Latest Post

Perbedaan antara Maghfirah (مغفرة) dengan 'Afuw (عفو)

on Thursday, July 02, 2015 | 9:18 a.m.


Oleh Syeikh Abu Yusuf Precious Gems
Maghfriah adalah hak Allah untuk mengampuni kita atas segala dosa-dosa kita (dosa kecil, karena dosa besar hanya diampuni dengan taubat -red), tetapi dosa-dosa tersebut akan tetap tercatat di dalam buku amalan kita selama di dunia. Maghfirah adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, tetapi di Hari Pembalasan kelak, dosa-dosa tersebut tetap tertulis di dalam rapor kita. Allah akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut, tetapi Allah tidak akan menghukum kita karenanya

'Afuw adalah hak Allah untuk mengampuni dosa-dosa kita, lalu menghapusnya dari buku catatan amal kita selama di dunia. Seolah-olah, kita tidak pernah melakukan dosa-dosa tersebut. 'Afuw adalah ampunan Allah atas dosa-dosa kita, yang lalu dosa-dosa tersebut akan dihapus secara total dari rapor kita, dan Allah tidak akan menanyai kita tentang dosa-dosa tersebut di Hari Pembalasan

Itulah kenapa Rasulullah (ﷺ) memerintahkan kita untuk membaca dosa berikut di malam Laylatul Qadr:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni

(Ya Allah, Engkaulah Satu-satunya yang Maha Pengampun, dan Engkau suka memberi ampunan. Maka dari itu, ampunilah aku), (HR Ahmad, Ibn Majah, dan Tirmidhi)

Jadi, pastikan kita senantiasa membaca doa tersebut sepanjang waktu, sebanyak mungkin. Jadikan ia sebagai zikir harian kita.

Bayangkan bahwa diri kita sedang berdiri di Hari Pembalasan, dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan kita, dan kita tidak memiliki jaminan untuk memasuki Jannah-Nya.

Tiba-tiba, kita mendapati bahwa kita memiliki bergunung-gunung Hasanat (pahala) di dalam rapor kita.

Tahukah kita dari mana pahala yang begitu banyak tadi datang?

Karena ketika di Dunia, kita terus-menerus mengucapkan, "SubhanAllah wa bihamdihi, SubhanAllah al 'Adhim."

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda, "Dua kalimat yang ringan di lidah, tetapi berat timbangannya. Keduanya begitu disukai oleh Arrahman (Maha Pengasih) :

سُبْحَانَ اللّهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللّهِ الْعَظِيمِ

SubhanAllahi wa biHamdihi, Subhan-Allahi 'l-`adheem
(Mahasuci Allah, dengan segala pujian dan kesucian hanya teruntuk bagiNya, Yang Mahabesar), (HR Bukhari, Muslim).

Coba bayangkan betapa banyak pahala yang akan dilipatgandakan jika kita membagikan ilmu ini, ilmu tentang keutamaan berzikir mengingat Allah.

Betapa banyak yang akan mengucapkannya, dan kita akan mendapat aliran pahala dari mereka yang mengamalkannya setelah mengetahuinya dari kita.

"Sesiapa yang menunjuki orang lain pada kebaikan, baginya pahala yang sama dengan mereka yang melakukannya," (HR Muslim). Wallahu'slam bish shawwab


Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh: Irfan Nugroho

Husnuzon, Kunci Pengamalan "Fatwa" Hormatilah Orang-orang yang tidak sedang Berpuasa


Oleh Irfan Nugroho
Ramadan 1436 H (2015 M) ini disambut dengan "fatwa" (perhatikan tanda petik) nyentrik dari seorang publik figur di Indonesia yang menghimbau agar umat Islam yang menjalankan ibadah puasa berkenan "menghormati" mereka yang tidak berpuasa selama bulan Ramadan.

Alhasil, banyak yang pro, lebih banyak pula yang kontra. Mereka yang pro mendasarkan pendapatnya pada argumen semisal, "Puasa bertujuan membentuk insan bertakwa, bukan agar dihormati."

Benar! Tetapi jika argumen itu dibiarkan dan diterima secara luas begitu saja, maka perintah Allah untuk menegakkan "amar maruf nahi munkar" seolah-olah sudah tidak lagi tepat jika diterapkan di Indonesia, apalagi jika dibenturkan dengan dalih toleransi atau saling menghormati menurut cara pandang kaum liberal dan sekuler.

Nah, oleh karena marah di saat puasa Ramadan berpotensi mengurangi nilai ibadah puasa, maka mau tidak mau kita harus tetap mengamalkan "fatwa" tersebut. Bagaimana? Yakni dengan terus menumbuhkan sifat "husnuzon."

Jika kita melihat seseorang sedang asyik makan atau minum di tengah hari bulan Ramadan, mari kita ber-husnuzon bahwa ia tengah mengalami lima kondisi berikut. Artinya, jika ia mengalami salah satu kondisi berikut, maka ia diperbolehkan untuk tidak melaksanakan puasa Ramadan.

1) Hamil, menyusui, sakit atau dalam perjalanan
إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِع

"Allah telah membebaskan setengah shalat dan puasa, dari orang-orang yang bepergian, dan dari wanita yang hamil serta menyusui," (HR An-Nasai).

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"...dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." [QS. Al-Baqarah: 185].

2) Tua renta
 وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍؕ َ

"Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin," [QS. Al-Baqarah: 184].

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Ibnu Abbas berkata, "Ayat ini (Al-Baqarah: 184) tidak dimanshukh (diralat), namun ayat ini hanya untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin," (HR Bukhari).

3) Haidh atau nifas
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاة

"Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha' shalat," (HR Muslim).

4) Hilang akal (gila atau mabuk) atau belum dewasa
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُر

"Pena pencatat amal dan dosa itu diangkat dari tiga golongan; orang yang tidur hingga terbangun, orang gila hingga ia waras, dan anak kecil hingga ia balig," (HR Abu Dawud).

5) Kafir atau bukan orang Islam
Kewajiban puasa di bulan Ramadan khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman.

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," [QS. Al-Baqarah: 183].

Ayat di atas menggunakan redaksi, "يايها الذين امنوا" yang berarti seruan untuk orang-orang yang percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, kepada kitab-kitab Allah, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hati kiamat, dan kepada takdir yang baik atau yang buruk.

Ayat di atas tidak menggunakan redaksi, "Yaa ayyuhannas.." (Wahai seluruh manusia) apalagi "Yaa ayyuhal kaafiruun.." (Wahai orang-orang kafir). Maka dari itu, wajibnya puasa di bulan Ramadan hanya teruntuk bagi siapa saja yang percaya terhadap keenam hal tersebut di atas.

Jadi, ketika kita melihat seseorang sedang asyik makan, minum atau bahkan sekedar merokok di tengah hari bulan Ramadan, mari kita senantiasa ber-husnuzon. Bisa jadi, ia tengah mengalami kondisi pertama hingga keempat. Akan tetapi, jika keempat kondisi pertama itu tidak terdapat pada diri orang tersebut, bisa jadi ia adalah seseorang yang bukan pemeluk agama Islam. Wallahu’alam bish shawwab

Tuntunan Islam tentang Bayi baru Lahir #2: Kumandang Adzan di Telinga Kanan

on Thursday, June 25, 2015 | 3:14 p.m.


Oleh Syeikh Muhammad Suwaid
Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi* meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya.

Rahasia dan hikmah dari hal itu sebagaimana dikatakan oleh Dahlawi adalah:

a. Adzan merupakan bagian dari syi’ar-syi’ar Islam
b. Pemberitahuan tentang agama Muhammad
c. Mengkhususkan pengumandangan adzan pada bayi yang dilahirkan pada bagian telinganya
d. Di antara manfaat adzan adalah membuat setan lari. Setan bisa menyakiti sang bayi sejak awal kelahirannya, sampai di dalam hadist disebutkan bahwa ia bisa mati karenanya, (Ad-Dahlawi, dalam Hujjatullah Al-Balighah).

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا

Setiap anak Adam itu ketika dilahirkan akan digerakkan oleh setan ketika ia sedang dilahirkan sehingga dia menangis dengan keras akibat gangguan tersebut, kecuali Maryam dan Putranya.” Selanjutnya, Abu Hurairah Radhiyallahuanhu berkata, “Bacalah – jika kamu suka – firman Allah:

وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk, (QS Ali-Imran: 36)”

Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah mengungkapkan rahasia-rahasia lain dari pengumandangan adzan ini (sebagai tambahannya) sebagai berikut:

“Agar suara yang pertama-tama didengar oleh bayi manusia adalah kalimat-kalimat yang berisi kebesaran dan keagungan Allah, serta syahadat yang pertama-tama memasukkannya ke dalam Islam. Hal itu semacam talqin (pendiktean) baginya tentang syiar-syiar Islam ketika pertama kali memasuki alam dunia, sebagaimana dia di-talqin dengan tauhid ketika hendak keluar dari alam dunia ini.

Tidak bisa dipungkiri lagi tentang pengaruh adzan ini di dalam hati seorang bayi, sekali pun dia mungkin tidak merasakannya, seperti faedah berikut ini:

a. Setan akan lari ketika mendengar kalimat adzan. Setan telah mengintai sejak menjelang kelahirannya untuk mendekati agar bisa menggodanya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setan mendengar kalimat yang bisa melemahkannya serta membuatnya murka di awal-awal waktu untuk melakukan tipu dayanya

b. Agar seruan menuju Allah Subhanahu Wa Ta'ala menuju agama-Nya (Islam) dan menuju peribadahan kepada-Nya itu mendahului ajakan setan. Demikian juga agar fitrah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah digariskan itu mendahului godaan setan dan penyimpangan yang dilakukan olehnya,” (Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah, dalam Ahkaam Al-Maulud).

Anak yang dilahirkan itu, baik laki-laki atau pun perempuan, adalah sama saja. Dia merupakan anugerah dan pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan nikmatNya yang Dia berikan kepada hamba-hambaNya.

Imam Ath-Thabrani meriwayatkan hadist dari Ibnu Abbbas, bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Jika lahir seorang anak perempuan, maka Allah Azza Wa Jalla mengutus seorang malaikat kepadanya untuk membawakan berkah kepadanya lalu berkata, “Seorang anak perempuan yang lemah telah keluar dari seorang ibu yang lemah pula. Orang yang mau melindunginya akan mendapatkan pertolongan hingga hari kiamat.”

Jika lahir seorang anak laki-laki, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga mengutus seorang malaikat dari langit lalu mengecup kedua matanya dan berkata, “Allah menitipkan salam untukmu.

=========

*Dan hadist ini dianggap shahih oleh Syeikh Abdul Aziz bin Baaz, tetapi dianggap dhaif oleh Syeikh Nashiruddin Al-Albani. Artinya, ada perbedaan besar di kalangan ulama, yang kedua pendapat tersebut sama-sama didasarkan pada dalil masing-masing. Oleh karena itu, redaksi MukminunCom menghimbau bagi pendukung masing-masing pihak untuk bersikap toleran terhadap perbedaan ini.

Dua Ayat Sebagai Pondasi Bangunan Keluarga atau Masyarakat Islami

Oleh Syeikh Abdullah Azzam
Dua ayat saja di dalam Surat Al Hujurat yang menunjukkan makna yang dalam pada kehidupan manusia.  Bagaimana manusia membangun masyarakat Islam? Bagaimana seseorang itu hidup di tengah-tengah masyarakat muslim yang ditegakkan di atas landasan mahhabah (kecintaan), yang dipertalikan di atas landasan mawaddah (kasih sayang)?

Jika harakah Islamiyah tidak mengikuti sistem ini, dan tidak menjadikannya sebagai manhaj (khususnya dua ayat itu) maka tidak akan wujud suatu masyarakat muslim dan tidak akan wujud suatu Harakah Islamiyah, tidak akan sampai sasarannya serta tujuannya di persada bumi untuk selamanya.

Sesungguhnya hubungan diantara orang muslim dengan muslim yang lain, tegak di atas landasan mahabbah.  Maka dari itu, jika Baitul Muslim (rumah tangga muslim) yang jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari-jari tangan, jika harakah Islamiyah yang jumlah anggotanya tidak lebih dari seratusan atau seribuan personil, jika masyarakat muslim yang membentuk inti-inti kehidupan bagi seluruh alam, hendak berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh dan menancapkan kemapanannya di muka bumi secara mendalam, maka mereka harus beriltizam pada dua ayat tersebut.

Jika keluarga muslim tidak memperhatikan dua ayat tersebut, maka keluarga tersebut akan berubah menjadi persekutuan ekonomi, bahkan terkadang tanpa mendapatkan bayaran. Semua menjalankan peranannya dengan berat hati karena kejemuan telah melanda dan kebosanan telah mematikan semangatnya.  Semua berangan-angan untuk mendapatkan waktu yang tepat untuk melepaskan diri dari kehidupan yang menjemukan tersebut.

Demikian juga halnya, jika Harakah Islamiyah tidak memperhatikan dua ayat tersebut, mereka akan berubah menjadi perkumpulan ekonomi, yang tidak mempunyai modal serta tidak memberikan gaji kepada personelnya. Masing-masing personel menjalankan peran yang dibebankan di pundaknya dengan berat hati, dan merasa tanggung jawab yang terletak di pundaknya itu bagaikan gunung. Mereka merasa da’wah yang dikerjakan, bagaikan pelepas nyawa yang akan membinasakan kehidupan serta mengancam kemapanannya.

Tidak mungkin bagi Harakah Islamiyah dan rumah tangga muslim senantiasa hidup dalam keadaan demikian dan terus menerus demikian, pasti para personelnya akan terlepas satu demi satu, para anggota akan tercerai berai, pertemuannya tercabik-cabik dan mereka akan hilang tiada bekas.

Dua ayat mulia ini adalah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat : 12)


Sedangkan satu ayat yang lainnya telah tercantum pada pembukaan, yakni surat Al Hujurat ayat 11, yang mengandung tiga inti persoalan yaitu larangan mencela, larangan memperolok-olok, serta larangan panggil memanggil dengan gelaran yang buruk.

Tanya-Jawab Islam: Membaca Doa Khatam Al-Quran di Dalam Shalat, Bid'ah, kah?

on Monday, June 22, 2015 | 4:33 a.m.

Pertanyaan:
Apa pandangan Syaikh mengenai mereka yang berpendapat bahwa bacaan khatam al-Quran dalam shalat tarawih merupakan bid'ah yang diadaadakan?

Jawaban oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Saya tidak mengetahui dasar yang sahih mengenai doa khatam al-Quran dalam shalat yang didasarkan dari sunah Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- tidak pula amalan sahabat -radiallahu'anhum-. Isyaratnya ada pada apa yang di lakukan Anas Ibn Malik -radiallahu'anhu-, jika selesai (khatam) membaca al-Quran beliau mengumpulkan keluarganya dan menjamu mereka, akan tetapi hal ini tidak dilakukan di dalam shalat.

Shalat sebagaimana yang dimaklumi tidaklah disyariatkan mengadakan doa di tempat yang tidak terdapat sunah di dalamnya sebagaimana sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat," (HR Bukhari: 631).

Adapun menamakan bacaan khatam al-Quran di dalam shalat dengan bid'ah saya tidak suka mengatakannya seperti itu, karena ulama sunah berbeda pendapat tentangnya. Tidak semestinya kasar terhadap apa yang sebagian ulama menganggapnya mustahabbah (disukai), meskipun yang utama bagi seorang itu adalah betul-betul berupaya mengikuti sunah.

Dalam hal ini ada problema yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang konsisten menerapkan sunah, yaitu manakala mereka shalat di belakang imam yang membaca doa khatam al-Quran di rakaat terakhir, mereka keluar dan meninggalkan jamaah dengan dalih khatam al-Quran bid'ah. Perbuatan seperti itu tidak semestinya dilakukan karena akan menyebabkan perselisihan hati dan saling menjauhi, karena khilaf seperti itu tidak terjadi di antara imam mazhab. Imam Ahmad -rahimahullahtidak berpendapat istihbab (disukainya) qunut subuh. Meskipun demikian, beliau berkata:

"Jika seseorang mengimamimu dengan berqunut dalam shalat subuh maka ikutilah dia dan hendaknya mengamini doanya."

Poin masalahnya, sebagian saudara kita yang komit untuk mengikuti sunah dalam jumlah rakaat tarawih, jika shalat di belakang imam yang shalatnya lebih dari 11 atau 13 rakaat keluar dari jamaah jika melebihi jumlah tersebut, ini sesuatu yang semestinya tidak perlu terjadi dan menyelisihi perbuatan sahabat. Ketika Utsman Ibn Affân -radiallahu'anhumenyempurnakan shalat empat rakaat di Mina38 para sahabat -radiallahu'anhum- mengingkarinya, meskipun demikian mereka tetap shalat bersamanya hingga selesai.

Dimaklumi bahwa melakukan shalat empat rakaat saat dibolehkan mengqoshor lebih menyelisihi sunah dari pada menambah jumlah rakaat lebih dari 13 pada shalat tarawih. Meskipun demikian para sahabat tidak meninggalkan Utsman dan tetap shalat bersamanya. Sudah pasti para sahabat lebih peduli dari pada kita dalam mengikuti sunah, lebih benar pendapatnya dan lebih berpegang pada sunah seperti yang dituntunkan syariat Islam.

Kita meminta kepada Allah agar menjadikan kita semua termasuk yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya, mengetahui kebatilan dan menghindarinya.

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.