Al-Azhar: Syiah Huseiniyah Ancam Stabilitas, Persatuan Mesir

Kairo, Mukminun.com – Ulama besar Mesir pada Senin (21/5) merekomendasikan penutupan sebuah tempat ibadah umat agama Syiah Huseiniyah yang dianggapnya dapat menimbulkan ketidakstabilan di Mesir.

Sheikh Ahmad Al-Tayyeb, rektor Universitas Al-Azhar, juga sempat bertemu dengan rombongan jamaah Syiah Huseiniyah dari Iran sehari setelah beliau menggelar rapat dengan kelompok Ikhwanul Muslimin dan Salafy di Mesir untuk membahas berdirinya sebuah masjid Syiah di perkampungan warga Iran di Mesir.

Kepada rombongan Iran tersebut, Sheikh Ahmed al-Tayyeb mengatakan bahwa Al-Azhar menolak segala macam kedok Syiah Huseiniyah di Mesir karena dapat memberikan dampak negatif terhadap kestabilan di Mesir.

Beliau juga menambahkan alasan terhadap penolakan Syiah Huseinyah dengan berasumsi bahwa keberadaan Syiah Huseiniyah di Mesir dapat memecah belah umat Islam di Mesir.

Mahmoud Azab, salah satu penasihat Sheikh Ahmed al-Tayyib, mengatakan bahwa pendirian al-Azhar mengenai Syiah Huseiniyah bukan berarti menentang Syiah, melainkan sebuah upaya menjaga persatuan dan stabilitas di Mesir.

“Kami tidak menentang Syiah. Mereka boleh melakukan apa saja mereka mau di negara-negara mereka, namun jika kami mendekat ke mereka, kami tidak mau mendengar adanya penghinaan terhadap para Sahabat,” ungkap beliau merujuk pada ulah penganut Syiah yang cenderung mencela para Sahabat, kecuali Sahabat Ali Bin Abi Thalib.

Di Mesir sendiri, upaya rekonsiliasi antara agama Islam dengan agama Syiah pernah dilakukan, yakni dengan dikeluarkannya “Amman Message” yang memutuskan bahwa Syiah termasuk bagian dari mahzab-mahzab dalam Islam seperti mahzab Syafi’i, Hambali, Hanafi, dan Maliki.

Meski begitu, “Amman Message” sendiri masih banyak diperdebatkan, terutama mengingat keterlibatan David Cameron, mantan PM Inggris, dalam “Amman Message” tersebut.

Selain itu, sekte Syiah sendiri merupakan hal yang selalu dianggap tabu bagi masyarakat Islam di Mesir mengingat asosiasi Syiah yang dekat dengan Iran dimana Iran dan Mesir tidak terjalin hubungan diplomatis yang harmonis sejak “revolusi” Syiah pada tahun 1979.

Penolakan terhadap keberadaan Syiah di Mesir juga diungkapkan salah satu calon presiden Mesir, Abdel Moneim Abul Fotouh, yang mengatakan bahwa Syiah tidak boleh diijinkan di Mesir, sedang satu capres Mesir dilaporkan merupakan seorang penganut agama Syiah. Wallahu’alam bish shawwab. (Middleeast/Mukminun)

0 komentar:

Post a Comment