Di Solo, Dua Aktivis Dakwah & Satu Muslim Awam Dikeroyok Preman Kristen Radikal

Solo, Mukminun.com – Sepeda motor bernomor polisi AD 5432 BZ itu sudah tidak bisa lagi dikenali merk aslinya karena pada Kamis (03/05) siang itu, sepeda motor tersebut telah hangus terbakar.

Bukan karena kecelakaan, melainkan karena dibakar oleh puluhan orang yang menempati daerah sekitar Pasar Tanggul, Kampung Kadirejo RT 01/01, Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Informasi yang berhasil dihimpun oleh Mukminun.com dari warga sekitar menyebutkan bahwa sepeda motor na’as tersebut adalah milik ‘anggota jihad’ yang dicegat oleh sekelompok pemuda Pasar Tanggul anak buah mantan anggota TNI bernama Iwan Walet.

Tak ayal lagi jika kemudian dua aktivis dakwah ini harus rela menjadi bulan-bulanan puluhan preman anak buah Iwan Walet yang kala itu ternyata sudah siap dengan berbagai senjata tajam dan benda-benda keras.

“Ada Jihad, Mas. Dikeroyok warga sekitar sama orang-orang yang lewat,” kata seorang warga yang sehari-harinya berjualan di lokasi kejadian.

Usut punya usut, ternyata dua aktivis dakwah tersebut masing-masing bernama Tanto dan Sandinino, dua orang anggota dakwah Islam pencegah kemungkaran di Kota Solo.

Cerita bermula sejak tiga bulan lalu, dimana kelompok dakwah Tanto dan Sandinino melakukan pemberantasan maksiat dengan menggeruduk Pasar Tanggul, Gandekan, Jebres, Solo karena memang daerah tersebut sering dijadikan area mabuk-mabukkan segala macam kemaksiatan.

Kala itu bentrokan pecah antara preman Pasar Tanggul dengan puluhan laskar umat Islam yang kemudian memicu dendam kesumat di benak para preman pimpinan Iwan Walet.

Anehnya, menurut kesaksian warga sekitar didapat keterangan bahwa sejak saat itu selalu ada ‘aparat keamanan’ yang dikerahkan ke lokasi tersebut setiap Sabtu malam, yang konon ditujukan untuk mengamankan lokasi.

“Setiap kamis malam dan malam minggu banyak aparat keamanan di sini, mas. Tapi paling banyak tiap malam minggu,” testimoni seorang warga yang enggan diketahui namanya.

Sejak saat itumuncullah paradigma negatif di antara preman dan warga sekitar bahwa setiap mereka yang berpenampilan seperti ‘Jihad” akan menjadi target di daerah tersebut.

“Saya kurang tahu, mas. Yang pasti setiap orang yang mirip ‘jihad’ (orang Islam yang berpakaian Muslim, berjenggot, celana ngathung - red) akan selalu diincar oleh warga sini,” kata seorang penjual makanan yang mangkal di Pasar Tanggul.

Benar saja bahwa ketika Tanto dan Sandinino dikeroyok oleh preman Kristen radikal, ada seorang Muslim awam yang berjenggot dan celana ngathung langsung diserang secara membabi buta.

Agus Pamuji, sang Muslim awam yang tidak tahu menahu urusannya, kemudian terluka parah karena dibacok, dipedang, dan dipukuli dengan benda keras oleh para preman Kristen radikal yang mengira Agus sebagai bagian dari Laskar Islam Solo.

Agus sendiri saat itu berada di lokasi karena setelah shalat di Masjid dekat TKP ia mendengar ada keributan yang membuatnya penasaran dan mendekat ke TKP.

Naas tak bisa dihindari hingga kemudian Agus Pamuji, warga Polokarto, Sukoharjo, ini justru menjadi korban yang terluka parah dan harus dilarikan ke rumah sakit daerah DR Muwardi, Jebres, Solo.

 “Saya sedang sholat di masjid, selepas sholat saya melihat ada ribut-ribut, kemudian saya mendekat. Tau tau saya di lempar batu dan di bacok, saya tersungkur dan tidak tau apa yang terjadi”, Ujar Agus saat diminta keterangannya oleh Kru FAI saat Kamis malam (3/5/2012) masih terbaring di Rumah Sakit.

Agus saat ini masih terbaring lemah di RSUD Moewardi Solo. Agus yang dimintai keterangan lebih lanjut juga tidak bisa berbicaraya banyak dan masih terbata bata karena menahan rasa sakitnya di bagian rahang dan kepalannya.

Agus | Photo: Arrahmah

Sandinino sendiri sempat berupaya kabur dari kerumunan massa dengan berlari ke arah Pasar Gede, namun naas bahwa ia tidak dapat menghindari sabetan senjata tajam yang mengiris beberapa centimeter kulit lehernya.

Sandinino, warga Semanggi, 23 tahun, ini pun ditolong warga lainnya untuk kemudian dilarikan ke IGD Rumah Sakit Islam Kustati, di Pasar Kliwon, Surakarta, untuk mendapatkan beberapa jahitan.

Mukminun.com yang mencoba mendatangi RS Kustati hanya memperoleh informasi dari pihak RS bahwa benar ada seorang “jamaah masjid” yang mendapat sabetan pedang di lehernya, dan di punggungnya namun tidak terluka parah, hanya menerima beberapa jahitan dan berawat jalan.

Peristiwa yang menimpa para korban mengundang solidaritas aktivis islam dan warga Mojo Pasar Kliwon Surakarta. Para aktivis dan warga berkumpul di masjid Muhajirin untuk menyerbu tempat kejadian mencari pelaku pengroyokan.

Di TKP, wilayah Gandekan diblokir akses jalannya oleh aparat dari Brimob sebanyak 5 SSK, dan Dalmas 2 SSK, dan pasukan motor Trail kepolisian sebanyak 20 motor bersenjata Lengkap.

Preman-preman Solo utara beserta warga mempersenjatai diri dengan senjata tajam serta para preman sesumbar akan melawan laskar yang masuk kesana.

Iwan Walet sendiri merupakan salah seorang preman Solo yang dikenal karena aktivitasnya dalam dunia perwaletan dan kedekatannya dengan beberapa “Penggede” (orang-orang besar) di Solo seperti Wakil Walikota Solo, Kasno (DPRD Solo dari PDI-P), Kusumo (Bos hiburan malam Solo Cafe, Panti Pijat, Diskotik, dan lain sebagainya).

Iwan Walet juga seorang mantan anggota TNI dari Kostrad yang dipecat secara tidak hormat karena terlibat dalam sejumlah tindak pidana. Dan sampai berita ini kami buat, kami masih melakukan investigasi untuk meng-update berita terbaru. Wallahu’alam bish shawwab. (Irfan/FAI/Arrahmah/Mukminun)