Kenapa Musti Malu Berbuat Baik?


Irfan Nugroho
Lihatlah seorang (maaf) banci di jalanan. Ia dengan penuh percaya diri mengenakan baju wanita yang ketat, minin, dan make-up yang tak kalah tebal dengan badut ulang tahun.

Ia tetap percaya diri meski para pria yang melihatnya pasti akan muntah. Namun itu semua tetap ia lakukan demi uang, demi nafkah, dan demi makan.

Jika seorang banci saja tidak malu untuk berbuat demikian, kenapa engkau seorang wanita Muslimah justru malu mengenakan busana Muslim.

Bukankah itu lebih baik bagimu, jauh lebih baik dari sekedar uang karena engkau memiliki keimanan terhadap hari akhir, terhadap akhirat, terhadap surga dan neraka.

Oh, anakku… Jangan malu mengenakan busana Muslim. Jangan malu untuk mengenakan busana taqwa, karena itu adalah busana yang paling baik.

"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik," (Al-A’raaf: 26).Lihatlah penjual asongan yang tak segan-segan membiarkan dirinya terpapar sinar matahari yang panas di tengah hiruk pikuk kota metropolitan.

Tak peduli seberapa kusam wajahnya, sekusut apa bajunya, dan sekuat apa bau badannya, namun ia tidak malu menjajakan barang dagangannya untuk mendapatkan dunia, mendapatkan uang untuk sekedar bertahan hidup.

Jika memang demikian adanya keadaan seorang pedagang asongan, kenapa engkan, nak… Justru malu untuk kemudian sekedar membiasakan diri melangkahkan kaki ke Masjid setiap terdengar panggilan shalat, bertemu dengan saudara-saudara Muslimmu yang lain, dan meraih keutamaan shalat berjamaah.

Kenapa yang ada justru rasa malu dengan label pemuda ortodok, pemuda ‘sok suci,’ pemuda calon teroris, dan seabrek label buruk yang disematkan oleh mereka yang memiliki penyakit dalam hatinya.

Sungguh, nak… Kenapa musti malu berbuat baik?

Lihatlah seorang penjual ‘jasa’ seks komersial. Mereka normal manusia sepertimu, nak… Namun mereka tidak malu untuk berbuat sedemikian rupa hingga kemudian aurat, tubuh, dan kehormatannya ia jual untuk beberapa lembar uang yang tak akan pernah ia bawa ke liang lahat.

Jika para PSK saja tidak malu untuk berbuat demikian demi uang, demi dunia yang lebih hina dari bangkai kambing ini, maka kenapa engkau malu untuk menjual dirimu kepada Allah.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar,” (At-Taubah: 111).

Sungguh, nak… Kenapa musti malu berbuat baik? Wallahu’alam bish shawwab. (21 Jumadil Ula 1433H).

1 komentar:

  1. benar sobat,.. untuk berbuat baik dan beramal tidak harus menunggu kita kaya dahulu

    ReplyDelete