Kemuliaan Itu Hanya Dengan Bertakwa, Nak…


Irfan Nugroho
Nak, tahukah kau pada sosok Muammar Gadaffi? Ya, ia adalah pemimpin Libya selama lebih dari 30 tahun.

Ia dikenal sebagai sosok jendral yang piawai dalam strategi perang dengan badan yang tinggi tegap dan fashion yang eksentrik, namun lihatlah bagaimana kesudahan hidupnya.

Ia mati ditangan rakyatnya sendiri, ia bersembunyi di pipa saluran tinja, dan pakaiannya dilucuti sesaat sebelum ia diarak ke publik dan akhirnya ditembak pada kepalanya.

Lihat pula bagaimana kesudahan Husni “Ghairu” Mubarrak di Mesir, Ben Ali di Tunisia, dan segera menyusul, insyallah, adalah penguasa Suriah, Bashar al-Ashaad.

Beginilah kesudahan manusia yang mengira bahwa kemuliaan bisa diraih dengan jalan selain jalan taqwa kepada Allah dalam bendera Islam.

Jika kemudian engkau, nak… Hendak mencari kemuliaan selain dari jalan taqwa kepada Allah, maka pikirkan ulang keinginanmu tersebut.

Pikirkan ulang jika engkau ingin hidup mulia dengan menjadi seorang penyanyi terkenal dengan segudang penggemar dan harta melimpah.

Benar engkau akan mulia dengan menjadi seperti itu, namun ingatlah bahwa kemuliaanmu tersebut tidak akan bertahan lama melainkan akan padam bersama dengan perginya dirimu dari dunia fana ini.

Benar banyak orang akan menggemarimu dengan jalan seperti itu, namun ingatlah bahwa kelak ketika engkau tua, kulit mulai berkeriput, dan tubuh tidak seseksi di kala muda, siapa yang akan memujamu lagi?

Maka dari itu, nak… Belajarlah dari kenyataan bahwa kemuliaan hanya dapat diraih dengan senantiasa menjaga ketaqwaan kita kepada Allah.

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya,” (Fatir: 10).

Ketika engkau menghendaki kemuliaan, kekuatan, dan kemenangan di dunia ini plus kemenangan di akhirat kelak, maka tiada lain tiada bukan adalah dengan bertaqwa kepada Allah.

Inilah yang akan mengantarkan seseorang meraih tujuannya, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu di dunia dan di akhirat.

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,” (Fatihah: 01)

Lihatlah pada sosok Sahabat Nabi bernama Julaibib, yang dikala hidupnya tidak memiliki tempat tinggal melainkan Masjid sebagai tempatnya menginap dan air wudhu sebagai minumannya, namun Rasulullah mengatakan bahwa kedudukannya dengan Rasulullah adalah sangat dekat di akhirat kelak.

Bandingkan dengan Fir’aun dengan segala kekayaannya yang melimpah namun tidak ada sama sekali ketaqwaan dalam dirinya hingga kemudian hidupnya berakhir dengan tenggelam di Laut Merah.

Lihatlah bahwa Imam Ahmad Bin Hambal dengan segala kefakiran hartanya, namun beliau menjadi sosok yang mulia di kala hidup bahkan setelah beliau wafat pun jin yang merasuki tubuh manusia takut ketika diperlihatkan sandal yang biasa dipakai Imam Ahmad.

Lihat pula pada bagaimana mulianya sosok wanita bertaqwa yang menutupi aurat-auratnya dengan pakaian taqwa sehingga ia dinilai bukan hanya sekedar dari keseksiannya, kecantikannya, dan fisiknya, melainkan keluhuran akhlaknya.

Bandingkan dengan sosok wanita yang tidak memiliki ketaqwaan pada dirinya, sehingga bagian yang harusnya ia tutupi ia umbar dimana saja, dan kapan saja hingga kemudian pandangan manusia hanya tertuju pada tubuhnya semata, bukan pada akhlak dan budi pekertinya.

Lihatlah pada sosok pekerja yang dengan ketaqwaannya ia senantiasa maksimal dalam kerja dengan penuh amanat dan menghindarkan dirinya dari berbagai tindakan tercela semisal korupsi, menjilat dan lain sebagainya.

Bandingkan dengan beberapa manusia yang lebih memilih untuk mengesampingkan ketaqwaannya demi pangkat yang lebih tinggi meski harus menjilat atasan dan menginjak yang lain, atau demi sekedar uang suap meski harus rela memasukkan api ke dalam perutnya.

“Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan adalah kepunyaan Allah,” (An-Nisa: 139).

Naudzubillahi min dzalik. Maka dari itu, nak... Sadarilah bahwa kemuliaan hanya milik Allah jadi bertaqwalah engkau kepada Allah agar kemuliaan dunia dan akhirat engkau dapat kau genggam.

“Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya,” (Al-Munafiqun: 8). Wallahu’alam bish shawwab. (23 Jumadil Ula 1433 H).

4 komentar:

  1. wahhh keren nih...
    sudah jelas, selalu ingat Allah.

    ReplyDelete
  2. Hendak mencari kemuliaan selain dari jalan taqwa kepada Allah, maka pikirkan ulang keinginanmu tersebut.
    Subhanallah... sebuah kisah yang sangat mengena....

    ReplyDelete