Latest Post

Mendudukkan Ikhtiar dan Tawakkal secara Proporsional

on Sunday, April 26, 2015 | 1:33 pm

Oleh Ust Abu Hasan Alim
Syeikh Said Hawa mengatakan, "Bersandar kepada usaha (ikhtiar) dan lupa kepada Allah maka itu adalah kemaksiatan kepada Allah. Ada pun bersandar kepada ikhtiar, dan meyakini bahwa kita bisa berubah tanpa peran Allah di dalamnya, maka ini adalah kemusyrikan."

Maka tawakkal kepada selain Allah adalah salah satu pembatal keislaman, dan tidak adanya pengakuan bahwa seluruh nikmat adalah berasal dari Allah, maka sikap tersebut juga merupakan pembatal keislaman.

Sikap seperti ini dapat dilihat pada Qorun yang meniadakan peran Allah dalam kesuksesannya. Ia mengklaim bahwa semua nikmat yg ia peroleh adalah berasal dari usahanya sendiri, tidak ada peran sedikit pun dari Allah. Nauzubillah min zaalik

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلٰى عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
"Qorun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." [QS Al-Qasas: 78]

Ada pelajaran tentang ikhtiar dan tawakkal yang sangat bagus dari Allah dalam Firman-Nya:

ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ رَمٰى
ٌ
"....dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar...." [QS Al-Anfal: 17].

Kita manusia bahkan tidak bisa mengatur diri kita sendiri. Ilustrasi, bisakah kita menulis angka lima sebanyak tiga kali dengan bentuk, ketebalan, dan ukuran yang sama?

Dan satu lagi ilustrasi, coba kita tulis aktivitas-aktivitas kita hari ini, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Lalu, coba kita perintahkan diri kita untuk melakukan aktivitas yang sama, di jam-jam yang sama, pada keesokan harinya. Mampukah kita?

Maka sekali lagi perlu kita ingat bahwa manusia tidak bisa mengatur dirinya sendiri, karena ada peran Allah yang sangat dominan di dalamnya.

Sungguh tepat kalimat Nabi Sulaiman:

قَالَ الَّذِى عِندَهُۥ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ

"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia"." [QS An-Naml: 40]

Tanamkan keyakinan bahwa ikhtiar adalah perintah Allah. Berusahalah karena usaha adalah perintah Allah, tetapi jangan bergantung kepada usaha dengan meniadakan peran Allah di dalamnya. Berusahalah, berikhtiarlah, dan serahkan (tawakallah) hasilnya kepada Allah.

Mari kita renungi Firman Allah berikut:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِى مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ

"Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai." [QS At-Taubah: 25].

Solusinya... Kita Awali dari Diri Sendiri

on Saturday, April 25, 2015 | 5:48 am

Oleh Irfan Nugroho
Diawali dari diri sendiri, lalu pada ruang lingkup yg ada di bawah kendali kita.

Saleh terlebih dahulu, muslih kemudian. Memperbaiki diri terlebih dahulu, memperbaiki sekitar kemudian.

Itulah kenapa Allah menggunakan, "..Jagalah dirimu dan keluargamu.." (At Tahrim: 6) bukan tetanggamu atau yang lainnya.

Menegakkan shalat dimulai dari diri sendiri yang mendisiplinkan hadir saat panggilan azan menggema, barulah keluarga kita seperti At Thaha: 132, "Perintahkan keluargamu untuk mendirikan shalat.."

Begitu pula dengan banyak hal yang lainnya. Diawali dari diri sendiri, lalu ke lingkup yang lebih luas yang ada di bawah kendali kita, lalu meranah ke lingkup yang lebih besar dan seterusnya.

Upaya memperbaiki lingkup yang lebih besar akan hampa tak bersisa jika diri ternyata jauh dari apa yang kita perbaiki. Itulah kenapa, Allah berfirman, "Mengapa kalian katakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.." (Ash Shaaf: 2). Wallahu'alam bish shawwab

Akhlak Salaf: Zuhudnya Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal

on Thursday, April 23, 2015 | 9:19 am

Oleh Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil dan Bahauddin bin Fatih Aqil

Dalam kitab Zuhud karya Ibnu Mubarak rahimahullah, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, ia berkata: 

‘Umar radhiyallahu ‘anhu datang ke negeri Syam dan disambut oleh para pemimpin dan pembesar. 

Umar berkata: ‘Di mana saudaraku Abu  Ubaidah? 

Mereka menjawab: ‘Ia datang sekarang.’ 

Lalu ia datang dengan menaiki unta yang diikat hidungnya dengan tali, lalu ia memberi salam kepadanya.

Kemudian ia berkata kepada semua orang: ‘Berpalinglah kalian dari kami.’

Lalu ia berjalan bersamanya hingga sampai ke  tempat tinggalnya.

Umar mampir kerumah Abu Ubaidah, namun Umar tidak  melihat di dalamnya benda-benda selain pedang, perisai dan tunggangannya. 

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya:  ‘Andaikan engkau menjadikan sesuatu, atau berkata sesuatu. 

Lalu Abu Ubaidah  radhiyallahu ‘anhu menjawab:  ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ini akan menyampaikan kita ke tempat terakhir.’ (Siyar A’lam Nubala`: 1/16)

Dari Nu’aim bin Hammad, dari Ibnu Mubarak, dari Muhammad bin Mutharrif, dari Abu Hazim, dari Abdurrahman bin Sa’id bin Yarbu’, dari  Malik Ad-Daar, bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu mengambil 400 dinar lalu berkata  kepada  gulam  (pegawainya): 

‘Pergilah dengannya kepada Abu Ubaidah, kemudian tunggu beberapa  saat di rumahnya hingga engkau melihat  apa yang dia lakukan. 

Maka ghulam itu pergi menemui Abu Ubaidah seraya berkata: 

‘Amirul Mukminin berkata kepadamu, ambilah ini.  

Lalu Abu Ubaidah berkata:  ‘Semoga Allah  Shubhanahu wa ta’alla menyambung dan memberi rahmat kepadanya.’ 

Lalu ia melanjutkan: 'Wahai jariyah, pergilah dengan tujuh (dinar) ini dan berikan kepada fulan, lima (dinar) ini kepada fulan hingga habis.

Lalu ghulam itu kembali kepada Umar  radhiyallahu ‘anhu dan mengabarkan kepadanya, ternyata Umar sudah menyiapkan hal serupa untuk Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.

Maka Umar mengutus pegawainya pergi   kepada Muadz hingga setelah bertemu, maka Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa ta’ala menyambungnya. Wahai jariyah, pergilah ke rumah fulan dengan ini, rumah fulan seperti ini.

Lalu muncul istri Muadzh radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: ‘Demi Allah, kita  adalah orang miskin maka berikanlah untuk kami.’ Dan tidak tersisa lagi di kain selain dua dinar maka dinar tersebut ia berikan  kepada istrinya.

Pegawai Umar pun pulang dan mengabarkan hal tersebut kepada Umar radhiyallahu ‘anhu.

Maka ia merasa senang dengan hal itu  dan berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah  bersaudara satu  sama lain.' (Syi'ar Alam An Nubala: 1/456)

Sumber: Aina Nahnu Min Akhlaqish Salaaf

Tanya-Jawab Islam: Hukum Bekerja di Bank Konvensional Meski Bank Itu Milik Pemerintah

on Wednesday, April 22, 2015 | 8:12 am

Pertanyaan: Apakah hukumnya bekerja di bank-bank konvensional yang melakukan transaksi ribawi, seperti Bank Mesir dan  Bank Ahli Mesir. Apakah hukumnya boleh (karena itu bank pemerintah dan yang bekerja di sana adalah PNS) atau tidak?

Jawaban oleh Lajnah Daimah untuk Riset Ilmu dan Fatwa

Riba hukumnya haram berdasarkan al-Qur`an, Sunnah dan ijma', dan ia termasuk yang diketahui dengan mudah dari agama Islam, dan bekerja di bank-bank yang melakukan transaksi ribawi hukumnya haram karena termasuk tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya," (QS. Al-Maidah: 2)

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengutuk orang yang memakan riba, yang memberikan makanannya, penulisnya, dua saksinya, dan beliau bersabda: 'Mereka sama saja," [HR Muslim]. 

Dan keputusan pemerintah memberikan ijin untuk membuka bank-bank konvensional dan mengembangkannya, atau membiarkannya tidak berarti boleh bagi seorang muslim untuk melakukan transaksi ribawi dan tidak berarti boleh bekerja di dalamnya, karena pemerintah tidak punya wewenang untuk menetapkan hukum syara'.

Sesungguhnya hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang punya wewenang untuk menetapkan hukum syara' di dalam Kitab-Nya yang Mulia atau wahyu-Nya kepada Rasul-Nya.

Wabillahit  taufiq,  semoga rahmat  dan salam  selalu tercurah kepada nabi  kita  Muhammad,  keluarga dan  para sahabatnya.

Sumber: Fatawa  Lajnah  Daimah  Untuk  Riset  Ilmu  dan Fatwa  (15/51).

Tanya-Jawab Islam: Menjadi Supir atau Satpam dan Semisal di Perusahaan Riba

Pertanyaan: Bolehkah bekerja  di  perusahaan  ribawi meski hanya menjadi seperti sopir atau petugas keamanan (satpam)?

Jawaban oleh Sheikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Tidak  boleh bekerja  di  perusahaan ribawi, sekalipun seseorang hanya  bekerja  sebagai  sopir  atau  petugas keamanan,  karena disebabkan  masuknya dia dalam  satu pekerjaan di  perusahaan ribawi  menandakan dia  ridha  dengan hal  itu,  sedangkan orang yang mengingkari  sesuatu  tidak mungkin bekerja  untuk  kepentingannya. 

Apabila  ia  bekerja untuk kepentingannya  maka sesungguhnya ia ridha  dengannya, dan ridha dengan sesuatu yang diharamkan juga mendapatkan dosanya.  

Adapun orang terlibat secara langsung seperti mendata, menulis, mengirim, menyimpan dan yang menyerupai hal  itu  maka tidak diragukan lagi bahwa terlibat  secara langsung melakukan yang haram.  Dan disebutkan dalam hadits dari Jabir radhiallahu anhu: 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengutuk orang yang memakai riba, yang mewakilkannya, penulisnya, dan dua saksinya.

Dan beliau bersabda:

"Mereka sama.” [HR Muslim]

Sumber: Majmu’ Durus Fatawa al-Haram al-Makki (3/369). 

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.