Ketahuilah Tentang Marah dalam Islam, Nak…

Irfan Nugroho
Nak, marahkah engkau jika sedang konsentrasi mengerjakan tugas kelompok, kemudian teman di sisimu ternyata sangat “bawel” karena terlalu sering memberi masukan terhadap hasil kerja kelompok yang kau dan ia kerjakan.

Nak, marahkah engkau jika suatu saat teman dekatmu tidak bisa memahami apa yang engkau rasakan waktu itu; ia mengajakmu bercanda padahal engkau sedang galau?

Nak, marah bisa jadi merupakan suatu sikap wajar ketika seseorang merasa ada yang berbeda, atau bertentangan dengan apa yang ia yakini, ia percaya, dan ia amalkan.

Namun, nak… Engkau adalah seorang Muslim, dan Islam memiliki konsep yang sangat rapi tentang seni marah dan menejemen marah.

Pertama, nak, hindarkanlah dirimu dari melampiaskan amarah terhadap sesama Muslim.

Mari, nak… Buka Quran-mu pada Surat Al-Maidah Ayat 54 dimana Allah berfirman:

"Mereka bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, dan bersikap tegas (keras) terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad dijalan Allah," (Al-Maidah: 54).

Nak, lemah lembutlah kepada sesama Muslim, siapapun itu tanpa memandang dari kelompok mana mereka, atau dari Negara mana mereka berasal.

Boleh jadi engkau adalah seorang “bonek mania,” namun hal ini bukan alasan bagimu untuk membenci, memusuhi atau marah-marah terhadap orang-orang Islam yang menjadi “The Jak” atau “Pasoepati.”

Boleh jadi engkau merasa sebagai orang yang sangat sensitif dan selalu ingin dimengerti, namun ini bukan alasan bagimu untuk kemudian marah atau ngambek ga karuan hanya lantaran tidak adanya pengertian dari orang-orang Islam yang dekat denganmu.

Kedua, nak… tahanlah amarahmu terhadap sesama Muslim padahal engkau mampu membalasnya.

Ingatlah pesan Rasulullah salallahu alaihi wasalam, “Siapa saja yang mampu menahan amarah padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di atas para makhluk (pada Hari Kiamat); hingga kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki,” (Hadist Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, & Imam Ahmad).

Maka mulai dari sekarang, nak… Ubah pula patokanmu tentang sosok yang macho atau kuat, karena “Kekuatan itu bukan dengan jago gulat, tetapi kekuatan adalah menguasai hawa nafsu ketika marah,” (Hadist Shahih Riwayat Imam Bukhari & Imam Muslim).

Maka dari itu, nak… Berseri-serilah ketika engkau bertemu sesama Muslim, karena Rasulullah pernah memintamu untuk itu.

“Jangan meremehkan kebaikan-kebaikan yang dianggap kecil, meskipun hanya menunjukkan wajah ceria (senyum/berseri-seri) ketika bertemu saudara sesama Muslim,” (Hadist Shahih Riwayat Muslim).

Duduklah ketika engkau marah sambil berdiri; atau berbaringlah, ketika engkau masih marah dalam keadaan duduk. Demikianlah Rasulullah mengajarkan engkau, nak… untuk mengobati marah, (HR Imam Ahmad & Abu Daud).

Atau, ucapkanlah “Audzubillahi minash syaithoo nirrajiim…” ketika marahmu mencapai ubun-ubun (HR Imam Bukhari & Imam Muslim).

Ketiga, nak… Marahlah kepada sesama Muslim seperti marahnya Rasulullah kepada para sahabatnya.

Emang Rasulullah pernah marah? Ya, pernah! Namun marahnya Rasulullah kepada sesama Muslim tidak pernah membuat beliau bermain tangan.

Pernah suatu saat seorang sahabat mengatakan bahwa Rasulullah telah berbuat tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang dalam sebuah ekspedisi Jihad di Hunain.

Dan ketika Rasulullah mendapat laporan mengenai hal tersebut, sontak wajah beliau memerah karena menahan diri beliau dari marah terhadap sesama Muslim.

Saksikanlah pula persaksian dari Ibunda Aisyah yang berkata, “Rasulullah tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, sekalipun itu perempuan maupun hamba sahaya kecuali ketika berjihad di jalan Allah,’ (HR Muslim).

Subhanallah…! Indahnya akhlak Rasulullah, nak… Maka, nak… Sekali lagi hindarilah marah terhadap saudaramu sesama Muslim.

Keempat, nak… Marahlah terhadap siapapun yang memerangi atau menghina Islam, Allah, dan Rasulullah!!

Bukankah sudah tegas bahwa Allah telah memerintahkanmu dalam Surat Al-Maidah: 54 untuk bersikap tegas (atau bahkan keras) terhadap orang-orang kafir (kafir harbi) yang jelas-jelas melancarkan permusuhan terhadap islam?

Bahkan di Quran bagian yang lain, Allah juga memerintahkanmu untuk melakukan hal serupa terhadap orang-orang kafir yang jelas-jelas menyatakan perang melawan Islam.

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir (Kafir Harbi – yang terang-terangan memusuhi Allah dan Rasul-Nya), tetapi berkasih sayang sesama mereka (sesama Muslim),”(Al-Fath: 29).

Maka sudah selayaknya, nak engkau bereaksi tegas terhadap segala bentuk pelecehan dan penghinaan simbol-simbol Islam yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak menyukai agama ini menjadi mulia.

Marahlah ketika melihat ajaran Islam ini dihina, dilecehkan dan diremehkan oleh orang-orang kafir atau oleh orang-orang yang mengaku Islam padahal ia telah kafir karena tabiatnya yang sama persis dengan orang kafir.

Bahkan bila perlu, berlaku hukum jihad memerangi orang-orang kafir harbi yang secara terang-terangan menyatakan permusuhan terhadap Islam, Allah, dan Rasul-nya. Namun perlu kau ingat, nak… Tidak semua orang-orang kafir adalah kafir harbi.

Ada pula tipe orang-orang kafir selain kafir harbi, yakni
1. Kafir Dzimmi: kafir namun tunduk kepada pemerintahan Islam dengan membayar Jizyah/upeti jika mereka mampu;
2. Kafir Muahad: kafir yang tinggal di negara kafir yang telah membuat perjanjian dengan negara Islam;
3. Kafir Musta’man: kafir yang masuk ke negara Islam setelah mendapat jaminan keamanan.

Maka ketahuilah, nak… Terhadap tiga macam orang kafir ini engkau tidak boleh marah, seperti halnya engkau tidak boleh marah terhadap sesama Muslim. Wallahu’alam bish shawab.

2 komentar:

  1. ngkau adalah seorang Muslim, dan Islam memiliki konsep yang sangat rapi tentang seni marah dan menejemen marah.

    Pertama, nak, hindarkanlah dirimu dari melampiaskan amarah terhadap sesama Muslim.

    ReplyDelete