Burn The Quran Day dan Upaya Memadamkan Cahaya Allah (Fakta dan Analisa)

Oleh Irfan Nugroho
11 September 2010, seorang Pendeta dari sebuah gereja kecil di Negara bagian Florida membatalkan sebuah event yang ia namakan dengan “Burn the Quran Day” (Hari Membakar Al-Quran) atas desakan Umat Islam. Bahkan, beberapa kepala Negara seperti Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Amerika Serikat Barrack Husein Obama juga mendesak agar acara tersebut dibatalkan.

Alih-alih perhatian publik tertuju pada ‘kepedulian semu’ para petinggi Negara tersebut, pada tanggal yang sama namun dengan tempat berbeda, beberapa Umat Kristiani Konservatif dengan sengaja merobek-robek, kemudian membakar, dan membuang lembaran kitab suci Al-Quran ke dalam tempat sampah. Tragedi tak bermoral tersebut sempat direkam beberapa kamera media massa internasional dan lebih parah lagi, hal tersebut diselenggarakan di depan Gedung Putih – simbol kesombongan Amerika. Beberapa nama dari pelaku aksi tak bermoral tersebut telah dicatat oleh kepolisian setempat namun, tidak ada langkah tegas yang diambil!

Pada hari itu pula, Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dalam peringatan tragedi 911 (11 September) – sekali lagi – membohongi publik internasional bahwa ‘penjajahan’ di Afghanistan dan Iraq bukan merupakan perang melawan Islam melainkan perang melawan Al-Qaida, suatu organisasi dakwah jihadi yang dia anggap sebagai ‘kumpulan orang-orang yang menyelewengkan ajaran agama.’

Sungguh, operasi isytihadi (mencari syahid) yang dilancarkan terhadap menara World Trade Center (WTC) dan Pentagon merupakan sebuah tonggak sejarah bagi pergerakan Islam dan penyebaran Islam. Oleh karena itu, meski telah Sembilan tahun berlalu, pemerintah Amerika tidak kendor-kendor menggunakan serangan tersebut sebagai ‘bumbu’ untuk memadamkan cahaya Allah melalui mulut/ucapan mereka sebagaimana tercantum dalam Surat Ash-Shaff ayat enam yang berarti:

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka dan Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya”

Sungguh benar firman Allah yang terdapat pada ‘klausa’ pertama ayat tersebut. Bukti dari klausa tersebut dapat kita jumpai di berbagai kolom opini media massa, tayangan televisi, maupun dari ceramah-ceramah Islami oleh beberapa pemuka agama penjilat pemerintah.

Terlebih lagi media massa mainstream – seperti BBC, CNN, dan antek-antek Yahudi lainnya – mereka seperti menemukan ‘bumbu racikan’ yang tepat ketika dalam upaya memadamkan cahaya Islam dengan menggunakan isu Operasi Isytihadi 11 September. Pena telah digulirkan, Koran telah dicetak dan disebarluaskan dan internet telah begitu mudah diakses dan musuh-musuh Islam mulai beraksi dengan mengacungkan jari mereka kepada Islam.

Namun, dibalik semua propapganda kaum kafir dalam mendistorsi citra Islam, pernahkan kita sebagai Muslim yang percaya terhadap kebenaran Al-Quran untuk mencoba mencari kebenaran firman Allah dalam ayat tersebut di atas – terutama pada klausa kedua, “...dan Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya”??

Fakta di Balik Serangan 911 dan Burn the Quran Day

Ada fakta menarik seputar Operasi Isytihadi yang mungkin telah membuat para musuh Islam khawatir bukan kepalang. Alih-alih para musuh Islam berusaha merusak citra Islam dengan memfitnah bahwa Umat Islam berada di balik serangan tersebut, sekitar 24.000 warga Negara Amerika Serikat dikabarkan masuk Islam hanya dalam waktu dua bulan setelah operasi isytihadi tersebut. Maka, sungguh benar apa yang telah dijanjikan oleh Allah dalam Surat Ash-Shaff ayat enam tersebut bahwa Allah ta’ala justru akan menyempurnakan cahaya-Nya di tengah gencarnya usaha para musuh Islam untuk memadamkan agama Islam.

Fenomena serupa bisa saja terjadi menyusul upaya pendeta gereja kecil di Florida tersebut. Bagaimana bisa? Logikanya, mereka yang hendak membakar Al-Quran tentu harus memiliki atau – jika belum punya Al-Quran – membeli Al-Quran untuk kemudian mereka bakar. Maka bukan tidak mungkin jika sebelum mereka membakar Al-Quran tersebut mereka akan – insyallah – akan membaca Al-Quran tersebut dan dari sana pulalah kita berharap Allah akan membuka pintu hidayah-Nya sehingga kemudian mereka akan masuk Islam.

Sebuah forum online bernama TurnToIslam.com bahkan menyebutkan bahwa seorang Pastur dari Gereja Santo Luke Prebyterian di California menggelar acara tandingan yang dinamainya “Learn the Quran Day” (Hari Mempelajari Al-Quran). Beliau mengundang beberapa Rabbi (‘Ustadz’ Yahudi) untuk bergabung dengan acara tersebut dan beberapa diantaranya telah menyatakan kesediaan untuk hadir. Sebagai konsekuensinya, Pastur tersebut menerima protes yang bertubi-tubi atas niatnya mengadakan Learn the Quran Day.

Fakta menarik lain dari pergelaran Burn the Quran Day adalah adanya beberapa ‘perserta’ event tersebut yang salah membakar Kitab Suci agama lain. Salah seorang partisipan yang hendak mengikuti acara tersebut, John Cleaver, mengaku telah membeli kitab suci agama Hindu yang dia kira sebagai terjemahan Al-Quran. “Buku tersebut nampak seperti terjemahan Al-Quran.” Parahnya lagi, beberapa peserta lainnya turut membakar terjemahan bahasa Arab dari Kitab Injil, Goosebumps, dan novel Twilight.

Lantas...
Namun bukan lantas kita hanya berdiam diri ketika acara serupa diselenggarakan dengan harapan bahwa Allah kelak menyempurnakan cahaya-Nya. Perlu diingat, tidak semua yang hendak berpartisipasi dalam Burn the Quran Day akan serta merta mendapat hidayah Allah sehingga mereka justru akan memeluk agama Islam. Cukuplah kita melihat pada sosok paman Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam yang meski mengetahui kebenaran Islam namun tidak berkenan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Akhirnya kita sampai pada apa yang perlu digalakkan dalam merespon propaganda para musuh Islam. Mari kita tolong agama Allah. Cukuplah kita mendengar dan taat pada perintah Allah dalam Surat Muhammad ayat ketujuh yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, nisacaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Dalam hal apa kita bisa menolong agama Allah. Banyak sekali. Seorang pelajar ilmu alam hendaknya bisa mengungkap kesesuaian Al-Quran dengan fenomena alam semesta. Seorang guru hendaknya bisa menjadi uswah khasanah (suri tauladan) bagi murid-muridnya. Seorang yang diberi harta melimpah, sisihkan dua koma lima persen dari total kekayaanmu untuk diinfaqkan di jalan Allah. Seorang jurnalis hendaknya menyampaikan berita tentang Islam secara proporsional dan seimbang. Intinya, apapun profesi kita, hendaknya kita nisbatkan untuk meninggikan kalimat laa ilaha ilallah (tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah).

Dalam konteks yang sedang kita bahas, kita hendaknya berusaha meng-counter serangan para musuh Islam melalui pembentukan opini publik. Jika mereka mengatakan Islam sebagai ‘agama setan’ maka kita sampaikan retorika-retorika dan fakta-fakta yang mengungkapkan keindahan dan kedamaian Islam. Tolonglah agama Allah – dalam konteks ini – dengan mengimbangi arus informasi yang kini memang sedang didominasi oleh Yahudi dan Nasrani.

Salah satu ‘jurus pamungkas’ – selain memerangi mereka dalam koridor jihad fie sabilillah – untuk menolong agama Allah adalah dengan berdoa secara terus menerus hingga doa kita terkabul. Berdoalah agar kemenangan Islam segera terealisasi karena sungguh, inilah kekuatan terbesar seorang Muslim.

Doa! Ya, ketika kita merasa lemah dan tak berdaya menghadapi berbagai cabaran dan ujian duniawi, ketuklah pintu Allah dengan doa, berkonsultasilah secara langsung kepada Allah, dan mintalah solusi terbaik dari yang Maha Kuasa Allah ta’ala.

Cukuplah kita melihat pada kedahsyatan kekuatan Allah ketika memberikan kemenangan pasukan Muslim ketika perang Badar. Ya! Rasulullah sadar bahwa kekuatan militer yang beliau komandoi secara langsung kalah jauh dari segi kuantitas. Kekuatan militer Islam pada saat itu hanyalah 313 pasukan sedang jumlah musuh berada pada angka 1300 orang. Dengan melihat situasi dan kondisi saat itu, sesaat sebelum perang berlangsung, Rasulullah berdoa dengan khusyuk dan kemenangan pun dapat diraih pasukan Islam dengan gemilang.

Hendaknya kita senantiasa berdoa atas kemenangan kaum Muslimin atas kaum kafir. Hendaknya kita berdoa agar apa yang telah kita usahakan pada langkah pertama sebelumnya dapat berhasil karena tiada kepatutan bagi seorang Muslim yang senantiasa berdoa namun tidak dibarengi dengan usaha atau yang selalu bekerja namun tidak disertai dengan doa. Berdoalah pula agar Allah senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada mereka agar masuk Islam. Berdoalah agar Allah selalu menunjukan bahwa yang batil adalah batil sedang yang haq akan selalu menjadi haq!

0 komentar:

Post a Comment