Jagalah Allah Maka Allah Akan Menjagamu

Ust. Mas’ud Izzul Mujahid
Judul di atas merupakan penggalan sebuah hadist hasan shahih yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari jalur Abdullah Ibn Abbas. Bunyi lengkap hadist tersebut adalah sebagai berikut:

Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Alloh bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.” (HR Tirmidzi Dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Hadist tersebut merupakan hadist yang sangat besar nilai kandungannya sehingga untuk menjelaskan frase “Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu” Sheikh Aidh Al-Qarni harus menulisnya dalam sebuah buku yang cukup tebal dengan judul yang sama.

Begitu pula Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali yang memerlukan ratusan halaman untuk menjelaskan frase yang sama, frase yang berbunyi “Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.”

Hadist tersebut juga tidak hanya memuat isi tentang perintah untuk menjaga Allah dan konsekuensinya (yakni dijaga oleh Allah), namun ada nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya antara lain:
1. Perintah menjaga Allah
2. Penjagaan Allah
3. Hanya meminta kepada Allah
4. Tawakal
5. Sabar dan ridha.

Namun dalam kesempatan ini tidak akan dibahas seluruh nilai-nilai tersebut sehingga cukup dibatasi pada pembahasan mengenai frase “Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu.”

Seputar Periwayat Hadist
Hadist ini diriwayatkan oleh seorang sahabat mulia yang bernama Abdullah bin Abbas. Satu dari sekian sahabat Rasul yang memiliki nama Abdullah, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Rawahah.

Abdullah bin Abbas pun juga merupaan sepupu Rasulullah. Mereka berdua, Abdullah bin Abbas dan Rasululullah, memiliki kakek yang sama.

Abdullah bin Abbas adalah seorang yang istimewa. Pada umurnya yang 15 tahun, beliau diajak oleh Umar bin Khattab untuk bergabung dengan majelis alumni perang badar dimana majelis ini adalah majelis yang bertugas untuk menetapkan hal-hal yang belum di-nash-kan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika dalam majelis tersebut, Umar sempat diprotes oleh anggota majelis yang lain lantaran membawa ‘bocah ingusan’ Abdullah bin Abbas. Maka kemudian Umar berdiam diri dan kemudian melontarkan pertanyaan untuk didiskusikan dalam majelis tersebut.

Umar bertanya kepada majelis tersebut mengenai maksud Surat An-Nashr. Maka beberapa sahabat anggota majelis tersebut mulai berargumen dan kemudian Umar pun bertanya kepada Abdullah bin Abbas.

Abdullah bin Abbas pun menjawab bahwa Surat tersebut turun berkenaan dengan mendekatnya ajal Rasulullah. Sontak jawaban ini pun membuat kaget sahabat yang lain namun demikian, jawaban tersebut adalah sama seperti apa yang dipahami oleh sahabat Umar bin Khattab.

Jagalah Allah
Perintah yang tegas dari Rasul mulia Muhammad bin Abdullah agar seorang Muslim yang beriman untuk senantiasa “menjaga Allah dengan menjaga hak-hak-Nya” (Ibnu Rajab Al-Hanbali).

Hak-hak Allah di sini ada dua macam. Hak Allah yang pertama adalah hak-hak yang wajib dan hak-hak yang sunnah. Memenuhi hak-hak Allah yang wajib adalah dengan menunaikan kewajiban, sedang memenuhi hak-hak Allah yang sunnah adalah dengan senantiasa memelihara sunnah. Mengenai penunaian kewajiban itu sendiri masih dapat diperinci yakni dengan menegakkan Tauhid dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

32. Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)
33. (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat, (Qaaf: 32-33).


Penjagaan oleh Allah
Salah satu hikmah kenapa Rasulullah mewasiatkan hal tersebut kepada Abdullah bin Abbas yang masih sangat muda adalah karena jika seorang Muslim senantiasa menjaga Allah di masa mudanya, maka Allah akan menjaganya di masa tuanya.

Salah satu bukti dari kebenaran frase ini adalah bahwa suatu ketika Rasulullah dan para sahabat tertidur karena lelah dengan suatu peperangan. Maka kemudian ada seorang badui yang mengambil pedang Rasulullah dan menghunuskan pedang tersebut tepat berada di depan wajah Rasulullah.

Seketika itu juga Rasul dan para sahabat terbangun dan si badui tersebut sontak berkata, “Siapa yang akan menolongmu?” Maka Rasul pun menjawab, “Allah… Allah… Allah” Maka sang badui tadi pun gemetar dan pedang tersebut terjatuh.

Bukti lain dari kebenaran frase ini adalah fragmen cerita yang ada di Surat Al-Kahfi ayat 82:
82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya" (Al-Kahfi: 82).

Dalam ayat tersebut bisa dimengerti bahwa Allah menolong dua anak yatim tersebut lewat perantara Nabi Khidir. Pertolongan Allah tersebut tidak lain tidak bukan adalah karena orang tua kedua anak tersebut senantiasa menolong Allah dengan penyebutan frase, “sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh.”

Juga mengenai kisah Sultan Baabullah dari Kesultanan Islam Ternate. Beliau merupakan Sultan yang salih dan berwibawa dan terkenal senantiasa anti penjajahan. Sejarah mencatat beliau senantiasa memerangi pasukan saibis Kristen Portugis hingga porak poranda. Dan salah satu kemuliaan beliau adalah bahwa beliau berkenan untuk menjaga umat Kristiani Portugis yang terkepung di dalam benteng Kesultanan Islam Ternate selama mereka mau tunduk di bawah hukum Islam. Kesalihan beliau merupakan pertolongan Allah lantaran ayahanda beliau, Sultan Khairun adalah orang yang senantiasa menjaga Allah (9 Oktober 2011/ 11 Dzulqa'dah1432 H).

0 komentar:

Post a Comment