Perangkat Desa Dzhalim! Kerahkan Preman Geruduk Ponpes Agar Ponpes Dibubarkan

Santri-santri Ponpes Darul Akhfiya | Foto: HarianSumutPos
Nganjuk, Mukminun.com – Setidaknya 50 orang penghuni Pondok Pesantren Darul Akhfiya, Desa Kepuh, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur akhirnya harus diciduk oleh antek-antek Densus 88 laknatullah pada Senin, 12 November 2012.

Cerita bermula pada Jumat (09/11) ketika beberapa perangkat desa Kepuh, Kec. Kertosono, Kab. Nganjuk mendatangi lokasi Pondok Pesantren Darul Akhfiya untuk mengklarifikasi perijinan pondok, dan juga berdalih menyampaikan keresahan warga terhadap keberadaan pondok tersebut.

Selain itu, rombongan perangkat desa tersebut juga menyampaikan undangan kepada pengurus pondok pesantren Darul Akhfiya untuk menghadiri rapat desa pada Senin (12/11) di kantor kelurahan desa Kepuh.

Dalam rapat tersebut, salah satu pengurus pondok yang ikut diculik oleh Densus 88 laknatullah adalah Ustadz Nashiruddin Ahmad mempertanyakan statement rombongan perangkat desa Kepuh yang menuding keberadaan pondok sangat meresahkan masyarakat.

“Maaf, Pak... Masyarakat mana yang bapak anggap resah karenanya? Sedangkan kami di sini seringkali diundang untuk mengisi khutbah Jumat setiap shalat Jumat. Kami juga sering diundang untuk melakukan kerja bakti pembangunan masjid-masjid, dan masyarakat juga senang dengan keberadaan pondok karena kami juga sering membantu warga masyarakat dalam proses pemanenan hasil pertanian. Coba bapak tunjukkan mana yang meresahkan? Kalau meresahkan pastinya warga tidak mengundang kami, padahal seringkali makan kami juga dijamin oleh warga sekitar,” papar Ustadz Nashiruddin Ahmad alias Landung Triwibowono panjang lebar.

Tapi dasar memang para perangkat desa tersebut bertabiat dzhalim, maka mereka bersikukuh agar pondok pesantren Darul Akhfiya segera berhenti beroperasi dan rapat desa tersebut akhirnya selesai dengan keputusan dzhalim bahwa pihak pondok harus menghentikan segala aktivitasnya dan para santtri harus keluar mulai pukul 16:00 hari tersebut.

Di sisi lain, pihak pondok pesantren Darul Akhfiya merasa tidak ada yang salah dengan keberadaan mereka selama ini, maka mereka juga mengambil keputusan untuk tetap di pondok dan menjalankan aktivitas keagamaan seperti biasa.

Hingga pukul 16:00 waktu setempat, aparat desa Kepuh, Kertosono, Nganjuk, mengetahui bahwa seluruh civitas akademika pondok pesantren Darul Akhfiya tidak mau meninggalkan lokasi.

Maka kemudian, pukul 17:30 datanglah puluhan preman bayaran ke lokasi pondok pesantren Darul Akhfiya dengan misi menteror warga pondok hingga mereka bersedia meninggalkan lokasi pondok.

Indikasi bahwa massa saat itu adalah preman bayaran terlihat dari kesaksian warga yang mendengar salah satu preman mengeluhkan belum tibanya konsumsi dan rokok sebagai imbalan atas tindakan dzhalim tersebut.

“Kapan mulih iki? Jarene dipakani rawon! Iki rokokku yo entek!” (Kapan pulang ni? Katanya mau dikasih rawon! Ini rokokku juga dah abis!) ujar warga yang menirukan celoteh para preman bayaran aparat desa tersebut.

Salah satu warga desa Kepuh berinisial G mensinyalir bahwa massa bayaran tersebut berasal dari desa Kepuh Selatan yang lokasinya berada sekitar 500 meter dari lokasi pondok.

“Yang tidak setuju itu dari sana, mas... Dari desa Kepuh Selatan, letaknya 500 meter dari pondok,” ujar Bapak G.

Lebih lanjut Bapak G mengatakan bahwa banyak warga yang senang dengan keberadaan pondok akan aktifnya para civitas akademika pondok pesantren Darul Akhfiya dalam kegiatan kerja bakti membangun masjid-masjid.

Beliau kemudian menyebutkan beberapa masjid yang dibangun dengan keterlibatan santri pondok Darul Akhfiya seperti Masjid Al-Fattah, Masjid Al-Raudloh, dan Masjid Al-Ikhlas.

Setelah Senin (12/11) malam berlangsung, tepat pada Selasa (13/11) dini hari sebanyak 49 santri dan seorang ustadz (Ustadz Nashiruddin Ahmad) pondok pesantren Darul Akhfiya diculik ke Mapolres Nganjuk dengan tuduhan keterlibatan dalam aksi terorisme.

Kapolres Nganjuk, AKBP Anggoro Sukartono, mengatakan bahwa anak buahnya mengamankan barang bukti berupa buku-buku dan kepingan VCD yang memuat materi jihad dalam Islam.

Didik, salah satu warga yang benci terhadap keberadaan pondok pesantren Darul Akhfiya memberikan testimoni konyol bahwa ekstrakurikuler bela diri dengan menggunakan pedang dan ruyung merupakan salah satu bentuk aksi teror.

“Mereka membawa pedang dan ruyung,” ungkap Didik kepada media lokal.

Ketika diklarifikasi tentang barang bukti berupa buku-buku jihad, Ustadz Nashiruddin Ahmad dengan santai menjawab bahwa barang-barang tersebut dapat dengan mudah ditemui di toko-toko buku.

“Bisa dibeli di toko,” ungkap ustadz 34 tahun asal Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut. Wallahu’alam bish shawwab. (Almustaqbal/Joglosemar/Antaranews/Mukminun)