Hindarilah Berselisih dengan Saudaramu Sesama Muslim, Nak…

Irfan Nugroho
Nak, akan ada suatu masa dimana engkau akan menemui seseorang yang benar-benar hobi menyelisihi pendapatmu, atau pendapat orang lain.

Akan tiba masanya engkau akan sering mendapat penolakan, sanggahan, dan bantahan dari teman dekatmu, atau pun dari istrimu/suamimu kelak ketika engkau dewasa nanti.

Bukan karena kesalahan yang kau perbuat, bahkan engkau telah mengajak pada kebenaran atau mengatakan suatu hal yang benar.

Namun memang di dunia ini ada manusia yang gemar dan bahkan hobi untuk menyelisihi pendapat orang lain atas dasar bersikap kritis atau hanya ingin sekedar tampil beda.

Karena memang inilah salah satu penyebab banyaknya pertikaian, perdebatan, dan tidak akurnya umat Islam akhir-akhir ini.

Mereka fanatik pada kelompok, partai, ustadz, kiai, atau sheikh tertentu hingga membuat mereka berpandangan picik lagi sempit lalu menjerumuskan mereka pada klaim bahwa hanya merekalah yang paling benar.

Bisa jadi engkau memutuskan untuk pergi ke kanan, dan temanmu tak setuju dan mengajak ke kiri.

Bukan karena ada sesuatu apa pun, tapi memang akan engkau temui seseorang yang memang hobi berselisih.

Maka bersabarlah ketika engkau mendapati temanmu menyanggah, “Hal tersebut boleh,” ketika engkau berkata, “Hal tersebut boleh karena ada ulama yang membolehkan.”

Atau, akan engkau temui suatu kelompok kaum Muslim yang akan senantiasa berbeda dari kelompok Islami lainnya, hanya karena memang mereka ingin selalu berbeda dengannya.

Bahwa memang ada suatu kelompok yang menganjurkan, (namun diungkapkan dengan bahasa ‘tidak mengharamkan’), para wanita Muslimah untuk memakai celana panjang.

Terlepas dari benar atau salah, bahwa memang ada kelompok lain yang dengan tegas mengharamkan celana panjang bagi wanita, kecuali celana panjang tersebut menjadi ‘dalaman’ rok. Wallahu’alam.

Maka dari itu, nak, bersabarlah dan berhati-hatilah dalam menyikapi hal sedemikian rupa.

Hindarilah fanatik berlebihan terhadap suatu kelompok, kiai, ulama, sheikh, ustadz, atau mahzab tertentu, karena hal tersebut akan menggiringmu untuk senantiasa berselisih dengan kelompok lain.

Padahal Rasulullah telah mewanti-wantimu untuk tidak menyelisihi saudaramu sesama Muslim jika senantiasa dalam koridor ketaqwaan kepada Allah.

“Jangan berselisih dengan saudaramu…” (HR Bukhari, Shahih, dalam Adabul Mufrad).

Ingatlah, nak… Senantiasa berselisih dengan saudaramu sesama Muslim tidak akan membawa manfaat apapun, justru hal tersebut hanya akan membuat barisan kaum Muslimin ini terlihat rapuh di mata musuh-musuh Allah.

Namun juga perlu kau ingat, nak… Berselisih dengan saudaramu sesama Muslim baru diperkenankan ketika saudaramu tersebut hendak melenceng dari jalan kebenaran.

Berselisihlah dengan bahasa yang halus dan penuh hikmah terhadap saudaramu yang secara tidak sadar atau pun sadar hendak mengajakmu untuk kemaksiatan.

Tak ada ketaatan pada makhluk dalam mendurhakai Sang Khaliq,” (HR Ahmad).

Hindarilah menyelisihi pendapat saudaramu sesama Muslim karena tanpa perselisihan pun, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,” (Al-Ashr: 02).

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan saling menasihati agar senantiasa menetapi kebaikan/kebenaran dan kesabaran,” (Al-Ashr: 03).


Ya… Ada perintah untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dalam Surat Al-Ashr ayat tiga tersebut, yang kemudian mengindikasikan bahwa hendaknya tidak ada penolakan, bantahan, dan sanggahan terhadap ajakan kebaikan dan nasihat sabar.

Ada satu cerita menarik tentang Surat Al-Ashr sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau.

Sahabat Amr bin Ash datang menemui Musailamah al-Kadzab (semoga Allah melaknatnya karena mengklaim sebagai seorang nabi penerus Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasalam).

Ketika menemui Sahabat Amr bin Ash, Musailamah bertanya, “Apa yang telah diwahyukan kepada temanmu (Rasulullah) saat ini?”

Sahabat Amr bin Ash menjawab, “Surat yang pendek dan sangat penuh makna telah diwahyukan kepada beliau.” Lalu Amr bin Ash membacakan Surat Al-Ashr tersebut.

Maka dasar memang Musailamah adalah “Imam” atau “Pemimpin” manusia yang hobi berselisih pendapat, maka kemudian ia mengatakan, “Sungguh, sesuatu yang mirip juga diwahyukan kepadaku.”

Lalu Musailamah Sang Pendusta ini memlesetkan bunyi dan isi Surat Al-Ashr dengan berkata, “Al-Wabr (hewan seperti kucing yang telinga dan dadanya besar). Kau hanyalah dua telinga dan satu dada, dan sisanya darimu adalah sekedar menggali tanah dan bersembunyi di dalam tanah galianmu.”

Maka Amr bin Ash menjawab, “Demi Allah! Sungguh kamu sedang berbohong!

Nak, inilah Musailamah sang pendusta. Bahkan ayat-ayat Allah ia selisihi, ia ganti ayat-ayat suci tersebut seenak perutnya sendiri tanpa memikirkan resiko yang akan ditanggungnya kelak di hari pembalasan.

Maka dari itu, nak… Hindarilah darimu menyelisihi ajakan kebaikan. Janganlah engkau menjadi makmum (pengikut) di belakan Musailamah sang pendusta.

Cukuplah engkau dengar dan taat terhadap berbagai seruan kepada kebaikan. Jangan kau jadikan ‘kritis’ sebagai alasan untuk membenarkan penolakanmu terhadap ajakan kebaikan. Wallahu’alam bish shawab. (15 Rabi’ul Akhir 1433 H)

4 komentar:

  1. Hindarilah darimu menyelisihi ajakan kebaikan. Janganlah engkau menjadi makmum (pengikut) di belakan Musailamah sang pendusta.

    Cukuplah engkau dengar dan taat terhadap berbagai seruan kepada kebaikan. Jangan kau jadikan ‘kritis’ sebagai alasan untuk membenarkan penolakanmu terhadap ajakan kebaikan.

    ReplyDelete
  2. alhamdulillah...bagus sekali artikel abang...memng kita harus menghindari segala bentuk perselisihan diantara sahabat kita... agar kita selalu dilimpahi rahmat oleh Allah...
    nice post bang..semoga berkah

    ReplyDelete
  3. Jika memang untuk mencari kebenaran, mungkin perdebatan dalam diskusi sangat diperlukan. Tetapi jangan sampai menimbulkan perpecahan. Karena semua muslim adalah saudara :)

    ReplyDelete
  4. berselisih dengan kebenaran Al-Quran( firman Allh) sungguh dia dalam kesesatan nyata....

    ReplyDelete