Alhamdulila...! Doktrinisasi Feminisme Irshad Manji Di LKiS Dibubarkan

Yogyakarta, Mukminun.com - Irshad Manji, siapa suruh datang Indonesia. Di hari terakhirnya di Indonesia dalam rangka Roadshow buku terbarunya "Allah, Liberty, and Love," Irshad Manji dua kali ditolak umat Islam.

Di Yogyakarta, kota terakhir yang ia kunjungi, Irshad Manji sempat "diusir" oleh rektor UGM dan pada malam harinya, giliran Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang turun tangan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Irshad Manji sempat menggelar "diskusi" di Gedung Pasca Sarjana UGM, namun naas bahwa ternyata rektor UGM dan Direktur Pasca Sarjana UGM akhirnya mengeluarkan "fatwa" pembubaran doktrinisasi feminisme dan liberalisme ala Irshad Manji tersebut.

Tak kapok dengan kejadian Rabu (09/5) siang, Irshad Manji "digilir" untuk mengisi doktrinisasi paham liberalisme di kantor penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS).

Bertempat di kantor penerbit LKiS, di Jalan Pura I, Sorowajan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, acara doktrinisasi paham liberalisme dan feminisme Irshad Manji digelar tepat mulai pukul 19.00 WIB dengan jumlah peserta berkisar 50 orang.

Alhamdulilah bahwa 20 menit kemudian para pegiat Islam dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mendatangi kantor penerbit LKiS dan berhasil memiliki akses menuju ruang utama pegelaran diskusi tersebut.

Salah satu pegiat liberalisme yang menjadi panitia doktrinisasi tersebut mengungkapkan bahwa jumlah anggota Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang mendatangi acara tersebut berkisar 50-an orang.

"Yang masuk 50-an orang, tapi yang di luar masih ada. Total ada ratusan," kata aktivis liberalisme Olivia.

Inilah kenangan "terburuk" bagi Irshad Manji di Indonesia dengan menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan terakhirnya menyebarkan doktrin feminisme dan liberalisme.

Benar, dalam "diskusi" terakhirnya di Indonesia, Irshad Manji mendapat "hadiah" luka di kakinya karena terkena pecahan kaca, berikut luka di hatinya karena terus-menerus mendapat penolakan baik di Solo, Jakarta, maupun Yogyakarta.

Acara di LKiS sendiri selesai secara tidak hormat pada pukul 20.00 WIB, dan kepolisian setempat melakukan olah TKP pada pukul 20.30 WIB.

Dalam keterangan persnya kepada media massa, Irshad Manji menyebut para pegiat Islam yang ingin menyelamatkan aqidah dan akhlak umat Islam Indonesia ini dengan sebutan "preman berjubah agama."

Ia juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Indonesia yang telah banyak berubah dalam kurun waktu empat tahun terakhir, atau terakhir kali Irshad Manji menginjakkan kakinya di Indonesia.

"Namun sekarang banyak hal berubah..." kata Irshad Manji.

Benar saja jika kemudian umat Islam di Indonesia saat ini lebih kritis dan lebih cerdas dalam membendung arus pemikiran liberalisme dan feminisme seperti yang selama ini dikampanyekan oleh Irshad Manji.

Bahkan ketua RT Sorowajan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pun seolah keberatan dengan apa yang disampaikan oleh Irshad Manji kala itu hingga beliau menyebut bahwa pegelaran tersebut diselenggarakan tanpa ijin dari Ketua RT setempat.

Arif SM, ketua RT 9/11, Sorowajan, mengungkapkan bahwa acara Irshad Manji di LKiS tidak dimintakan ijin beberapa hari sebelumnya, padahal beliau mengaku bahwa markas peneribit buku-buku liberalisme itu sering mengirim surat ijin mengadakan acara.

"Biasanya dari LKiS selalu mengirim surat beserta undangan untuk saya dan warga," ungkap Arif.

Sultan HB X Yogyakarta pun sebenarnya sudah mewanti-wanti agar setiap pegelaran yang diadakan di Yogyakarta hendaknya tidak menimbulkan keresahan di masyarakat, termasuk pegelaran diskusi Irshad Manji yang ternyata banyak menimbulkan penolakan dari masyarakat.

"Apa artinya diskusi yang hanya membahas isu yang dampaknya akan menimbulkan keresahan pada masyarakat," kata Sultan HB X.

Lantas sekarang, masihkan anda berani ke Indonesia lagi, Manji? (MedIndo/Mukminun)

0 komentar:

Post a Comment