Mujahidin Poso Tuding Polisi Sebagai Biang Kerok Memanasnya Kota Poso

Poso, Mukminun.com – Jika media-media sekuler gencar memberitakan bahwa terdapat perlawanan dari mujahidin Poso, Sulawesi Tengah, terhadap oknum Brimob atau pun Densus 88 laknatullah maka hal tersebut memang benar adanya.

Hanya saja, amat sangat jarang disebutkan di dalam banyak pemberitaan bahwa penyebab memanasnya tensi antara mujahidin Poso dan masyarakat Muslim Poso terhadap oknum kepolisian RI sesungguhnya berasal dari arogansi polisi terhadap umat Islam di kota tersebut.

Salah seorang yang tergabung dengan mujahidin Poso menyebut bahwa Polisi dengan segala kesombongan dan keangkuhannya telah membuat kota Poso lumpuh.

“Jadi kalau ada yang bertanya, siapa yang membikin Kota Poso lumpuh? Jawabannya adalah polisi dengan segala kesombongan dan keangkuhan mereka,” ungkap mujahid tersebut dalam sebuah statement.

Klaim tersebut di atas muncul setelah kondisi kota Poso semakin menjadi-jadi, terutama setelah diculiknya Ustadz Yasin dan dibunuhnya Akhi Khalid pada Sabtu (03/11) pagi.

Ustadz Yasin merupakan seorang ustadz yang disegani di kota Poso, dan beliau mendapati dirinya dibuat tak berdaya oleh Densus 88 laknatullah hingga kemudian dirinya dapat dibawa ke dalam mobil Densus 88 laknatullah.

Kondisi kota Poso semakin memanas menyusul kabar tak sedap dengan adanya korban sipil, yakni Akhi Khalid.

Akhi Khalid sendiri merupakan seorang PNS yang tiap harinya bekerja di hutan sebagai polisi hutan, dan dirinya mendapati syahid (insyallah) pada Sabtu (03/11) setelah beberapa butir peluru Densus 88 laknatullah menyusur tubuh dan kepalanya pada pagi hari setelah shalat subuh.

Setelah sebelumnya sempat hendak dimaling ke Jakarta oleh Densus 88 laknatullah, jenazah Akhi Khalid akhirnya dikembalikan kepada pihak keluarga dengan terdapat luka bekas sayatan di dada hingga perut.

Proses pengembalian jenazah Akhi Khalid sendiri tidak berjalan mulus, karena harus disertai amuk massa oleh umat Islam di Poso terhadap beberapa fasilitas publik seperti SPBU dan pos-pos polisi.

Dalam pernyataannya, mujahid Poso ini menyebut bahwa masyarakat muslim Poso yang menghendaki dipulangkannya Ustadz Yasin dan dikembalikannya jenazah Akhi Khalid sudah “sangat sabar-sabar sekali” untuk tidak melakukan perlawanan terhadap kepolisian RI.

Hanya saja, kesabaran umat Islam yang saat itu sedang berkumpul di ujung Pulau Nias dibalas dengan suara tembakan beruntun yang sangat keras sekali dalam intensitas waktu yang cukup lama.

“Sebenarnya masyarakat Poso sudah sangat sabar-sabar sekali untuk tidak mengeluarkan lontong-lontong mereka dari penyimpanan mereka, akan tetapi saat masyarakat sudah terkumpul di ujung Pulau Nias tersebut, justru mereka disambut oleh suara tembakan beruntun yang sangat keras sekali suaranya serta dalam intensitas waktu yang cukup lama yang diperkirakan ribuan amunisi terhambur begitu saja hanya sebagai ajang unjuk gigi mereka,” tulis pernyataan tersebut. Wallahu’alam bish shawwab. (Amz/Mukminun)