Untukmu Teman, Masih Ingatkah Engkau?

Irfan Nugroho
Suatu saat menjelang hari raya Iedul Fitri, seorang teman menuju ke masjid hendak melakukan shalat berjama’ah untuk pertama dan terakhir kalinya dalam Ramadhan tahun ini.

Aku pun bertanya, “Gimana kabar dari rantau? Ibumu sering bercerita tentang engkau. Katanya engkau udah ‘sukses’ di sana.”

Tersenyum dan tersipu malu, teman tadi menjawab, “Ah biasa aja. Ya begitu lah…”

Aku pun lanjut bertanya, “Anakmu dimana?”

“Lagi tidur, kayaknya kecapekan habis perjalanan jauh. Ga tega ngebanuninnya, ” jawabnya.

Dengan nada bercanda, aku bergurau padanya, “Anak lagi tidur ga papa dibangunin buat shalat. Mumpung masih kecil, sering-sering ajari minta dia untuk shalat. Emang situ mau kalo udah gede anaknya jadi kayak situ, shalatnya cuman tiga kali setahun. Ramadhan hari pertama, Iedul Fitri, ma Iedul Adha doank?”

Teman tadi pun hanya tersenyum dan menjawab, “Ya jangan sampe’ lah…!”

Fragmen cerita seperti di atas mungkin hanya satu dari sekian banyak potret kehidupan pemuda yang mulai berkeluarga saat ini.

Kecintaan pada dunia, harta, anak, dan istri kadang mengalahkan cintanya kepada orang tua.

Maka tak heran jika ada ungkapan, “Jika bapak kaya, anak jadi raja. Jika anak kaya, bapak menjadi budak.”

Ingatlah teman bahwa ketika Nabi Muhammad ditanya oleh seorang lelaki tentang siapa yang harus diprioritaskan untuk kita sayangi dan kita layani, beliau menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.” (HR Bukhari & Muslim).

Di sisi lain, kecintaan para orang tua kepada dunia kadang membuat mereka lupa tentang pentingnya mendidik anak agar tumbuh menjadi anak yang shalih.

Padahal, anak yang shalih adalah investasi yang paling baik bagi orang tua untuk kehidupan mereka di akhirat kelak.

Semoga engkau belum lupa bahwa Rasulullah pernah menasihati kita, “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: (1) sedekah yang mengalir; (2) ilmu yang bermanfaat; dan (3) anak yang shalih yang mendoakannya." (HR Muslim)

Untukmu teman, masih ingatkah engkau? (31 Agustus 2011/1 Syawal 1432 H)

0 komentar:

Post a Comment