Wah, Seminar Anti-Islam Digelar di Universitas Temple Philadelphia


Philadelphia, Mukminun.com – Perhatian Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) cabang Philadelphia kini tengah ditujukan pada Universitas Temple yang rencananya akan menggelar sebuah seminar Anti-Islam.

Tepatnya tanggal 23 April 2012 mendatang, beberapa mahasiswa Universitas Temple akan menggelar “Islamic Apartheid Conference” yang disinyalir menjadi ajang menumbuhkan stigma negatif tentang Islam.

Pasalnya, mereka yang menjadi pembicara dalam acara tersebut adalah tokoh-tokoh yang dikenal dengan sikap mereka yang anti-Islam, seperti seorang pembicara bernama Darwish yang pernah mengatakan bahwa “Islam adalah racun bagi masyarakat.”

Tak luput pula diundang sebagai pembicara untuk acara tersebut adalah pemimpin-pemimpin organisasi anti-Islam dan mereka pihak-pihak yang namanya disebut sebagai pendukung Anders Behring Breivik, pentolan Kristen Radikal yang membunuh 77 warga sipil Kristen dengan alasan membendung laju pertumbuhan Islam di Eropa.

Darwish sendiri, yang kiranya akan menjadi keynote speaker dalam acara tersebut, terekam video pernah berkata, “Islam adalah racun bagi masyarakat… Islam harus ditakuti, harus diperangi, dan harus ditaklukkan, dan dikalahkan, dan dimakzulkan…”

Bahkan lebih parahnya lagi, dalam video tersebut Darwish yang berasal dari Florida ini juga menyebut bahwa Islam adalah suatu agama yang dibangun atas kebohongan-kebohongan, bukan kebenaran.

“Islam didasarkan pada kebohongan-kebohongan dan Islam tidak didasarkan pada kebenaran. Saya tidak ragu lagi bahwa Islam akan hancur,” katanya.

Di lain waktu kepada harian New York Times, Darwish juga pernah menghina Islam dengan berkata, “Masjid bukanlah tempat ibadah. Masjid adalah tempat dimana perang dimulai, dimana perintah Jihad berawal, dimana penghasutan melawan non-Muslim terjadi. Masjid adalah tempat dimana amunisi tersimpan.”

Naudzubillahi min dzalik…!

Pihak CAIR sendiri menanggapi rencana konferensi Islam apartheid tersebut dengan nada menantang.

Mereka mengaku kecewa bahwa acara ‘murahan’ tersebut bisa diijinkan untuk digelar di seatu ‘universitas yang prestisius,’ di Universitas Temple.

“Pidato kebencian seharusnya dijauhkan dari lingkungan masyarakat kita, bukan malah diberikan tempat di suatu universitas yang prestisius,” kata Direktur Eksekutif CAIR Philadelphia, Moein Khawaja.

Sebenarnya, bagi pihak CAIR, bukan penyelenggaraan acara tersebut yang menjadi masalah, melainkan akibat yang ditimbulkan dari acara tersebut, yakni dikhawatirkan akan muncul kedzhaliman terhadap mahasiswa Muslim yang sedang menempuh studi di Universitas Temple.

“Kami berkonsentrasi mengenai sebuah lingkungan pembelajaran yang rawan yang mungkin tercipta bagi mahasiswa dan karyawan Muslim di sana dengan diadakannya acara kebencian tersebut,” ungkap Akhi Moein Khawaja. Wallahu’alam bish shawwab. (MarketWatch/Mukminun).

0 komentar:

Post a Comment