Menjadi Pelajar Muslim Ideal (PMI)

Oleh Irfan Nugroho
Artikel ini saya tulis atas pengalaman saya sebagai staf pengajar untuk dua sekolah negeri di Jawa Tengah. Kurangnya rasa hormat terhadap sebagian guru, kurangnya ghirah untuk membaca, dan merosotnya moral Pelajar (pelajar) secara umum kemudian membuat saya menelaah beberapa kitab untuk merumuskan beberapa poin yang harus dimiliki oleh seorang Pelajar Muslim sehingga dia layak disebut Pelajar Muslim Ideal (PMI).

Tidak ada hal yang khusus mengenai kriteria ideal seorang Pelajar Muslim lantaran seluruh Muslim hendaknya meniru bagaimana perilaku, adab, dan tutur kata Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam. Masih ingatkah kita akan firman berikut:
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Terkhusus untuk akhlaq dan perilaku mulia ataupun kriteria Pelajar Muslim Ideal akan jarang kita temukan pada diri Rasulullah lantaran beliau merupakan sosok Guru Paling Ideal sepanjang sejarah. Meski begitu, ada banyak hadis mengenai adab, akhlaq, dan segala hal mengenai bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap dalam menuntut ilmu yang layak untuk diterapkan oleh kita, pelajar yang hidup di akhir-akhir masa ini.

Oleh karena itu, di sini saya rumuskan 7 poin penting yang hendaknya dimiliki oleh Pelajar Muslim yang kami nukilkan dari sabda Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam dan juga dari contoh para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang oleh Rasulullah dikatakan sebagai sebaik-baik umat sebagaimana dalam hadis berikut:

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu pada masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (Tabi’ut Tabi’in)” (Mutaffaq Alaihi HR. Bukhari 2652 dan HR. Muslim 2533).

1.    IKHLAS
Landasan dari semua amal atau kegiatan seorang Muslim – entah itu Pelajar atau umum – adalah ikhlas. Ikhlas disini adalah ikhlas dalam beramal, dalam belajar, dalam bekerja, hanya untuk mencari ridha Allah, untuk mencari surga-Nya. Jangan jadikan belajar kita, usaha kita, perjuangan kita selama belajar ini sia-sia lantaran tidak adanya niat yang ikhlas untuk menggapai ridha Allah.

Hal ini didasarkan pada hadis yang terkenal diantara kita yakni; “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang itu tergantung pada apa yang ia niatkan...” (HR. Bukhari 1907).

Juga dalam hadis lain, Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam memberi kabar tentang dibatalkannya masuk surga seseorang yang mati dalam perang lantaran tidak ada niat yang ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah ketika berperang.

Terkhusus untuk pelajar Muslim, ingatlah baik-baik hadis berikut:

"Barangsiapa mempelajari ilmu yang semestinya untuk mencari ridha Allah, tetapi ternyata ia mempelajarinya tidak lain hanya untuk mendapatkan kekayaan dunia, niscaya ia tidak mencium aroma surga pada hari kiamat " [HR. Abu Dawud 3664, HR. Ibnu Majah (I/93) dan HR. Hakim (I/85 dan dishahihkan oleh Imam Nawawi].

Cukup jelas disini betapa pentingnya ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah dalam segala hal. Terutama bagi kita para pelajar Muslim, hendaknya kita belajar untuk mencari surga Allah. Hindari sifat riya’ (pamer) atau sombong dalam kehidupan kita karena kedua sifat itu datang ketika tidak ada rasa ikhlas.

2.    MENGHORMATI ULAMA (GURU/USTADZ)

Posisi orang berilmu, seperti ulama atau guru ataupun ustadz, adalah sangat mulia lantaran Allah ta’ala berfirman:
“...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Mujadillah[58]: 11).

Jelas sudah bahwasanya ulama atau guru ataupun ustadz ataupun mereka yang kita anggap ‘gembel’ namun berilmu adalah jauh lebih mulia daripada mereka yang berpangkat, atau berduit namun tidak berilmu. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk ‘mengagungkan’ apa-apa yang terhormat di sisi Allah sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hajj [22] ayat 32:
“...dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya...” (QS Al-Hajj[22]: 30)

Terhadap seorang ulama, guru, ustadz atau orang yang berilmu, kita sebagai Pelajar Muslim harusnya tidak bersikap kasar dengan bersuara keras (menyalak) di hadapan mereka mengingat Allah telah mewajibkan hal tersebut dalam surat Al-Hujurat [49] ayat 2-3 yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS Al-Hujurat [49]:2-3).

Sekarang, masihkah kita berani menyakiti, menggunjing, atau menghina ulama, ustadz, atau guru? Maka dengarkan dan renungkan ayat berikut:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab[33]: 58).

3.    GEMAR MEMBACA
Risalah pertama yang diturnkan oleh Allah kepada hamba-Nya melalui perantara Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam adalah perintah membaca. Lima ayat pertama Surat Al-Alaq jelas sekali meminta kita untuk membaca agar kita menjadi tahu.

Surat tersebut juga memerintahkan kita untuk membaca dengan ‘menyebut asma Allah’ yang berarti bahwa hendaknya usaha kita dalam membaca hendaknya didasari oleh rasa ikhlas mencari ridha Allah semata.

Namun sungguh aneh, umat yang perintah pertama dari agamanya adalah ‘Bacalah..!’ justu menempati posisi terbawah dalam suatu survei mengenai minat baca. Saya nukilkan hasil survei dari Majalah Al-Furqan oleh Isa Al-Qadumi, beliau memaparkan bawah minat baca orang Arab adalah 200 halaman per tahun. Bandingkan dengan orang Eropa yang membaca 10 buku dalam setahun dan orang Jepang yang membaca 40 buku dalam setahun. Bagaimana dengan orang Indonesia???

Sungguh bukan hal yang aneh ketika umat Islam kini hanya menjadi penonton di negaranya sendiri lantaran rendahnya minat baca. Sungguh suatu hal yang wajar ketika Yahudi bisa menguasai dunia bisnis, ekonomi, politik, media, dan sektor lain lantaran tingginya minat baca mereka.

Jika menilik kondisi umat terdahulu, ada sekumpulan nama-nama ulama besar yang sangat-sangat gila membaca. Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah, seperti yang digambarkan oleh murid beliau Al-Hafizh Ibnu Abdul Hadi, ‘tak pernah merasa kenyang dengan ilmu, tak pernah puas dengan menelaah, tak pernah bosan dengan berbagai kesibukan, serta tak pernah letih melakukan penelitian.’

Melalui muridnya yang lain, yakni Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bahwa beliau menceritakan ngototnya guru beliau untuk tetap membaca ketika guru beliau tersebut sedang sakit parah. Sheikh Ibnu Taimiyah ngotot ingin tetap membaca lantaran dengan membaca beliau merasa bahagia dan nyaman sehingga sakit yang dideritanya tidak dirasakan.

Sejarah Islam juga mencatat nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang wafat pada tahun 597 H. Selama hidup beliau, 20.000 jilid buku telah beliau baca, namun hal tersebut tidak membuat beliau berhenti mencari-cari buku.

4.    JUJUR & AMANAH

Tidak lain tidak bukan adalah Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam sebelum kenabiannya mendapat julukan Al-Amin lantaran sifat beliau yang selalu jujur dan dapat dipercaya jika diberi amanah. Maka sudah seharusnya umat Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam ini mencontoh beliau dalam hal kejujuran dan memegang amanah.

Namun sungguh, di kalangan pelajar ini, masih banyak mereka yang belum bisa jujur. Ketika ujian atau ulangan harian mereka menyontek. Mereka mengcopy-paste skripsi atau thesis orang lain kemudian diklaim sebagai miliknya. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah telah mengharamkan sifar dusta sebagaimana yang difirmankan dalam Surat Al-Anfal [8] ayat 27 yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.”

Mengkhianati dalam hal ini menjaga ilmu-ilmu Allah, tidak menyelewengkan ilmu tersebut untuk suatu kejahatan. Sungguh betapa banyak diantara manusia akhir zaman ini yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk membenarkan perbuatan maksiat mereka yang tidak lain adalah karena kurangnya pengetahuan mereka terhadap penafsiran ayat-ayat Allah tersebut.

Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda mengenai orang-orang seperti ini seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang berbunyi:

Janganlah kalian berdusta kepadaku. Karena, barangsiapa yang berdusta kepadaku maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka,” (HR. Bukhari).

5.    OPTIMAL WAKTU
Dari Abdullah bin ‘Abbas bahwasanya beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang” (HR. Bukhari).

Bukankah kita yang masih muda ini masih banyak diberi dua nikmat ini? Kemanakan kita gunakan kedua nikmat tersebut? Apakah kita menghancurkan nikmat sehat kita dengan merokok, minum minuman beralkohol, mentatto tubuh kita? Kemana kita menghabiskan nikmat waktu luang kita? Tidur 20 jam sehari? Nonton TV 12 jam sehari? Nongkrong 10 jam? Ngrumpi?

Sungguh, beberapa pemuda saat ini telah banyak menyia-nyiakan kedua nikmat tersebut. Maka hendaknya kita belajar dari para ulama terdahulu yang benar-benar hati-hati dalam memanfaatkan ilmu.

Sejarah Islam mencatat nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang selama hidupnya telah membaca lebih dari 20.000 jilid buku dan menulis sekitar lima ratus judul buku selama hidupnya yang berumur 89 tahun.

Sejarah Islam juga mencatat nama Al-Imam Abul Wafa’ Ibnu Aqil Al-Hanbali Ali bin Aqil Al-Baghdadi. Beliau sangat memperhatikan waktunya sehingga beliau memilih memakan kue ka’kat  - sejenis kue basah – sehingga beliau bisa menyingkat waktu makannya lantaran tidak perlu minum setelah memakan kue tersebut. Maka tidak heran, beliau telah berhasil menyusun kitab Al-Funun yang dipercaya sebagai kita terbesar karena terdiri dari 800 jilid dengan berbagai cabang ilmu seperti fikih, sastra, syair, akhlaq, dan lain sebagainya.
1.  Demi masa.
2.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

6.    SMART UKHUWAH
Istilah ini yang kiranya tepat mewakili sosok Pelajar Muslim Ideal yang mampu menjaga silaturahim, pintar dalam memilih sahabat, dan smart dalam bergaul. Mari kita bahas satu per satu.

a.    Smart dalam memilih teman
Tidak bisa disangkal bahwa merosotnya moralitas para pelajar dan Pelajar saat ini adalah – salah satunya – disebabkan oleh karena mereka salah memilih teman. Teman yang baik adalah teman yang bisa mendatangkan manfaat di dunia dan di akhirat. Bukankah Allah telah berfirman:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf[43]: 67)

Rasulullah pun secara khusus meminta kita agar memperhatikan kepada siapa kita berteman seperti dalam hadist berikut yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

"Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat kepada siapa ia berteman" (HR. Tirmidzi no 2379 dan beliau berkata hadis ini Hasan).

b.    Smart dalam menjaga silaturahim
Hidup berjama’ah, atau berkelompok, dengan orang-orang baik tentu akan membawa kita pada kebaikan dunia dan akhirat. Bukankah jika kita berdekatan dengan tukang besi maka kita akan berbau bijih besi, sedang jika kita dekat dengan penjual parfum maka badan kita juga akan wangi? Oleh karena itu, jika kita telah menemukan sahabat yang tepat, hendaknya kita menjaga ikatan persahabatan tersebut. Menjaga silaturahim tentu juga berlaku pada hubungan dengan keluarga.

Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Waspadalah dengan perpecahan, karena sesungguhnya setan bersama orang-orang yang sendiri, dan dia lebih jauh dari orang yang berdua.

c.    Smart dalam bergaul
Pergaulan. Ya, dalam pergaulan kita memiliki dua opsi; mempengaruhi ataupun dipengaruhi. Jika kita bergaul dengan orang-orang jahat, maka ada kemungkinan kita terpengaruh jahat. Atau justru kita mampu mempengaruhi mereka agar meninggalkan kejahatan. Oleh karena Allah telah memberi kita rambu-rambu dalam bergaul melalui firman-Nya:
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS Luqman: 15).

Ayat ini jelas memerintahkan kita untuk taat pada orang tua atau pemimpin atau teman selama mereka memerintahkan atau mengajak kepada kebaikan. Namun jika mereka mengajak pada kejahatan, hendaknya kita menolaknya. Dan kita diminta menggauli mereka – entah Muslim atau non-Muslim – dengan baik jika mereka tidak meminta kita untuk berbuat kejahatan.

7.    MUKMIN KUAT LEBIH DICINTAI ALLAH DARIPADA MUKMIN LEMAH
Tidak sepantasnya seorang Muslim yang beriman dan senantiasa taat beribadah itu lemah, lunglai, dan lesu. Tidakkah kita merasa cukup dengan berbagai kisah heroik para Sahabat yang taat dalam beribadah namun mereka memiliki kekuatan fisik yang luar biasa?

Sahabat Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu contoh Sahabat yang pemberani dan mempunyai kekuatan fisik yang luar biasa. Diriwayatkan dari Al-Hakim dan Al-Baihaqi bahwa pada suatu penaklukan, Sahabat Ali mengangkat sebuah gerbang dari salah satu benteng tersebut. Setelah perang berakhir, empat puluh orang dari kaum Muslimin berusaha untuk mengangkat pintu gerbang tersebut akan tetapi mereka tidak kuat.

Pada penaklukan yang lain, Sahabat Ali dipukul oleh seorang Yahudi dengan menggunakan pedang. Maka Sahabat Ali segera membuang perisai yang dibawanya dan kemudia mengambil satu daun pintu gerbang suatu bentenglalu dia menjadikan pintu tersebut sebagai perisainya. Ketika perang selesai, Sahabat Ali membuang pintu gerbang tersebut dengan tangan satu tangan dan ada tujuh orang Sahabat yang hendak mengangkat pintu tersebut namun mereka kepayahan.

Sahabat Umar bin Khattab merupakan contoh lain dari sekian banyak Sahabat yang mempunyai kekuatan fisik jauh lebih dahsyat daripada sekedar Naruto atau Sasuke ataupun Guru Kakashi. Sejarah Islam mencatat bahwa jika Sahabat Umar bin Khattab hendak menaiki suatu kuda, maka ia memegang telinga kiri kuda dengan tangan kanan beliau dan melompat ke punggung kuda tersebut tanpa memegang bagian lain dari tubuh kuda tersebut.

Oleh karena itu, hendaknya kita sebagai pemuda Islam haruslah memiliki fisik yang kuat, iman yang teguh, taat beribadah dan pandai bergaul dengan etika-etika dan akhlaq yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasalam.

Berolahragalah! Niatkan olahragamu itu untuk beribadah; untuk mencari ridha Allah; untuk meniru sosok kepahlawanan para Sahabat! Bukan lagi saatnya pemuda Muslim itu lemah!

Ingatlah suatu hadis bahwa; “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Bukhari).

0 komentar:

Post a Comment