Muktamar IJABI IV Secara Ngawur Klaim Bahwa Sunni-Syiah Bisa Bersahabat

Jakarta, Mukminun.com – Bertempat di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, komunitas syiah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menggelar Muktamar IV dengan tema “Telada Imam Ali Untuk Persatuan Umat Islam.”

Acara yang digelar pada Sabtu (03/11), atau bertepatan dengan hari raya agama syiah Eidul Ghadir tersebut, hasil muktamar mengklaim bahwa umat Islam (Sunni) bisa bersahabat dengan umat syiah.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Sekretaris Lajnah Perguruan Tinggi PBNU, Dr H Muhammad Zain yang mengatakan bahwa perseteruan umat Islam dengan syiah hanya terjadi di luar negeri.

“Yang berseteru itu di luar Indonesia. Mereka yang sudah orientasinya politik,” ungkap Zain dalam muktamar IJABI IV tersebut.

Pernyataan Dr H Muhammad Zain tentu sangat disayangkan dikarenakan nihilnya fakta di lapangan bahwa baru-baru ini terdapat konflik antara umat Islam melawan syiah di Sampang, Madura yang berakibat pada ditahannya gembong syiah Sampang, Tajul Muluk.

Ustadz Adian Husaini, Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor, mempertanyakan klaim Muktamar IV IJABI bahwa umat Islam (Sunni) dan syiah bisa bersahabat.

Kepada Mukminun.com, Ustadz Adian Husaini mempertanyakan keseriusan klaim tersebut jika kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tokoh-tokoh panutan sunni (umat Islam) seperti Abu Bakar Radhiyallahuanhu, Umar bin Khattab Radhiyallahuanhu, Ustman bin Affan Radhiyallahuanhu, dan Ibunda Aisyah Radhiyallahuanha terus-menerus dicaci oleh umat syiah.

“Apa betul Syiah mau bersahabat dengan Sunni jika faktanya tokoh-tokoh panutan Sunni (Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah ra) terus dicaci?” ungkap Ustadz Adian Husaini dengan nada beretorika.

Dalam Muktamar IV IJABI tersebut juga terdapat pernyataan dari Dr Muhammad Zain bahwa syiah bukan musuh bagi sunni (Islam), begitu pula sebaliknya, sunni (Islam) bukan musuh bagi syiah.

“Ini (Muktamar IV IJABI –red) menjadi cermin Syiah bukan musuh bagi Sunni begitu juga sebaliknya. Sunni bukan musuh bagi Syiah. Umat Islam saat lebih cerdas dalam melihat perbedaan,” kata Zain.

Terkait dengan hal tersebut, Ustadz Adian Husaini pun menyarankan agar syiah tidak menyebarkan paham mereka di Indonesia, karena Indonesia mayoritas sunni (Islam, bukan syiah –red).

“Indonesia negeri Muslim Sunni. Jika Syiah mengakui Sunni benar, untuk apa mereka sebarkan paham mereka di sini? Mengapa tidak ke Cina?” ungkap Ustadz Adian Husaini.

Muktamar Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) tahun ini merupakan yang keempat, setelah tiga penyelenggaraan sebelumnya bertempat di Jakarta, Surabaya, dan Sulawesi Selatan.

Seminar tersebut biasanya diselenggarakan bersamaan dengan perayaan hari besar agama syiah, Hari Idul Ghadir, yang dirayakan setiap tanggal 18 Dzulhijjah.

Hari Idul Ghadir, dalam agama syiah, diyakini sebagai hari dimana Sahabat Ali Radhiyallahuanhu ditunjuk oleh Rasulullah Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam sebagai penerusnya yang sah.

Perayaan hari Idul Ghadir dilaksanakan oleh penganut agama syiah di beberapa negara, termasuk oleh pelajar Indonesia yang sedang belajar di jantung kota syiah, Qum, Iran.

Kantor berita syiah, ABNA, melansir laporan bahwa ratusan pelajar Indonesia di Qum, Iran, menyelenggarakan perayaan hari Idul Ghadir di Sekretariat Sura-e Manteqe Boulevard Amin, Kota Qum, Iran.

Turut hadir dalam perayaan hari Idul Ghadir pelajar Indonesia di Iran adalah Hasyim Al-Habsyi yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren YAPI, Bangil, Jawa Timur.

Di Indonesia sendiri, syiah merupakan sebuah paham yang terlepas dari Islam, namun pengikut agama syiah sering menyebut dirinya sebagai muslim, atau Islam pada umumnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada Rapat Kerja Nasional tanggal 7 Maret 1984 di Jakarta memberikan sinyal tentang bahaya dan penyimpangan ajaran syiah.

Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur juga telah mengeluarkan fatwa no. Kep- 01/SKF-MUI/JTM/I/2012 yang menjelaskan secara detail mengenai kesesatan dan penyimpangan ajaran syiah.

Tak mau kalah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sampang, Madura juga mengeluarkan keputusan serupa, Nomor A-305/MUI/SPG/2012 yang juga menjelaskan bahwa syiah adalah ajaran yang menyimpang dari Islam. Wallahu’alam bish shawwab. (Dutaonline/Abna/Mukminun)