Ketika Mujahid Asal Amerika Mengungkapkan Masa-Masa Indah Di Tanah Asalnya

Toronto, Mukminun.com – Pemuda Alabama yang masih menjadi incaran FBI karena diduga menyediakan bantuan untuk Mujahidin di Somalia ini mengaku tidak pernah menyesal tentang kehidupannya di Somalia, namun ia juga mengaku rindu pada kedua orang tuanya, saudarinya Dena, dan beberapa masa-masa “indah”nya di Toronto, Kanada.

Pemuda ini bernama Omar Hammami, seorang Mujahidin asli AS yang kemudian hijrah ke tanah Jihad Somalia pada tahun 2006 untuk menjemput syahid atau kemuliaan bersama Islam.

Omar Hammami menulis dalam autobiografinya menyebutkan bahwa ia pernah terbesit keinginan untuk kembali mengalami masa-masa kehidupannya di AS meski hanya dalam tiga hari saja.

“Setelah melalui pelukan dan ciuman, aku dan Dena sempat berkeliling kota tertawa riang dan membicarakan tentang ribuan hal tanpa pernah menyelesaikan omongan tentang hal tersebut,” ungkapnya dalam tulisan setebal 127 halaman tersebut.

“Aku ingin mengelilingi semua restoran dan makan makanan Cina, sayap ayam pedas, es krim Nestle, kopi gormet, dan beberapa makanan dan minuman lainnya,” lanjut Omar Hammami yang juga sering disebut dengan Abu Mansour Al-Amriki.

Inilah kami pertama dan satu-satunya bagi Omar Hammami mengungkapkan kerinduannya terhadap kondisi lingkungannya di Alabama dalam tulisannya.

Omar Hammami, yang kini 28 tahun, dilahirkan dan dibesarkan di Alabama oleh seorang ibu Katolik dan ayah yang keturunan Suriah.

Dalam tulisannya Omar Hammami menyebutkan bahwa dia dibesarkan seperti halnya anak-anak Amerika lainnya seperti ketika ia pernah dibuat malu di depan seorang gadis bernama Lacey dan dibenci oleh seorang cowok bernama Zack.

Di masa “jahiliyahnya,” Omar Hammami juga sempat merayakan beberapa kali hari natal dan ulang tahun.

Hammami kemudian pindah ke Toronto sesaat setelah ia memelih Islam dan memutuskan untuk keluar dari kampus pada tahun 2002 silam.

Ia mengaku bahwa keputusannya memeluk Islam bukan karena adanya stigma buruk terhada Islam setelah tragedi 9/11 melainkan karena ia telah menaruh perhatian yang cukup lama terhadap Islam hingga membuat ia terpanggil untuk terbang ke Mogadishu, Somalia.

Di Toronto, Hammami hendak menikahi seorang wanita keturunan Etiopia, namun ia tidak berhasil, hingga kemudian pada 2004 ia menikahi seorang wanita keturunan Somalia dan mereka akhirnya pindah ke Kairo, Mesir, dan memiliki seorang anak di sana.

Namun masa-masa bersama wanita keturunan Somalia tersebut tidak bertahan lama. Istri Hammami memutuskan untuk tidak ikut bersamanya ke Somalia karena ingin hidup “bahagia” di Kanada.

“Aku bilang padanya bahwa aku hidup di bawah pohon dan aku saat itu sedang bicara (melalui telepon) dari atas gunung. Dia nampaknya tidak mau memahami hal tersebut. Dia menolak datang ke Somalia dan ngotot bahwa aku harus kembali ke Kanada dan hidup bahagia selamanya,” tulis Omar Hammami.

Di Kairo pula, Omar Hammami bertemu dengan seorang pemuda Amerika bernama Daniel Maldonado dan mereka bersama-sama bergerak menuju Somalia.

Maldonado sendiri akhirnya ditangkap di Kenya dan dideportasi ke AS dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena mengikuti pelatihan Jihad di Somalia.

Banyak hal-hal seru yang Omar Hammami tulis dalam autobiografinya tersebut, seperti dalam penggambaran atas kekecewaannya ketika diminta untuk membuang jam tangannya yang terbuat dari emas.

Ia juga menuliskan indahnya bermunajat kepada Allah ta’ala ketika menuturkan pengalamannya menghabiskan malam tanpa tidur dengan terus menerus berdoa agar pasukan musuh segera datang dan mimpinya menjadi Syuhada akan segera terwujud.

“Aku teringat saat dimana aku berdoa agar musuh segera datang sehingga aku bisa menjadi syuhada,” tulis Omar Hammami.

Namun begitu, keinginannya untuk menjadi seorang Syuhada belum juga terwujud hingga 16 Mei 2012, atau tanggal dimana ia selesai menuliskan autobiografi tersebut, dimana ia menuliskan ungkapan di akhir buku tersebut dengan “Masih hidup dan wal afiat.” Wallahu’alam bish shawwab. (MetroNews/Mukminun)

0 komentar:

Post a Comment