Pemerintah Cina Rubuhkan Masjid, Tangkap 36 Muslim

Cina, Mukminun.com – Pihak berwenang di Ningxia, Cina, pada Selasa (02/5) membawa ke meja hijau 30 Muslim Cina yang didakwa dengan tuduhan “memancing keributan’ dan ‘menghalangi tugas Negara.’

Lantas apa yang dimaksud dengan ‘menghalangi tugas negara’ di sini?

Ya, 30 Muslim Cina ini diadili dan ditahan tanpa sepengetahuan keluarga karena mencoba menghalangi proses penghancuran sebuah Masjid di Tongxin, yang berdekatan dengan Ningxia.

Total telah ada 40 umat Islam Cina asal Tongxia dan Nigxin yang telah ditahan dan dibawa kabur oleh pohak kepolisian setempat menyusul aksi protes mereka terhadap perobohan Masjid mereka.

Sumber media lokal menyebutkan bahwa dari 40 tersebut, empat di antaranya telah dibebaskan, namun 36 sisanya masih harus mendekam di penjara karena mempertahankan Islam.

Ke-36 tahanan Muslim tersebut dilaporkan telah menjalani proses persidangan pada 24 April lalu di pengadilan negeri Tongxin.

Dilaporkan juga oleh pihak keluarga tahanan bahwa ke-36 tahanan Muslim etnik Hui tersebut juga mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari kepolisian setempat.

Pihak keluarga membeberkan bahwa hingga Maret 2012, mereka sama sekali tidak diperkenankan mendapatkan kejelasan mengenai saudara mereka yang sedang ditahan.

Para tahanan Muslim tersebut juga tidak diijinkan untuk memilih pengacara untuk mendampingi mereka selama proses persidangan berlangsung.

Mereka mengaku bahwa seorang pengacara telah dipilihkan oleh pemerintah Cina.


Jin, seorang Muslim yang mendapati tiga anggota keluarganya ditahan, mengatakan bahwa enam dari mereka didakwa dengan tuduhan ‘memancing keributan’ sedangkan 30 sisanya ditahan karena ‘menghalangi tugas negara.’

Jin mengatakan bahwa dari 30 Muslim etnik Hui yang ditahan tersebut, terdapat empat Muslimah dan seorang pemuda berusia 17 tahun.

Lebih lanjut, Jin yang menghadiri pengadilan tersebut mengatakan bahwa pengadilan terhadap tiga anggota keluarganya dan puluhan saudara Muslimnya tersebut harus ditunda sehingga belum ada kepastian dakwaan yang dikeluarkan oleh pengadilan Tongzxin.

“Hakim bilang bahwa pengadilan akan ditunda, dan putusan akan dikeluarkan secepatnya,” kata Ukhti Jin.

Masyarakat sekitar yang ikut ditangkap berkata, melalui Ukhti Jin, bahwa kepolisian telah menyiapkann sebuah pengakuan dan meminta mereka secara paksa untuk menandatangani penghancuran Masjid tersebut.

Kesaksian juga keluar dari keluarga Jin Haitao, penduduk desa Taoshan dimana keributan terjadi, yang mengatakan bahwa ia dan keluarganya dibawa ke sebuah tempat yang tidak diketahui lokasinya, sesaat setelah mereka diculik dari Provinsi Hebei.

“Kami tidak dapat menghubungi dia, dan saya juga telah meminta kabar dari mereka,” kata salah satu saudara Jin Haitao.

Medio Desember 2011, gesekan terjadi antara umat Islam etnik Hui di Ningxian dengan kepolisian setempat di desa Taoshan.

Menurut kelompok hak asasi dari Hing Kong, keributan tersebut pecah ketika umat Islam setempat mempertahankan Masjid mereka dari upaya penghancuran oleh kepolisian setempat.

Masjid itu sendiri dibangun secara swadaya oleh masyarakat sekitar dengan menghabiskan biaya sebesar 1,27 juta dolar AS (11,6 milyar rupiah), dan masyarakat tidak bias menerima upaya penghancuran tersebut.

Dalam beberapa laporan disebutkan bahwa beberapa umat Islam di Taoshan meninggal dunia dalam keributan tersebut, namun hal tersebut dibantah oleh kepolisian setempat.

Sontak hal tersebut mengundang reaksi keras dari umat Islam di dunia, terutama dari Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang mengutuk serangan polisi Cina terhadap umat Islam etnik Hui.

OKI juga meminta pemerintah Cina untuk menghormati hak-hak umat Islam untuk membangun dan merawat Masjid-masjid mereka.

Semoga Allah memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara kita umat Islam di Cina. Aamiin. (Rfa/Mukminun)