Polisi Tetapkan Dua Tersangka Dalam Kasus Penganiayaan Tiga Muslim Gandekan, Solo

Iwan Walet, Gembong Preman Gandekan Solo
Solo, Mukminun.com – Alhamdulilah wajib dipanjatkan oleh seluruh umat Islam karena dua preman Kristen radikal yang menganiaya tiga umat Islam di Gandekan, Solo, telah ditetapkan sebagai tersangka.

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Kapolresta Solo, Komber Pol Asjima’in, dalam sebuah konferensi press di Mapolresta Solo, Jumat (04/5) kemarin siang.

“Sudah ada dua tersangka berinisial I dan C. Dua orang tersebut sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Sekarang ditahan di Mapolresta Solo,” ujar Asjima’in.

Di hari yang sama, keterangan mengenai penetapan dua tersangka penganiaya tiga Muslim Solo juga keluar dari Juru Bicara Polresta Solo, AKP Sisraniwati.

“Untuk bentrokan hari pertama tanggal 3 Mei, kita tetapkan dua orang menjadi tersangka. Empat lainnya sebagai saksi kita amankan usai bentrok,” katanya.

Keterangan senada juga disampaikan oleh Ketua Front Pembela Islam (FPI) Solo, Ustadz Choirul R.S. yang menyempatkan diri mengunjungi kedua tersangka tersebut di Mapolresta Solo.

“Tadi sudah kami lihat, kami pastikan Iwan Walet sudah ditahan,” jelas Ustadz Choirul.

Menurut laporan yang lain, satu lagi tersangka yang mendampingi Iwan Walet di tahanan Mapolresta Solo adalah seorang preman Gandekan bernama Mardi.

Keterlibatan Iwan Walet sendiri memang sudah diduga oleh umat Islam di Solo Raya sejak hari pertama bentrok Solo yang berawal dari pengeroyokan preman-preman Pasar Tanggul, Desa Gandekan, Kec. Jebres, Solo pada Kamis (03/5) lalu.

Penyebab “Bentrok Solo”
Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa pada Kamis (03/5) pukul 14.00 WIB, pecah sebuah insiden dimana tiga Muslim di Solo dicegat dan dianiaya oleh puluhan preman Pasar Tanggul, Gandekan, Solo.

Cerita bermula ketika Sandi dan Tanto pergi melayat seorang Muslim di Solo, dan melewati basis ‘banteng merah’ tersebut.

Tak diduga bahwa ternyata ada beberapa preman yang mengetahui bahwa keduanya adalah anggota Tim Hisbah Solo yang tiga bulan lalu pernah melakukan sweeping anti-maksiat di daerah tersebut.

Para preman tersebut kemudian mengumpulkan massa dan mempersenjatai diri dengan senjata tajam dan benda-benda keras untuk mencegat Sandi dan Tanto.

Benar pula bahwa 30 menit kemudian keduanya pulang melayat dengan melewati jalan yang sama, dan sontak langsung dikeroyok oleh puluhan preman Kristen radikal yang telah pasang kuda-kuda.

Sementara Sandi menerima bacokan di leher dan punggun, Tanto sedikit lebih ringan karena hanya luka di tangan setelah menerima sabetan pedang para preman Gandekan, Solo.

Ternyata keributan tersebut membuat seorang Muslim awam yang sedang shalat di sebuah Masjid dekat TKP untuk mendekat ke lokasi kejadian.

Muslim awam tersebut adalah Agus Pamuji, seorang warga Polokarto, Sukoharjo. Ia berjalan menuju lokasi karena penasaran, namun na’as karena Agus juga dibacok dan dianiaya hingga terluka parah dan harus dilarikan ke RSUD Dr Muwardi.

Kepada Mukminun.com, saksi dari warga sekitar mengatakan bahwa setiap yang berpenampilan “jihad” (berbaju Muslim, berjenggot, dan celana ngathung) pasti akan selalu diincar.

Benar juga bahwa Agus Pamuji adalah sosok seorang Muslim awam yang berjenggot dan bercelana ngathung, sehingga kedatangannya ke TKP dikira para preman sebagai salah satu rekan atau anggota Tim Hisbah Solo.

Sepeda motor AD 5432 BZ milik Agus pun hangus dibakar oleh preman-preman tersebut hingga tak bersisa sedangkan hingga berita ini ditulis, Agus masih terkapar di RSUD Muwardi.

Menyusul insiden tersebut, ratusan jamaah Masjid Al-Muhajirin, Mojo, Semanggi, mengadakan long march dari Semanggi menuju Desa Gandekan dengan membawa pesan “jangan mendzhalimi umat Islam.”

Long march Jumat (04/5) itu bermula dengan damai dan tak ada bentrokan sama sekali, namun ternyata kehadiran ratusan umat Islam tersebut disambut dengan lemparan batu bom molotov dari preman-preman Kristen radikal anak buah Iwan Walet.

Hal ini mematahkan pemberitaan media-media mainstream yang sering menyudutkan umat Islam dengan memberitakan bahwa umat Islam-lah yang melakukan serangan terlebih dahulu.

Jika memang ada laporan yang menyebutkan bahwa ada dua korban luka yang jatuh setelah aksi long march umat Islam tersebut, maka keduanya adalah Ngatiman dan Haris, salah satu anak buah Iwan Walet yang memancing emosi umat Islam.

Penyelesaian “Bentrok Solo”
Walikota Solo, Jokowi, yang meninjau lokasi kejadian pada Jumat (04/5) sore menilai bahwa apa yang terjadi di Gandekan, Solo, tersebut tidak terkait isu SARA.

Ia hanya menilai bahwa kejadian tersebut diawali oleh adanya miskomunikasi antara kedua belah pihak yang sebenarnya tidak ada rasa dendam satu sama lain.

“Yaa semuanya itu hanya miskomunikasi. Tidak ada SARA, tidak ada dendam,” kata Jokowi.

Lebih lanjut Walikota Solo ini berjanji bahwa biaya perawatan Akhi Agus Pamuji, Haris dan Ngatiman akan ditanggung oleh Pemkot Solo.
Jokowi di Gandekan, Solo | Photo: Mukminun.com

Dari pihak umat Islam sendiri, Front Pembela Islam (FPI) Solo dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo telah berjanji untuk mengawal kasus tersebut hingga akhir.

FPI Solo dan MUI Solo yang diwakili oleh Ustadz Ahmad Dahlan dan Ustadz Choirul menghimbau pihak kepolisian Solo untuk bersikap adil dan transparan dalam menangani insiden ini.

“Kami akan mengawal proses hukum dalam kasus ini,” ujar Ustadz Ali Utsman dari MUI Solo.

Lebih lanjut Ketua Komisi Ukhuwah MUI Solo, Ustadz Dahlan juga menghimbau umat Islam di Solo Raya dan warga Gandekan untuk tidak terprovokasi.

“Kita harapkan semua tidak terprovokasi,” ujar beliau. (Solopos/Detik/Arrahmah/Irfan/Mukminun)

0 komentar:

Post a Comment