Belajar dari Pak Rebo & Ibnu Ummi Maktum tentang Istiqamah Shalat Berjama'ah

Irfan Nugroho
Suatu saat di desa Karang Tengah, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, seorang pria paruh baya dengan perawakan tegap dan rambut cepak menghidupkan microphone Masjid dan mengumandangkan adzan.

Adzan merdu itu pun selesai dan pria tersebut melaksanakan shalat sunnah dua rakaat diikuti dengan mengangkat tangan sambil berdoa karena doa yang diucapkan antara adzan dan iqamah akan terkabul.

Lima belas menit berlalu, tak ada lagi umat Islam yang mendatangi Masjid tersebut, memenuhi panggilan shalat, panggilan menuju kemenangan yang dilantunkan oleh pria tersebut, hingga akhirnya, beliau melakukan iqamat dan menjadi imam.

Subhanallah…! Ternyata sang Mu’adzin, imam, penjaga Masjid, dan teramat sering beliau pula yang menjadi satu-satunya jama’ah di Masjid itu adalah seorang yang menderita kebutaan sejak kecil. Beliau adalah Pak Rebo.

Mungkin beliaulah representasi dari sosok Ibnu Ummi Maktum di zaman modern.

Baiklah, nak… Dulu pernah ada seorang Sahabat bernama Ibnu Ummi Maktum datang menemui Rasulullah, dan meminta izin kepada beliau untuk tidak melaksanakan shalat secara berjama’ah.

Namun Rasulullah tidak memberikan izin dan berkata kepadanya, “Apakah engkau mendengar ‘Hayya ‘alash shalat… Hayya ‘alal falakh…’? Kalau engkau mendengarnya, maka datanglah shalat berjama’ah,” (HR Abu Daud, Hasan).
Padahal, nak… Tahukah engkau siapa itu Ibnu Ummi Maktum? Ya, sahabat yang juga memiliki nama Amr Bin Qais ini adalah seseorang yang menderita kebutaan, dan kota Madinah saat itu penuh dengan ular, kalajengking, dan binatang buas lainnya.

Nak… Sahabat Abu Hurairah pernah bercerita (dan cerita ini dicatat oleh Imam Muslim) bahwa ada seorang lelaki buta mendatangi Rasulullah dan meminta izin agar diperbolehkan tidak mendatangi shalat berjama’ah.

Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai seorang pembimbing pun yang dapat membantu saya untuk pergi ke Masjid,” kata sahabat yang buta tersebut.

Apakah engkau mendengar suara adzan?” Tanya Rasulullah kepadanya ketika sahabat tersebut hendak pergi.

Iya, Rasulullah,” jawabnya.

Maka Rasulullah bersabda, “Kalau begitu penuhilah panggilan adzan tersebut,” (HR Muslim).

Konon lelaki dalam cerita sahabat Abu Hurairah tersebut juga adalah Amr Bin Qais Ibnu Ummi Maktum yang kedua kalinya meminta izin dari Rasulullah untuk tidak menghadiri shalat berjama’ah karena kebutaannya.

Namun dengan nasihat Rasulullah agar istiqamah menjaga shalat berjama’ah tersebut, maka Amr Bin Qais akhirnya menjadi mu’adzin kedua setelah Bilal Bin Rabbah.

Putra sahabat Umar bin Khattab (Ibnu Umar) menyaksikan sendiri bahwa, “Rasulullah mempunyai dua orang mu’adzin, Bilal bin Rabbah dan Amr bin Qais Ibnu Ummi Maktum yang buta,” (HR Imam Muslim).

Subhanallah…! Beginilah sosok Ibnu Ummi Maktum, yang meskipun menderita kebutaan, beliau tetap menjaga shalat berjama’ah dan akhirnya dipercaya menjadi mu’adzin di Madinah kala itu.

Sama halnya dengan Ibnu Ummi Maktum, Pak Rebo adalah seorang yang buta, namun beliau secara istiqamah menjaga shalat berjama’ah, juga menjadi mu’adzin, dan kadang juga menjadi imam dan jama’ah Masjid tersebut.

Nak, inilah pentingnya shalat berjama’ah, hingga seorang seperti Pak Rebo dan Ibnu Ummi Maktum yang buta pun tidak mendapat keringanan untuk tidak menghadiri shalat wajib secara berjama’ah di Masjid.

Nak, ambilah pelajaran dari sosok Pak Rebo, yang meski menderita kebutaan namun beliau tetap istiqamah menjadi mu’adzin, istiqamah menjalankan shalat, dan yang paling istimewa, beliau senantiasa menjaga shalat wajib secara berjama’ah.

Nak,  engkau seharusnya malu pada sosok Ibnu Ummi Maktum yang menderita kebutaan tapi istiqamah menjalankan shalat berjama’ah meskipun jalanan di Madinah saat itu penuh dengan semak-semak, ular, kalajengking, dan binatang buas.

Nak, akan kau temui dari umat Islam ini manusia yang masih muda, sehat, dan memiliki dua mata yang sempurna, tanpa ada cacat sama sekali, namun berat terasa kaki mereka untuk melangkah ke Masjid memenuhi panggilan shalat?

Hindarilah menjadi pemuda yang malas shalat berjama’ah karena engkau muda, engkau sehat, dan dua mata yang sehat pun masih menempel di kepalamu.

Nak, belajarlah dari sosok Pak Rebo dan Ibnu Ummi Maktum tentang istiqamah menjaga shalat berjama’ah. Wallahu’alam bish shawwab. (21 Rabi’ul Akhir 1433 H).

3 komentar:

  1. Nak, ambilah pelajaran dari sosok Pak Rebo, yang meski menderita kebutaan namun beliau tetap istiqamah menjadi mu’adzin, istiqamah menjalankan shalat, dan yang paling istimewa, beliau senantiasa menjaga shalat wajib secara berjama’ah.

    ReplyDelete
  2. Wah sangat bermanfaat sob

    Visit today,,, please visit back

    ReplyDelete
  3. Visiting here again.... have a great weekend...Smile!!!
    Drain Camera

    ReplyDelete