Mantan Kristiani Ini Menangkan 46 Milyar Rupiah Setelah Didiskriminasi Kantornya

Ukhti Susann Bashir
Kansas, Mukminun.com – Jumat (04/5) kemarin, seorang warga Kota Kansas, AS, memenangkan tuntutan sebesar 5 juta dollar AS (atau setara dengan 46 milyar rupiah).

Uang sebesar itu ia peroleh setelah dewan hakim pengadilan setempat menyatakan bahwa institusi yang mempekerjakannya telah membuat sebuah “lingkungan kerja yang tidak mengenakkan” menyusul kepindahannya dari Kristen ke Islam.

Ia adalah Ukhti Susann Bashir, seorang ibu berusia 41 tahun, yang kemudian menuntut perusahaan telekomunikasi ternama AT&T cabang Southwestern Bell karena institusi tempatnya bekerja telah melakukan ‘serangan terpola’ dan ‘tindakan diskriminatif’ sejak keputusannya memeluk Islam 2005 silam.

Dalam proses persidangannya, diketahui bahwa manajer Ukhti Susann sering memanggilnya teroris dan mengatakan padanya bahwa Ukhti Susann akan dimasukkan ke neraka menyusul tekad bulatnya untuk mengenakan jilbab dan menghadiri shalat Jumat.

Tidak sampai di situ saja, sang manajer juga terungkap sering meminta Ukhti Susann untuk melepas Jilbabnya, sambil terus-menerus menghinanya, dan pernah sekali merenggut secara paksa Jilbab yang sedang dikenakan oleh Ukhti Susann.

Ukhti Susann kemudian melayangkan surat aduan kepada pihak HRD tempat ia bekerja, meski pada akhirnya Ukhti Susann harus rela dipecat dari pekerjaannya pada 2010 lalu.

Dalam persidangan Ukhti Susann menyebut bahwa pemecatannya didasarkan pada keputusannya memeluk Islam, namun forum persidangan menolak tuntutan tersebut sehingga Ukhti Susann tidak bisa menuntut denda dari bekas perusahaannya tersebut.

Setelah melalui proses persidangan beberapa hari, pengadilan negeri Jackson County meminta pihak AT&T untuk membayar denda sebesar 5 juta dollar termasuk 120.000 dollar AS atas kedzhalimannya terhadap Ukhti Susann.

Pengacara Ukhti Susann mengatakan bahwa keputusan tersebut merupakan sesuatu yang monumental bagi kliennya, namun bukan berarti apa-apa bagi sebuah perusahaan raksasa seperti AT&T. (ChicagoTribune/Mukminun)