Harmoni Kaum Tua dan Generasi Muda

Irfan Nugroho
Berawal dari sebuah forum diskusi dengan sesama pengampu Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di kampong hingga kemudian mengerucutlah sebuah kesimpulan bahwa stagnasi aktivitas TPA selama ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya kepedulian tentang pendidikan Islam baik dari para orang tua maupun dari para pemudanya.

Kewajiban mencari nafkah, dan beratnya belenggu ekonomi, kemudian, hendaknya tidak menjadi legitimasi atas kekurang-pedulian (atau ketidak-pedulian) para orang tua untuk menanamkan rasa cinta Al-Quran pada diri anak-anak mereka sedini mungkin.

Maka menjadi sebuah hal yang wajar, kecuali bagi mereka yang mendapat hidayah-Nya, bahwa saat ini banyak pemuda/pemudi yang jauh dari nilai-nilai Islami, mulai dari gaya hidup hedonism, sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan, dan degradasi moral di antara mereka.

Islam, sebenarnya, telah memberikan pedoman bagi tiap-tiap orang tua Muslim agar senantiasa mengarahkan keluarga mereka kepada ketaatan kepada Allah. Sebut saja dari mulai Surat At-Tahrim Ayat enam:

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan," (At-Tahrim: 6).

Dan yang menjadi pertanyaan adalah, “Belumkah sampai kepada masyarakat kita tentang pentingnya mendidik keluarga seperti yang tersurat dalam ayat tersebut?”

Maka jawaban yang sering muncul adalah, “Sudah.” Namun yang menjadi kendala, sekali lagi, adalah belum dibukanya pintu hidayah dari Allah untuk tumbuhnya kesadaran dari para orang tua untuk sedikit ‘lebih cerewet’ kepada anak-anak mereka dalam urusan shalat, mengaji, belajar agama, dan akhlak-akhlak Islami.

Atau memang belum ada upaya dari beberapa orang tua saat ini untuk menjemput terbukanya pintu hidayah dari Allah.

Ada seorang ayah mengeluh kepada seorang ulama tentang kenakalan anaknya, namun ternyata sang ayah tersebut juga tidak pernah menasihati, membimbing, dan mengarahkan anaknya kepada Islam lantaran kesibukan beliau mencari penghidupan.

Agama ini mengajarkan bahwa urusan mencari rezeki hendaknya tidak menjadi alasan untuk kurang peduli terhadap proses membimbing generasi muda ini kepada Islam; karena memang rezeki adalah pemberian Allah seperti yang tertuang dalam Surat Taaha Ayat 132:

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa," (Taaha: 132).

Tidak dipungkiri bahwa memang kesibukan mencari rezeki bagi beberapa orang tua kadang menjadi alasan atas kurangnya kepedulian terhadap pendidikan yang Islami bagi para generasi muda.

Menuju Harmoni Orang Tua dan Anak Muda
Kondisi di atas makin parah dengan adanya kesalahan dalam mengartikan kasih sayang dari orang tua kepada anak; dan juga hormat kepada orang tua oleh anak muda.

Dalam banyak kesempatan, sering ditemui beberapa orang tua enggan untuk membangunkan anak-anak mereka shalat subuh tepat waktu dengan alasan ‘kasihan.’

Atau beberapa orang tua enggan untuk sedikit rewel kepada anak muda setelah melihat kenyataan bahwa mereka mulai terjangkit salah satu virus kemunafikan, yakni bermalas-malasan dalam shalat.

Jika memang seperti inilah kasih saying orang tua kepada anak diartikan, dikhawatirkan akan timbulnya pendapat Rasulullah bukanlah manusia yang berkasih sayang karena memerintahkan para orang tua untuk memukul anak-anak mereka yang telah berusia tujuh tahun atau lebih namun tidak shalat.

Di sisi lain, ada rasa ‘pekewuh’ dari beberapa generasi muda untuk mengajak orang tua mereka yang selama ini sering melalaikan perintah agama kepada ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Padahal ketaatan terhadap orang tua bukanlah bersifat mutlak sehingga hanya dalam perintah-perintah taqwa saja para generasi muda wajib taat kepada orang tua.

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku...," (Luqman: 15).

Hormat kepada orang yang lebih tua bukan berarti toleran terhadap segala kemaksiatan yang dilakukan oleh golongan tua. Hormat kepada orang tua pun telah diajarkan oleh Rasulullah, dan dicontohkan dengan sangat apik oleh para pendahulu, generasi terbaik dari umat ini.

Sahabat Ali bin Abi Thalib harus rela ketinggalan shalat berjama'ah karena hormatnya kepada seorang tua renta yang berjalan sangat pelan menuju masjid sehingga ia pun harus bersabar berjalan di belakang orang tua renta tersebut.

Suatu ketika di masa Imam Abu Hanifah ada seorang yang meninggal dunia. Dan didapati bahwa di rumah orang ini telah berdesak-desakan banyak manusia di dalamnya. Datanglah Imam Abu Hanifah di antara keramaian tersebut. Lalu, Abdullah bin Idris berdiri dari tempat duduknya dan mempersilahkan Imam Abu Hanifah duduk di samping Abdullah bin Idris.

Melihat kejadian ini, Abu Bakar bin Iyasy tidak setuju dan protes kepada Abdullah bin Idris. Maka Abdullah bin Idris menjawab, “Kalaulah aku tidak berdiri karena ilmunya, maka aku bias berdiri karena umurnya.”

Dari sini perlu upaya mewujudkan harmoni golongan tua dan generasi muda. Sedang harmoni ini sendiri akan terwujud bila golongan tua menyayangi generasi muda, dan para generasi muda hendaknya senantiasa menghormati golongan tua.

Inilah salah satu pondasi penting untuk membangun keluarga dan masyarakat yang Rabbaniyun.  Saking pentingnya konsep ini, hingga kemudian Rasulullah mengancam siapapun yang tidak mengamalkannya sebagai golongan di luar golongan kaum Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam.

"Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda," (HR Al-Hakim & At-Tirmidzi – Hasan). Wallahu ‘alam bish shawab.