Kenapa Adzab Allah Di Dunia Ditimpakan Kepada Semua Orang? Kenapa Bukan Hanya Kepada Orang Yang Dzhalim Saja?

Oleh Sheikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin
Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah Radhiyallahu Anha, dia mengatakan bahwa Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sekelompok pasukan akan menyerang Ka’bah, ketika mereka telah sampai ke tanah lapang yang luas mereka semua akan dibinasakan dari awal sampai akhir mereka. Aisyah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin mereka semua akan dibinasakan dari awal sampai akhir, sedangkan di antara mereka terdapat orang-orang yang hendak berdagang, dan terdapat pula orang yang tidak termasuk golongan mereka?” Rasulullah bersabda, “Mereka dibinasakan dari awal sampai akhir kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing.” (HR Al-Bukhari, No. 2118; Muslim, No. 2884).

Penjelasan
Sabda Nabi, “Sekelompok pasukan akan menyerang Ka’bah”. Ka’bah Al-Musyarrafah dijaga dan diselamatkan oleh Allah dari setiap segala kejahatan.

Ka’bah ini adalah Baitullah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama anaknya, Nabi Ismail. Mereka meninggikan pondasi Baitullah seraya berdoa,

"Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui" (Al-Baqarah: 127).


Ka’bah inilah yang ingin diserbu oleh Abrahah. Dia menyerbu Ka’bah dengan pasukan besar yang dipimpin oleh gajah besar yang hendak menghancurkan Ka’bah, Baitullah. Tatkala mereka mendekati Ka’bah dan tiba ditempat yang disebut Al-Mughammas, tiba-tiba gajah tersebut berhenti dan tidak mau maju, mulailah mereka menghardik gajah tersebut untuk maju menuju Ka’bah, tapi gajah tersebut menolaknya. Apabila mereka mengarahkan gajah tersebut ke arah Yaman, gajah tersebut segera berlari dengan cepat.

Oleh karena itu, Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam bersabda saat perang Hudaibiyah tatkala untanya tiba-tiba berhenti dan tak mau berjalan, seketika para sahabat berkata, “Qaswa’ menolak untuk berjalan.” Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Demi Allah, qaswa’ bukan menolak untuk berjalan, sungguh yang demikian itu bukanlah kebiasaannya, akan tetapi dia ditahan oleh Zat yang menahan pasukan gajah.” Zat yang menahan pasukan gajah adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah mereka memintaku kepada-Ku suatu perbuatan yang bertujuan untuk mengagungkan sesuatu yang diagungkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kecuali Aku mengabulkannya.”

Yang perlu digarisbawahi, bahwa Ka’bah diserbu dari arah Yaman oleh pasukan besar yang dipimpin oleh gajah besar untuk menghancurkan Ka’bah. Ketika mereka sampai di Al-Mughammas, gajah tersebut tiba-tiba berhenti dan menolak untuk berjalan. Mereka menghardiknya, tapi hardikan tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Mereka tetap tertahan disana, lalu Allah mengirimkan burung yang berbondong-bondong, setiap ekor burung membawa sebuah batu di kakinya kemudian dilemparkan salah seorang di antara mereka, mengenai kepalanya hingga tembus duburnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

"Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)," (Al-Fiil: 5).


Mereka tak ubahnya seperti tanaman yang dimakan binatang ternak yang menempel di tanah. Dalam peristiwa ini, Umayyah Bin Abi Shalt mengatakan, “Allah menahan gajah di Al-Mughammas hingga ia lari pontang-panting seperti menjadi gila,”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga rumah-Nya dari makar raja dzhalim yang hendak menghancurkan Baitullah. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

“Dan siapa saja yang bermaksud melakukan kejahatan secara dzhalim di dalamnya, niscaya akan kami rasakan padanya siksa yang pedih,” (QS Al-Hajj: 25).

Di akhir zaman nanti, terdapat suatu kaum yang akan menyerbu Ka’bah dengan pasukan yang besar.

Sabda Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam,

“Ketika mereka telah sampai ke tanah lapang yang luas.”

Maksudnya tanah yang luas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membinasakan mereka semua dari awal sampai akhir mereka. Bumi menggoncang mereka, semuanya tenggelam ke perut bumi, tak terkecuali para pedagang dan orang-orang yang bersama mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah pasukan yang sangat besar, karena mereka membawa rombongan pedagang untuk berjual-beli dan setiap orang yang bersama mereka. Allah menenggelamkan mereka semua dari awal sampai akhir mereka. Saat Rasulullah mengatakan hal tersebut, terbesit sebuah pertanyaan dalam pikiran Aisyah Radhiyallahu Anha.

“Bagaimana mungkin mereka semua dibinasakan dari awal sampai akhir, sedangkan di antara mereka terdapat orang-orang yang hendak berdagang, dan terdapat pula orang yang tidak termasuk golongan mereka?”

Dalam pasukan itu terdapat orang-orang yang mengikuti mereka tanpa mengetahui rencana pasukan tersebut. Kemudian Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Mereka dibinasakan dari awal sampai akhir, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing.”

Setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.

Hadist tentang pasukan gajah ini merupakan salah satu contoh dari sabda Rasulullah salallahu’alaihi Wasallam,

“Amal perbuatan pasti disertai dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.”

Dari hadist ini dapat dipetik sebuah pelajaran, bahwa orang yang ikut serta dengan orang-orang yang melakukan kebatilan, orang-orang yang suka melampaui batas, dan orang-orang yang memusuhi Allah, maka orang tersebut disamakan dengan mereka dalam menerima siksa dari Allah, baik orang tersebut tergolong orang yang shalih maupun orang jahat. Siksa apabila menimpa manusia, maka akan menimpa mereka secara merata, tidak seorang pun yang tersisa. Kemudian pada hari kiamat, mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya,” (QS Al-Anfaal: 25).
Intisari hadist kedua ini adalah sabda Rasulullah, “Kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing.”

Hadist ini senada dengan sabda beliau:
“Amal perbuatan pasti disertai dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.” Wallahu’alam bish shawwab.