Pencekalan Lagu Jupe Paling Suka 69 di NTB: Kreatif Tak Harus Mesum

Irfan Nugroho
Mereka yang memiliki penyakit dalam hatinya, pasti akan merespon ajaran agama dengan berujar, “Gini dilarang, gitu dilarang, gini ga boleh, gitu ga boleh?”

Maka kemudian, jika menemui seorang yang mengaku Muslim namun gemar mabuk alkohol, katakanlah, “Ada banyak sekali air yang halal, boleh dan baik untuk diminum, namun kenapa anda meminum alkohol?”

Atau jika bertemu seorang yang mengaku Muslim namun gemar menyantap rica-rica anjing, maka jawablah, “Masih banyak makanan yang halal, jauh lebih sehat, jauh lebih enak, dan jauh lebih baik cara memasaknya daripada masakan rica-rica anjing.”

Fenomena serupa terjadi ketika Julia Perez, mengatakan bahwa pencekalan lagunya yang berjudul “Jupe Paling Suka 69” sebagai suatu bentuk pemasungan kreativitas. Seperti diketahui, lagu “Jupe Paling Suka 69” dan sepuluh lagu mesum lainnya dilarang diputar oleh semua media elektronik di provinsi Nusa Tenggara Barat.

Tak heran karena memang Nusa Tenggara Barat adalah sebuah provinsi yang dipimpin oleh seorang cendekiawan Muslim yang memperoleh gelar doktoralnya di Universitas Al-Azhar. Beliau adalah Tuan Guru KH DR Muhammad Zainul Majdi, MA. Dalam sebuah wawancara antara beliau dengan tabloid Suara Islam, beliau berkata,

“Persoalan kita (merosotnya akhlak dan moral umat Islam) saat ini hanya bisa kita selesaikan dengan menggali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kita (tradisi Islam), bukan dengan meminjan tradisi orang lain (non-Islam).”

Nah, wajar pula ketika mengetahui bahwa Komisi Penyiaran Indonesia Daerah tak gentar dan tak segan mengeluarkan ‘fatwa haram’ terhadap lagu-lagu mesum untuk diputar di media-media elektronik di seantero Nusa Tenggara Barat.

Apa yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) provinsi Nusa Tenggara Barat sungguh merupakan upaya yang sangat tepat sebagai upaya membendung arus degradasi moral anak bangsa.

Langkah inipun pantas mendapat dukungan dari semua lapisan masyarakat, terutama mereka para orang tua yang masih menginginkan akhlak dan moral anak mereka luhur dan mulia.

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (At-tahrim: 6).

Namun sayang, dan karena memang ada penyakit dalam hatinya, maka pengacara Julia Perez menanggapi hal tersebut dengan berujar,

“Kalau saya melihatnya seperti itu adalah bentuk pemasungan kreativitas...... Lagi pula lagu itu kan dipakai untuk mencari nafkah....”

Maka hendak saya katakan bahwa sebenarnya masih banyak ide lirik lagu yang jauh lebih sopan, jauh lebih beradab, dan jauh lebih ketimuran. Stigma masyarakat tentang “69” adalah negatif, alias mesum.

Jika kemudian Julia Perez mengartikan ‘69’ sebagai “take and give” dalam bercinta, maka ketahuilah bahwa argumentasi tersebut tidak merubah stigma negatif ini lantaran isi lirik lagu tersebut memang tak kalah mesum dari judulnya.

Ungkapan yang tepat adalah, “Seorang maling tidak pernah mengaku mencuri harta benda orang lain sebagaimana seorang koruptor tidak pernah mengaku korupsi di depan Komisi Pemberantasan Korupsi.”

Julia Perez dan pengacaranya mengatakan bahwa pencekalan lagu “Jupe Paling Suka 69” sebagai pengekang kebebasan ‘kreativitas.’ Jika memang kreatif, lantas kenapa tidak menciptakan lagu lain yang lebih ‘fresh’ karena saat ini banyak penyanyi dangdut yang ‘mendakwahkan’ dan mengkampanyekan lirik-lirik mesum.

Saya pun yakin bahwa mereka tahu dan paham bahwa saat ini memang penggemar lagu-lagu mesum sedang banyak-banyaknya maka komposisi lagu “Jupe Paling Suka 69” pun memang tak lebih dari sekedar ikut-ikutan.

Maka jika kemudian mereka berdalih bahwa hal tersebut adalah ladang ‘mencari nafkah’, semakin jelaslah bahwa hal yang dianggap ‘kreativitas’ itu adalah bukan murni atas dasar seni melainkan sekedar mengikuti arus ‘kapitalisme liberal’ dalam ilmu ekonomi.

Sungguh dunia telah mengakui bahwa puncak perkembangan ilmu dan kesenian adalah ketika Islam menguasai Andalusia (sekarang Spanyol) selama delapan abad. Inilah masa emas perkembangan ilmu pengetahuan. Inilah masa kejayaan kreativitas kesenian.

Namun perlu diingat, bahwa semua kesenian dan kreativitas yang berkembang pada saat itu pun ternyata tidak pernah menerobos pagar-pagar syariah. Artinya, para seniman Muslim zaman itu tetap berkreasi dengan nilai seni yang tinggi (tidak murahan dengan mengumbar aurat), namun senantiasa dalam koridor syariah.

Bisa jadi para seniman Muslim abad-abad itu sangat memahami bahwa berkreasi, berseni, dan mengembangkan ilmu pengetahuan hendaknya tidak membuat diri mereka terancam oleh siksa neraka.

Dalam artian, mereka tidak menginginkan hasil seni mereka bernilai haram, karena ”Tiap tubuh yang tumbuh dari makanan yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya,” (HR At-Thabrani).

Jadi, berkreativitas dan berseni tidak harus melanggar koridor syariah. Mencari nafkah lewat kesenian pun hendaknya tidak membuat para seniman memasukkan api neraka ke dalam perut mereka. Inilah kreativitas dalam Islam.

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah," (Al-Baqarah: 172). Wallahu’alam bish shawab.

1 komentar:

  1. berkreativitas dan berseni tidak harus melanggar koridor syariah. Mencari nafkah lewat kesenian pun hendaknya tidak membuat para seniman memasukkan api neraka ke dalam perut mereka. Inilah kreativitas dalam Islam.

    ReplyDelete