Sabar, Istiqamah, dan Jangan Tergesa-gesa dalam Dakwah


Oleh: Ust. Eman Badru Tamam
Dari Abu Abdullah, yaitu Khabbab bin Aratti radhiyallahu anhu, katanya: “Kami mengadu kepada Rasulullah dan beliau ketika itu sedang istirahat berbantalkan burdah di bawah naungan Ka'bah. Kami berkata kepada beliau: Mengapa tidak engkau mohonkan pertolongan kepada Allah untuk kita agar menang, ya Rasulullah? Mengapa engkau tidak mendoakan hal tersebut itu untuk kita?" Beliau lalu bersabda: "Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelummu, ada seorang yang diculik oleh musuh Allah karena ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah gergaji maka digergajilah kepalanya, seterusnya hingga kepalanya itu terbelah menjadi dua. Selain itu ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga daging dan tulangnya terlihat, namun semua siksaan itu tidak memalingkan mereka dari agamanya. Demi Allah sesungguhnya Allah akan menyempurnakan agama ini hingga ada seorang yang berjalan kaki dari Shan'a ke Hadhramaut dengan rasa aman tanpa ada yang ditakuti melainkan Allah seperti takut kambing atas serigala. Tetapi kalian terburu-buru,” (Riwayat Bukhari)

Dalam hadist di atas, juga terdapat pelajaran sabar, yakni sabar dalam menunggu masa dimana Allah akan menyempurnakan agama Islam di atas muka bumi ini.

Oleh karena itu, dalam menjawab pertanyaan sahabat tersebut, Rasulullah memulainya dengan mengisahkan siksaan-siksaan yang diterima oleh umat-umat terdahulu.

Memang sudah mashyur bahwa pada masa-masa awal Islam di Mekkah, kaum Muslimin pengikut agama tauhid ini sering mengalami kedzhaliman dari kaum Quraish, sebagaimana yang diceritakan oleh Rasulullah dalam hadist tersebut di atas.

Siksaan kaum kafir Quraish sangat beraneka ragam, seperti memberikan julukan-julukan buruk terhadap Rasulullah; seperti julukan bahwa Rasulullah adalah seorang yang gila (At-Takwir: 22).

Namun kemudian Rasulullah tetap sabar, dan tegar di jalan dakwah hingga kemudian datang pertolongan Allah dengan munculnya pemahaman di antara masyarakat Quraish saat itu bahwa sifat-sifat orang gila sama sekali tidak terdapat pada diri Rasulullah.

Adapun pada masa-masa sekarang, siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir terhadap umat Islam saat ini adalah ‘reka-ulang’ kekejian kaum Quraish zaman dahulu.

Jika dulu Rasulullah dijuluki seorang yang gila, maka kini para aktivis dakwah dijuluki sebagai, “Radikal, Wahabi, Teroris, Fundamental,” dan julukan lain sebagainya.Adapun jika pada masa lampau umat Islam disiksa dengan siksaan fisik yang sangat berat, maka hal yang hampir serupa dapat ditemukan juga di penjara Guantanamo, penjara-penjara di Bagram Afghanistan, dan di banyak tempat lainnya.

Sumpah Janji Rasulullah bahwa Islam akan MenangJawaban Rasulullah terhadap pertanyaan sahabat Khabbab bin Aratti merupakan sebuah sumpah, janji dari Allah dan Rasul-Nya bahwa Islam pada akhirnya tetap akan menang.

Demi Allah sesungguhnya Allah akan menyempurnakan agama ini hingga ada seorang yang berjalan kaki dari Shan'a ke Hadhramaut akan merasa aman tanpa ada yang ditakuti melainkan Allah seperti takut kambing atas serigala,” (HR Bukhari).

Perlu dicatat bahwa penggunaan “Shan’a hingga Hadhramaut” hendaknya tidak diartikan secara literal, bahwa hanya segitulah wilayah persebaran Islam.

Penggunaan klausa tersebut adalah sebuah kiasan bahwa benar-benar hukum Islam akan diberlakukan di seluruh penjuru dunia, hingga “seorang yang berjalan kaki dari Shan’a ke Hadhramaut akan merasa aman tanpa ada hal-hal yang perlu ditakuti selain takut kepada Allah.”Rasulullah pun juga membuat kiasan dengan menggunakan kaidah alam, yakni takutnya kambing atas serigala sebagai gambaran bagaimana seorang Muslim itu takut terhadap Allah.

Kambing yang takut kepada serigala merupakan hal yang wajar, dan oleh karena itu, hendaknya seorang Muslim itu hanya takut kepada Allah.

Pesan Sabar kepada Aktivis Muslim
Maka disini ada pelajaran kepada para dai dan aktivis dakwah bahwa hendaknya hanya takut kepada Allah, bukan kepada yang lain.

Hanya saja, untuk meraih kemenangan seperti yang dijanjikan Allah ini tidak akan instan (cepat), karena ada tuntutan sabar di dalamnya.

Jika seorang aktivis dakwah menginginkan adanya perubahan instan (revolusi), maka tidak akan ada bedanya dengan sikap ‘terburu-buru’ yang terdapat pada sahabat Khabbab bin Aratti.

Sungguh, Allah dan Rasul-Nya tidak menyukai sikap terburu-buru sehingga Rasulullah dengan jelas menjuluki sahabat Khabbab bin Aratti dengan, “Kalian terburu-buru.”

Maka dari itu, hendaknya seorang aktivis Muslim senantiasa bersabar ketika menghadapi tentangan, ujian, cobaan, dan kedzhaliman para musuh-musuh Allah.

Dalam sabar tersebut, ada perintah untuk mengharap pahala dan permohonan agar dosa-dosanya diampuni, serta menunggu pertolongan Allah datang.

Selain itu, seorang aktivis Muslim hendaknya tidak bertanya (baca: mengeluh), “Sampai kapan akan menunggu?”

Maka jawaban atas keluhan seperti ini adalah, “Jangan tergesa-gesa jika memang masih ada banyak kesalahan disana-sini. Jika masyarakat awam belum paham tentang perkara-perkara dasar tentang Islam, hendaknya jangan buru-buru mengajak mereka berjihad dengan dalih bahwa jihad telah wajib,”

“Semua urusan dalam Islam ada tahapan-tahapannya, sehingga tidak mungkin kitab Bulughul Maram dimulai dengan Bab Jihad, melainkan Bab Thaharah; atau kitab Riyadhus Shalihin juga tidak mungkin dimulai dengan Bab Khilafah, melainkan Bab Ikhlas, Taubat, dan Sabar, karena memang seorang Mujahid tentu harus paham dan benar-benar mempraktekkan thaharah sebelum shalat, dan ikhlas dalam semua amalan, dan sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di jalan dakwah dan Jihad.”

Penjelasan dari Sheikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Salah satu bentuk kesabaran adalah sabar terhadap siksaan.

Oleh karena penyebab siksaan ada banyak, maka siksaan yang paling tinggi nilainya adalah siksaan yang dihadapi karena amaliyah jihad atau dalam rangka mengajak taat kepada Allah saja.

Dalam hal ini, seorang aktivis Muslim yang mendapat siksaan karena hal tersebut, maka ia akan memperoleh pahala dari dua sisi: (1) karena siksa yang diterimanya; dan (2) karena sabarnya terhadap siksa yang diterima.

Maka seorang aktivis Muslim hendaknya jangan diam diri ketika melihat keburukan, tapi kerjakan amar ma’ruf nahi munkar secara tegas yang dilandasi dengan perencanaan yang bagus, tertib, dan dengan cara yang penuh hikmah, lalu tunggulah kelapangan dari Allah dan janganlah seorang aktivis Muslim bosan dalam hal ini. Perjalanan masih panjang.

Jika seorang aktivis Muslim sedang mengalami masa-masa awal fitnah dan ujian, maka hendaklah ia bersabar dengan istiqamah di jalan dakwah.

Hal ini dikarenakan adanya keyakinan bahwa seorang aktivis dakwah akan sampai pada tingkat yang diinginkannya asal ia istiqamah.

Ingatlah, musuh-musuh Allah membuat makar, dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar.

Maka, bersabarlah dalam berdakwah, istiqamah-lah dalam berdakwah, dan jangan bertanya, “Kapan?” karena pertanyaan seperti itu adalah salah satu bentuk ketergesa-gesaan. Wallahu’alam bish shawab.