Al-Azhar Beri Gelar Doktor Untuk Sheikh Yang Anggap Muslimah Tidak Perlu Berjilbab

Cairo, Mukminun.com – Universitas Al-Azhar telah menganugerahkan satu gelar doktornya kepada seorang “sheikh” yang berkesimpulan bahwa seorang Muslimah tidak wajib mengenakan jilbab. Naudzubillahi min dzalik!

Adalah “Sheikh” Mustafa Mohammad Raashed yang meraih gelar doktornya melalui disertasinya yang membahas jilbab dalam hukum Islam dan dalam disertasinya yang berjudul "Al Hijaab Laysa Fareedat Islameeyah" tersebut ia berkesimpulan bahwa “jilbab bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam.”

Dalam disertasinya, “Sheikh” Raashed menyebutkan bahwa “penafsiran ayat-ayat (Quran) di luar konteks sejarahnya” telah menggiring pada kebingungan dan kesalahpahaman tentang jilbab, yang olehnya diklaim “tidak hanya disebut satu kali dalam Quran.”

“Sheikh” Raashed menyayangkan adanya beberapa pihak yang menolak menafsirkan Quran dengan logika, sehingga memahami Quran di luar konteks.

Dia kemudian menuduh bahwa beberapa pihak yang menafsirkan Quran secara tekstual (sak-klek –red), dan menyebut bahwa penafsiran model seperti ini justru menyelewengkan makna sebenarnya. Naudzubillahi min dzalik!

Selanjutnya “Sheikh” ini menuduh para ahli tafsir Quran dengan metode “sak-klek” ini sebagai pihak yang “kurang memiliki kemampuan analisis yang dikarenakan mereka sedang menghadapi probelm psikologis.” Naudzubillahi min dzalik!

Dia juga cenderung menyalahkan para ulama mujtahid yang menyimpulkan solusi suatu permasalahan dengan mendasarkan pada ayat-ayat tertentu dalam Quran tanpa menafsirkannya dengan metode di luar konteks seperti yang disarankan oleh “Sheikh” Raashed ini.

Mereka yang berkeyakinan bahwa Islam tidak menganjurkan mengenakan jilbab bagi wanita Muslimah sering mendasarkan pendapatnya pada Surat Al-Ahzab Ayat 53:

“...Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka. dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah,” (QS Al-Ahzab: 53).

Menurut “Sheikh” Raashed, ayat tersebut di atas hanya spesifik bagi istri-istri nabi untuk mengenakan Jilbab atau tirai yang memisahkan pria dengan wanita yang bukan muhrimnya, sehingga tidak berlaku untuk umat Islam hari ini. Naudzubillahi min dzalik!

Keblingernya “Sheikh” Raashed terhadap ilmu tafsirnya semakin terlihat saat menjelaskan tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 59 dimana Allah Ta’ala berfirman:

“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS Al-Ahzab: 59).

Dalam menjelaskan ayat ini, “Sheikh” Raashed mengatakan bahwa ayat ini justru menyeru kepada para wanita untuk tidak mengenakan jilbab, karena hanya cukup dengan menutupi wajah mereka saat dilirik oleh para pria. Naudzubillahi min dzalik.

Menurut beberapa pihak, Universitas Al-Azhar mengakhiri sidang pendadaran disertasi “Sheikh” Mustafa Mohammad Raashed dengan status “diperdepatkan” yang kemudian mengerucut pada diskusi tentang apakah jilbab itu sendiri merupakan sebuah tradisi atau perintah agama.

Semoga Allah Ta’ala segera menunjukkan jalan yang lurus kepada “Sheikh” Mustafa Mohammad Raashed sehingga umat Islam tidak tersesat dengan pendapat tersebut. Wallahu’alam bish shawwab. (Almonitor/Mukminun)

Updated: Setelah dimuat pertama kali oleh situs E-Kuwait pada tanggal 17 Mei 2012, berita ini kemudian disangkal oleh DR. Usamah Sayyid Al-Azhari dari bagian Maktab Ar-Risalah Universitas Al-Azhar. Dalam pernyataannya, beliau mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh "Sheikh" Mustafa Mohammad Raashed tidak memiliki landasan hukum yang kuat untuk mempertahankan hipotesisnya bahwa jilbab bukan merupakan kewajiban dalam Islam.