Nak, Kebenaran Itu Bukan Mengikuti Kebanyakan Manusia

Irfan Nugroho
Nak, di antara masyarakat Jawa, tersebar kesepakatan tak tertulis bahwa mereka yang terlalu sering berbicara (cerewet) adalah mayoritas dari kaum hawa.

Hingga kemudian jika ada seseorang yang cerewet, maka orang Jawa akan melabelinya dengan “Lambe Wedok” (Bibir Wanita).

Namun ingatlah, wahai putriku... Hendaknya tak kau jadikan “kesepakatan” tersebut sebagai pembenaran bagimu untuk kemudian terus-menerus memakan bangkai saudara sendiri dengan menggunjingnya.

Hendaknya tak kau jadikan kebiasaan orang banyak tersebut sebagai dalil bagimu untuk kemudian terlalu sering membicarakan hal yang tak perlu, apa lagi membicarakan hal-hal yang engkau tak memiliki pengetahuan di dalamnya.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam...” (HR Bukhari & Muslim).

Selain itu, hendaknya engkau, nak... Tidak menjadikan sifat cerewet yang melekat padamu sebagai sesuatu yang wajar karena banyak orang menganggap bahwa sifat cerewet adalah sebuah kewajaran bagi wanita.

Ingatlah, nak... Apa yang berlaku banyak di masyarakat tidak selalu dan tidak selamanya mengandung kebenaran.

Kebenaran bukan dengan mengikuti kebanyakan manusia, namun dengan mengikuti jalan kebenaran yang telah ditentukan oleh Allah.

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)," (QS Al-An’aam: 116).

Nak, bukan berarti menyontek itu sebuah hal yang diperbolehkan hanya karena mayoritas dari teman sekelasmu melakukannya saat ujian berlangsung.

Maka dari itu, nak... Hendaknya kebiasaan kebanyakan temanmu menyontek itu tidak engkau jadikan dasar untuk membenarkan ulahmu melakukan kecurangan dalam ujian karena kebenaran hanya datang dari Allah.

“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu (Tuhan dari Nabi Muhammad, Allah Ta’ala),” (Al-Kahfi: 29).

Oleh karena itu, nak... Ingatlah bahwa apa yang berlaku banyak di masyarakat tidak selalu dan tidak selamanya mengandung kebenaran.

Kebenaran bukan dengan mengikuti kebanyakan manusia, namun dengan mengikuti jalan kebenaran yang telah ditentukan oleh Allah.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah),” (Al-An’aam: 116) Wallahu’alam bish shawwab.