Catatlah dan Hafalkanlah, Nak...


Oleh Irfan Nugroho
Suatu saat di kelas Bahasa Inggris diadakan sebuah ujian kosakata dimana setiap darimu nak, harus menyebutkan arti beberapa kata yang saya berikan.

Tak disangka bahwa hasil ujian tersebut masih jauh dari memuaskan, meskipun saya membolehkan engkau untuk membuka catatan.

Toh ternyata, sebagian besar darimu, nak… juga tidak mencatat beberapa kosakata penting yang diujikan pada hari tersebut.

Bukan hanya di ujian kosakata, ketika ujian membaca pun satu faktor yang sering menjadi kambing hitam atas jebloknya nilai Bahasa Inggris-mu adalah minimnya kosakata yang engkau kuasai.

Padahal, dua hal itulah yang menjadi kunci sukses seorang pembelajar sepertimu dan sepertiku, nak…

Kebiasaan yang kuat untuk mencatat dan menghafal telah menjadikan ulama-ulama zaman dahulu menjadi besar dan terkemuka dalam bidang ilmu pengetahuan dan ilmu agama.

Mereka menghafalkan ilmu dan mencatatnya agar tidak hilang. Di sisi lain, mereka mencatat ilmu dan menghafalkannya.

Oleh karena itu, tepat kiranya jika seorang ulama masa kini Ali bin Muhammad al-Imran berkesimpulan bahwa ‘mereka yang getol mencatat imu adalah para tokoh penghafal.’

Maka mari kita simak betapa dahsyatnya kekuatan menghafal dan mencatat, nak…

Kenalkah engkau dengan sosok Imam Bukhari?

Beliaulah pemimpin para penghafal. Beliaulah penyusun kitab yang harus dibaca oleh semua orang Islam; tentu setelah membaca Quran terlebih dahulu.

Beliaulah penyusun sebuah kitab tebal tentang hadist-hadist Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam. Beliaulah penyusun kitab Shahih Bukhari.

Ribuan, bahkah ratusan ribu hadist beliau hafalkan. Ada beberapa yang shahih (asli) dan jauh lebih banyak lagi yang tergolong hadist palsu atau hadist lemah, dan beliau hanya menulis hadist-hadist yang shahih saja.

Nama beliau menjadi besar lantaran ketekunan beliau menghafal hadist; dan bahkan beliau telah menghafal Quran di usianya yang masih belia.

Sejarah pun juga telah mencatat bahwa ternyata, Imam Bukhari juga adalah seorang yang sangat rajin dalam mencatat sesuatu.

Salah seorang ulama pada masa beliau, al-Farabi, pernah bermalam di rumah Imam Bukhari.

Dan dalam penginapannya di rumah Imam Bukhari tersebut al-Farabi mencatat bahwa Imam Bukhari bisa bangun hingga 18 kali dalam semalam hanya untuk mencatat hal-hal yang terlintas dipikiran beliau.

Ada lagi seorang ulama besar yang kaidah fikih beliau banyak dipakai oleh orang Islam di Indonesia. Beliau adalah Imam Asy-Syafi’ie.

Tahukah kau, nak… Imam Syafi’i telah menghafal Quran sejak beliau berumur tujuh tahun.

Dan pada umurnya yang masih 12 tahun, beliau pun telah menghafal Kitab Al-Muwattha karya gurunya sendiri, Imam Malik.

Imam Syafi’i adalah seorang manusia yang unik lantaran kuatnya hafalan beliau. Bahkan ada ungkapan canda bahwa, “Ngigau-nya Imam Syafi’i ketika tidur adalah bacaan Quran.”

Ketahuilah, nak… Imam Syafi’i yang terkenal kuat hafalannya ternyata masih takut bahwa suatu saat hafalannya akan hilang.

Maka kemudian sejarah mencatat melalui persaksian dari salah satu sahabat beliau bernama al-Humaidi bahwa lampu kamar Imam Syafi’i masih menyala di tengah malam.

Lalu al-Humaidi pun masuk ke kamar beliau dan ditemuinya sebuah kertas dan tinta, dengan Imam Syafi’i di depan dua benda tersebut.

Al-Humaidi pun bertanya, “Apa yang sedang engkau lakukan, ya Abu Abdillah (nama lain Imam Syafi’i)?”

Imam Syafi’i pun menjawab, “Aku tadi memikirkan makna hadist, lalu aku khawatir hal itu akan lenyap dariku, maka aku pun memerintahkan seseorang untuk menyalakan lampu, lalu aku pun menulisnya.”

Perhatikan, nak… Mencatat dan menghafal. Dua kunci sukses orang-orang hebat dari zaman dahulu hingga saat ini.

Sungguh, kini budaya mencatat dan menghafal telah banyak ditinggalkan oleh sebagian besar umat Islam di dunia.

Dan inilah penyabab kemunduran peradaban ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam yang kini sedang kalah dengan orang barat.

Nak, rajinlah mencatat hal-hal penting yang kiranya hal tersebut adalah sesuatu yang bisa menambah wawasan pengetahuan bagi dirimu.

Hafalkanlah Quran dan beberapa hadist yang menjadi dasar keimanan dalam dadamu, kemudian janganlah kau remehkan pentingnya menghafal ilmu-ilmu pengetahuan umum seperti yang kau dapat di sekolah.

Nak, tingkatkanlah taqwa-mu kepada Allah. Lakukan semua perintah Allah dan Rasul-Nya semaksimal mungkin yang kau bisa, dan jauhilah semua larangan syariat.

Karena dengan ketaqwaan, Allah akan memudahkan bagimu untuk menghafal dan menjaga hafalan.

Renungilah sebuah syair dari Imam Syafi’i,

“Aku mengadu kepada ‘Waki tentang buruknya hafalan.

Maka beliau pun menasihatku agar menjauhi kemaksiatan.

Ia juga berkata, ‘Ketahuilah, ilmu itu adalah cahaya.

Sedang cahaya Allah tidak diberikan kepada orang durhaka (berbuat dosa).’”

Nak, catatlah dan hafalkanlah… (10 Rabi’ul Awal 1433 H)

1 komentar:

  1. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Subhanallah, Syukron jazakallah khoiron katsiron ya akhi Irfan Nugroho, banyak ilmu yang saya dapatkan disini, khususnya yang aku baca saat ini tentang mencatat dan menghafal atau berilmu, sungguh indah dan bermanfaat bila kita selalu belajar, khususnya ilmu yang bermanfaat. salam ukhuwah wahai sauadaraku.

    ReplyDelete