Inilah Bukti Bahwa Demokrasi Tidak Berlaku Jika “Menguntungkan” Islam

Kuwait City, Mukminun.com – Inilah bukti bahwa demokrasi yang digembar-gemborkan sebagai pengakomodir aspirasi semua rakyat, namun ternyata tidak berlaku jika “menguntungkan” Islam.

Pada Kamis (17/5), Amir Kuwait menolak proposal 31 dari 50 anggota parlemen Kuwait tentang amandemen konstitusi yang menuntut penyesuaian undang-undang Kuwait dengan hukum-hukum Islam.

Persetujuan dari Amir Kuwait Sheikh Sabah Al Ahmad Al Sabah sendiri memang sangat diperlukan untuk merubah konstitusi Kuwait yang sedikit banyak tidak sesuai dengan hukum Islam.

Pakar hukum Mohammad Al Dallal mengkonfirmasi hal tersebut dengan mengatakan, “Yang Mulia tidak sepakat.”

Proposal amandemen konstitusi Kuwait sendiri disusun oleh Blok Keadilan Islam dan ditandatangani oleh 31 anggota dewan.

Dallal, lebih lanjut, mengatakan bahwa pihaknya dan Blok Keadilan Islam masih memikirkan cara lain untuk meyakinkan Amir Kuwait.

“Kami harus berpikir lagi tentang bagaimana meyakinkan Amir (tentang hal ini) atau mengajukan (proposal) tersebut dalam bentuk yang lain,” kata Dallal.

Menurut Dallal, perubahan amandemen konstitusi Kuwait agar sesuai dengan syariat Islam merupakan aspirasi dari masyarakat Kuwait yang menurut pandangannya sebagai masyarakat yang konservatif.

“Masyarakati kami adalah sebuah masyarakat yang konservatif, banyak orang meminta agar hukum-hukum (yang ada di Kuwait) sejalan dengan Syariah. Kami (selama ini) tidak memiliki sistem politik yang tetap,” kata Dallal.

Upaya kelompok-kelompok Islam untuk mengajukan amandemen konstitusi Kuwait ternyata tidak hanya terjadi kali ini saja.

Mereka telah beberapa kali mengajukan proposal amandemen tersebut beberapa kali sebelumnya, menuntut perubahan pada pasal 79 sehingga satu-satunya sumber hukum bagi undang-undang di Kuwait adalah hukum Islam.

Kuwait sendiri merupakan negara dengan mayoritas Sunni dan Islam dijadikan sebagai satu-satunya agama resmi di negara tersebut.

Meski begitu, Kuwait terkenal sebagai sekutu terkuat AS di antara negara-negara teluk lainnya. Wallahu’alam bish shawwab. (Reuters/Mukminun)

0 komentar:

Post a Comment