ulama Islam, Sheikh Abdullah At-Tuwaijiri:

    Pada hari kesepuluh dari bulan Muharram, yang dikenal dengan Asyuro, Allah SWT memuliakan al-Husain bin Ali bin Abu Thalib (semoga Allah meridhoi keduanya) dengan kesyahidan, di tahun 61 H. Kesyahidannya merupakan salah satu yang menjadikan Allah SWT mengangkat kedudukannya dan meninggikan derajatnya. Dia dan saudaranya al-Hasan adalah dua pemimpin muda penghuni syurga. Kedudukan yang tinggi tidak didapat akan kecuali dengan cobaan, hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW ketika ditanya, "Siapa orang yang paling berat cobaannya?" Beliau menjawab,
 
 "Para nabi, kemudian orang-orang sholeh, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika pada agamanya kuat, ditambahlah ujiannya. Jika pada agamanya ada kelemahan diringankan ujiannya. Ujian bagi seorang mukmin tidak akan berhenti hingga dia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa."

Al-Hasan dan al-Husain (semoga Allah meridhoi keduanya) telah terlebih dulu memiliki kedudukan yang tinggi dari Allah SWT. Keduanya tidak mengalami cobaan seperti yang dialami generasi pertama. Keduanya dilahirkan di masa kejayaan Islam. Diasuh dalam kehormatan dan kemuliaan. Kaum muslimin menghormati dan memuliakan keduanya. Ketika Nabi wafat, keduanya masih kanak-kanak. Diantara nikmat Allah yang Dia berikan kepada keduanya adalah Allah berikan ujian dengan apa yang terjadi atas ahlulbaitnya  (keluarga Nabi). Sebagaimana orang yang lebih baik dari keduanya telah diuji. Ali Ibnu Abi Thalib RA (ayah dari al-Hasan dan al-Husain) lebih baik dari keduanya, dia mati syahid terbunuh.

Kematian al-Husain menyebabkan fitnah besar ditengah kaum muslimin. Sebagaimana terbunuhnya Utsman bin Affan ra adalah sebab terbesar berkobarnya fitnah. Umat menjadi tercabik-cabik hingga hari ini karenanya.

Ketika Abdurrahman bin Maljam membunuh Ali bin Abi Thalib ra, pemimpin kaum mukminin ketika itu, para sahabat Nabi membaiat al-Hasan, putra Ali, yang telah dikatakan oleh Nabi,
   
"Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, Allah akan menjadikannya pendamai dua kubu besar kaum muslimin yang saling berseteru."

Al-Hasan melepaskan haknya dari kepemimpinan, sehingga Allah mendamaikan antara dua kubu kaum muslimin. Kemudian dia wafat.
Lalu muncullah kelompok yang membuat surat pernyataan kepada al-Husain, yang menjanjikan akan memenangkan dan menolongnya jika mau merebut kepemimpinan. Tetapi hakikatnya tidaklah seperti yang dijanjikan. Bahkan ketika al-Husain mengirim sepupunya kepada mereka, mereka mengingkari janji dan membatalkan kesepakatan. Bahkan mereka membantu musuhnya untuk menyerahkannya kepada lawannya dengan (seolah-olah) berperang bersamanya.

    Ketika itu para cendikia dan pencinta al-Husain seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan selain keduanya telah memperingatkan untuk jangan pergi bergabung bersama mereka. Tetapi al-Husain tidak menggubrisnya. Para cendikia menilai bahwa keluarnya al-Husain tidak mengandung kemaslahatan, tidak pula menyongsong kebahagiaan. Dan pada akhirnya terjadilah apa yang telah dikhawatirkan. Sungguh ketetapan Allah telah ditakdirkan dan ditentukan.

Ketika al-Husain ra keluar dan melihat bahwa keadaannya telah berubah, dia minta agar diundang untuk berdamai atau memerangi para penghianat atau menemui sepupunya Yazid. Tetapi semua permintaannya ditolak. Sampai mereka melakukan kongkalikong dan memeranginya sehingga beliaupun memerangi mereka, walau akhirnya terbunuh bersama dengan orang-orang yang ada bersamanya, terbunuh secara zalim dan menemui kesyahidan. Allah memuliakannya dengan kesyahidan itu. Dipertemukan dengan ahlulbaitnya (keluarganya) yang baik lagi suci (diakhirat). Dan Allah menghinakan mereka yang mendzalimi dan mengkhianatinya.

Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya keburukan ditengah manusia. Sehingga muncullah kelompok yang jahil lagi zalim, kelompok yang mulhid (kafir) lagi munafik atau dhoolah (sesat) lagi qhawiah (melampaui batas), menampakkan loyalitas kepada ahlulbait dan menjadikan hari Asyuro sebagai hari berkabung, kesedihan dan ratapan. Pada hari itu dinampakkan syi'ar jahiliah seperti menampar-nampar wajah, mencabik pakaian dan berbelasungkawa dengan cara jahiliah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Dengan kematian al-Husain setan membuat dua bid'ah di tengah manusia: bid'ah kesedihan dan ratapan pada hari Asyuro dengan menampar-nampar wajah, menjerit-jerit, menangis, bersin-bersin dan membuat acara nostalgia. Semua itu menggiring kepada mencela dan melaknat generasi salaf dan mengaitkan mereka yang tidak terlibat menjadi para pendosa. Sampai-sampai mereka mencela generasi pertama Islam. Membacakan kisah-kisah yang kebanyakannya adalah dusta. Maksud mereka melakukan hal-hal itu adalah untuk membuka pintu perpecahan di antara ummat. Apa yang mereka lakukan (pada hari asyuro) bukanlah hal yang wajib, tidak pula mustahabbah (disukai) menurut kesepakatan kaum muslimin. Perbuatan-perbuatan itu hanyalah ingin mengenang dan meratapi musibah masa lalu yang merupakan perbuatan yang diharamkan Allah SWT. (selesai perkataannya)
Maka, harap pembaca Mukminun.com mewaspadai gerakan umat agama syiah di sekitarnya agar kemudian tidak terjerumus terhadap tipudaya yang mereka lancarkan. Wallahu’alam bish shawwab. (Metro/Detik/Presstv/Islamhouse/Mukminun)