MIUMI Yakinkan Kemenag RI tentang Kesesatan Syiah


Jakarta, Mukminun.com – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) pada Senin (17/4) kemarin kembali mendatangi kantor kementrian agama Republik Indonesia untuk meyakinkan para pejabat di Kemenag tentang kesesatan Syiah.

Diwakili oleh Sekjen MIUMI, Ust Bachtiar Nasir, Ust Fahmi Salim Zubair, Ust Muchlis Hanafi, dan Ust Zaitun Rasmin, MIUMI secara resmi menyampaikan empat hasil penelitian mendalam tentang kesesatan sekte Syiah.

Empat hasil penelitian yang diberikan kepada pihak Kemenag RI tersebut antara lain: (1) buku “Syiah di Sampang,” karya Ust Ahmad Rafi’i Damyanti; (2) buku “Himpunan Fatwa dan Pernyataan Tokoh dan Ulama Indonesia” tentang Syiah’ (3) dokumentasi (clipping) buku-buku Syiah Indonesia; dan (4) buku “Himpunan Fatwa DR Yusuf Al Qaradhawi tentang Syiah.”

Pihak Kemenag RI sendiri mengakui bahwa mereka masih “meraba dalam gelap” tentang kesesatan Syiah, sehingga dengan hadirnya buku-buku tersebut, mereka menghaturkan sangat terima kasih.

Sebagai tindak lanjut dari laporan pihak MIUMI tentang kesesatan Syiah tersebut, pihak Kemenag RI berjanji akan segera menindaklanjuti dengan mengeluarkan sikap nyata terhadap Syiah.

“Terimakasih (kepada MIUMI), informasi yang semula meraba dalam gelap kian terbuka,” ujar Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Prof DR Abdul Jamil.

Dalam silaturahmi MIUMI dengan Kemenag RI tersebut, Wasekjen MIUMI, Ust Fami Salim Zubair juga menyampaikan sedikit rekomendasi tentang bagaimana harus bersikap terhadap Syiah.

Dalam pemaparan beliau, masih ada sedikit kemungkinan Syiah dan Sunni bisa hidup berdampingan, asalkan Syiah berkenan untuk mengakui kebenaran Al-Quran dan menghentikan celaan dan hujatan mereka terhadap para Sahabat Nabi.

“Ada empat syarat agar Syi’ah bisa berdamai dengan kalangan Sunni. Pertama, akui secara tegas bahwa Al-Quran itu otentik (tidak mengalami tahrif).  Kedua, hentikan caci-maki terhadap sahabat-sahabat dan istri Rasul Saw. Ketiga, Syiah tidak boleh menyebarkan fahamnya di tengah komunitas Sunni.  Keempat, mesti ada pengakuan terhadap hak-hak kaum minoritas baik itu Sunni maupun Syiah,” paparnya mengutip pernyataan Dr. Yusuf Qaradhawi. Wallahu’alam bish shawwab. (Hidayatullah/Mukminun)

1 komentar: