Latest Post

Tanya-Jawab Islam: Tentang Ucapan, "Kehendak Masyarakat Adalah Kehendak Tuhan"

on Saturday, September 06, 2014 | 6:45 am

 Saya telah membaca di buku-buku para pemikir (liberal dan sekuler) tentang ungkapan yang menyatakan bahwa '"Kehendak masyarakat adalah Kehendak Tuhan (Allah)', mohon dijelaskan pandangan Islam tentang ucapan seperti ini?

Jawaban oleh Syeikh Muhammad Shalih Al-Munajid
Alhamdulillah. Syaikh Abdurrahman Ad-Dusiri – Rahimahullah – pernah ditanya tentang ungkapan semacam itu.

Beliau menjawab:
“Ini jelas dusta besar, sikap nekat terhadap Allah yang dilakukan sebagian “ahli” filsafat pada sebagian madzhab serta mereka yang terpengaruh pemikiran tersebut.

“Sebuah sikap nekat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dalam segala bentuk kekafiran di sepanjang jaman karena paling banter yang diceritakan oleh Allah tentang kekafiran adalah ketergantungan kaum kafir dengan kehendak Allah, melalui ucapan mereka:

“Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun,” (Al-An'aam: 148).

Allah mendustakan mereka. Sekarang mereka menjadikan kehendak masyarakat sebagai pemutus perkara, untuk melegitiminasi program yang mereka terapkan. Kebohongan ini juga menunjukkan kerusakan program tersebut yang menjadi motivasi mereka melontarkan ucapan sedemikian rupa.

Menurut pendapat mereka, masyarakat berhak mengatakan dan berbuat apa saja dalam hidup mereka, dalam kondisi yang tidak terikat lagi oleh syariat dan Kitab Allah, namun dengan memeperturutkan hawa nafsu mereka, berdasarkan tuntutan materi dan syahwat serta kekuatan sendiri. Tak ubahnya dengan bangsa-bangsa kafir yang memang tidak memeluk agama Allah, mereka tidak memperdulikan etika moral dan sikap-sikap kemuliaan Islam.

Itulah kebohongan besar dari orang semacam Abu Jahal dan sejenisnya. Kebusukan ucapan tersebut secara aksiomatik dapat diterka oleh akal sehat, yakni perasaan dan tabiat dasar masyarakat sendiri itu berbeda-beda.
Kalau kehendak masyarakat itu dianggap sebagai kehendak Allah, maka segala kecenderungan Wihdatul Wujud, Komunisme, Nazisme, Zionisme, Kanibalisme dan lain-lain adalah kehendak Allah yang Allah perintahkan. Segala yang dikehendaki oleh hawa nafsu manusia yang jahat, kenistaan yang dirindukan oleh penyakit hati, kebebasan absolut, biusan minuman keras, gelitikan kehendaki hati, sekedar kehendak pemuas nafsu dengan mengorbankan orang lain, lantas menjadi perintah Allah juga.

Maka atas dasar apakah mereka berani mengkritik orang lain dan menggugatnya habis-habisan apabila kehendak rakyat dan keinginan mereka itu berasal dari kehendak Allah dalam keputusan yang pasti diridhai oleh Allah juga?

Untuk apa pula Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab, mensyariatkan jihad, menyuruh amar ma'ruf nahi mungkar kepada umat manusia, kalau kehendak mereka toh kehendak Allah juga yang diridhai-Nya?

Itulah sebuah kemustahilan, puncak dari segala kefasikan dan kesesatan, kebohongan yang selalu mereka klaim tetapi tidak mereka terapkan pada diri mereka sendiri. Bahkan, demi kebohongan itu, mereka memerangi bangsa yang tidak tunduk kepada kekuasaan mereka dan tidak berjalan di atas tujuan-tujuan mereka.

Seolah-olah, bangsa yang mereka perintah dengan kekuatan senjata dan tangan besi adalah bangsa yang menjadi perwujudan atas semua kehendak Allah, merupakan Tuhan yang diibadahi dengan kehendak Allah sendiri.

Kebatilan itu pasti akan saling bertentangan dan meneriakan kebatilan bagi mereka sendiri. Mereka telah melakukan syirik yang besar sekali terhadap Allah karena mereka menjadikan masyarakat sebagai tandingan bagi Allah, menjadikan hawa nafsu sebagai tandingan bagi Allah dan syariat serta hukum-Nya, sebagai ganti dari pengambilan keputusan dari Allah, dari berpegangteguh pada hukum-hukum dan syariatnya dan pelaksanaan seluruh perintah-Nya. Wallahu’alam bish shawwab. (Islamqa/Mukminun)

Teroris israel Perintahkan Bangun 283 Pemukiman Di Kawasan Palestina

Palestina, Mukminun.com – Pemerintah teroris israel pada Jumat (05/09/2014) mengeluarkan perintah untuk pembangunan 283 rumah baru bagi warga Yahudi di kawasan Tepi Barat, hanya beberapa hari setelah mereka mengumumkan rencana pencaplokan terbesar dalam tiga dekade terakhir.

Rencana perluasan pemukiman Elkana, di barat laut Tepi Barat, disetujui pemerintah zionis israel pada Januari lalu, dan tender untuk pembangunan blok-blok pemukiman bagi warga yahudi telah dikeluarkan pada Kamis lalu melalui Otoritas Tanah israel.

Di bulan yang sama, mereka juga mengatakan percepatan pembangunan 5.000 perumahan di Jerusalem Timur dan Tepi Barat, termasuk di Elkana, demikian kantor berita israel Haaretz melaporkan.

Menurut laporan, tindakan tersebut dikeluarkan sebagai balasan dari pihak israel atas disetujuinya pelepasan tahanan Palestina beberapa waktu lalu dalam suatu negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat yang berakhir gagal.

Pemerintah teroris israel pada Ahad lalu mengumumkan bahwa mereka berencana mencaplok kawasan Palestina seluas 400 hektar di antara kawasan Bethlehem dan Hebron. Rencana tersebut merupakan yang terluas dalam 30 tahun terakhir, terhitung sejak israel menjajah Tepi Barat pada 1980 lalu.

Menanggapi tindakan tersebut, ribuan umat Islam di Palestina turun ke jalan pada Jumat, 5 September 2014.

Aksi demonstrasi tersebut terjadi di beberapa kawasan di Palestina, seperti di desa Wadi Fukin dekat Bethlehem, desa Nabi Saleh dan desa Billin di dekat Ramallah. (Maan/Mukminun/Nugrohoirfan)

Dua Masjid Diserang Di Lower Saxony, Jerman

Jerman, Mukminun.com - Dua tempat ibadah umat Islam di negara bagian Lower Saxony, Jerman, dikabarkan telah mendapat serangan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Kepolisian setempat mengatakan bahwa serangan bom Molotov yang ditujukan pada Masjid Haci Bayram di Oldenburg telah terjadi pada akhir pekan lalu.

Otoritas Jerman disebut-sebut tengah melakukan investigasi atas serangan ke masjid yang memiliki hubungan erat dengan Departemen Urusan Agama Pemerintah Turki di Jerman.

Selain itu, masjid ini juga berfungsi sebagai kantor misi diplomatic Turki untuk rakyat Turki di luar negeri.

Tak ada laporan korban jiwa atas serangan yang ditengarai bermuatan politis tersebut. Hanya saja, beberapa bagian masjid dilaporkan mengalami kerusakan minor.

Serangan lain juga terjadi di suatu masjid di kawasan Molln. Lagi-lagi masjid ini juga memiliki afiliasi dengan Departemen Urusan Agama Pemerintah Turki di Jerman.

Parahnya, serangan kali ini merupakan yang kedua dalam dua pekan terakhir.

Total telah ada lima serangan yang ditujukan pada beberapa masjid di Jerman dalam satu bulan terakhir, empat di antaranya menggunakan api atau bom Molotov. (Worldbulletin/Mukminun/Nugrohoirfan)


Manhaj Al-Quran Dalam Menetapkan Wujud Dan Keesaan Al-Khaliq

on Tuesday, August 26, 2014 | 3:10 pm

Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Manhaj Al-Quran dalam menetapkan wujud al-khaliq serta keesaan-Nya adalah satu-satunya manhaj yang sejalan dengan fitrah yang lurus dan akal yang sehat, yaitu dengan mengemukakan bukti-bukti yang benar, yang membuat akal mau menerima dan musuh pun menyerah. Di antara dalil-dalil itu adalah:

1. Sudah menjadi kepastian, setiap yang baru tentu ada yang mengadakan.
Ini adalah sesuatu yang dimaklumi setiap orang melalui fitrah, bahkan hingga oleh anak-anak. Jika seorang anak dipukul oleh seseorang ketika ia tengah lalai dan tidak melihatnya, ia pasti akan berkata, “Siapa yang telah memukulku?”

Kalau dikatakan padanya, “Tidak ada yang memukulmu,” maka akalnya tidak dapat menerimanya. Bagaimana mungkin ada pukulan tanpa ada yang melakukannya.

Kalau dikatakan kepadanya, “Si Fulan yang memukulmu!” maka kemungkinan ia akan menangis sampai bisa membalas memukulnya.

Karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?” (Ath Thur: 35).

Ini adalah pembagian yang membatasi, yang disebutkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan shighat istifham inkari (bentuk pertanyaan yang menyangkal) guna menjelaskan bahwa mukadimah ini tidak mungkin lagi diingkari.

Allah juga berfirman, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun?” Maksudnya tanpa pencipta yang menciptakan mereka, ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri? Tentu tidak!

Kedua hal itu sama-sama batil. Maka tidak ada kemungkinan lain kecuali mereka mempunyai pencipta yang menciptakan mereka, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada lagi pencipta selain Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah…” (Luqman: 11).

“Perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi…” (Al-Ahqaf: 4).

“…Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaanNya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa,” (Ar-Ra’d: 16).

“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya,” (Al-Hajj: 73).

“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang,” (An-Nahl: 17).

Sekalipun sudah ditantang berulang-ulang seperti itu, namun tidak seorang pun yang mengaku bahwa dia telah menciptakan sesuatu. Pengakuan atau dakwaan saja tidak ada, apalagi menetapkan dengan bukti. Jadi, ternyata benar hanya Allah-lah Sang Pencipta, dan tidak ada sekutu bagi Allah.

2. Teraturnya semua urusan alam, juga kerapiannya adalah bukti paling kuat yang menunjukkan bahwa pengatur alam ini hanyalah Tuhan yang satu, yang tidak bersekutu atau pun berseteru.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain,” (Al-Mu’minun: 91).

Tuhan yang haq harus menjadi pencipta sejati. Jika ada tuhan lain dalam kerajaannya, tentu tuhan itu juga bisa mencipta dan berbuat. Ketika itu pasti, ia tidak akan rela adanya tuhan lain bersamanya. Bahkan, seandainya ia mampu mengalahkan temannya, dan menguasai sendiri kerajaan serta ketuhanan, tentu telah ia lakukan.

Apabila ia tidak mampu mengalahkannya, pasti ia hanya akan mengurus kerajaan miliknya sebagaimana raja-raja di dunia mengurus kerajaannya sendiri-sendiri. Maka terjadilah perpecahan, sehingga akan terjadi salah satu dari tiga perkara berikut ini:

a. Salah satunya mampu mengalahkan yang lain dan menguasai alam sendirian

b. Masing-masing berdiri sendiri dalam kerajaan dan penciptaan sehingga terjadi pembagian (kekuasaan)

c. Keduanya berada dalam kekuasaan seorang raja yang bebas dan berhak berbuat apa saja terhadap keduanya. Dengan demikian, maka dialah yang menjadi tuhan yang haq, sedangkan yang lain adalah hambanya.

Dalam kenyataannya, di alam ini tidak terjadi pembagian (kekuasaan) dan ketidakberesan. Hal ini menunjukkan pengaturnya adalah Satu dan tak seorang pun yang menentangNya. Dan bahwa Rajanya adalah Esa, tidak ada sekutu bagiNya.

3. Tunduknya makhluk-makhluk untuk melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri serta mematuhi peran yang diberikanNya.

Tidak ada satu pun makhluk yang membangkang dari melaksanakan tugasnya dan fungsinya di alam semesta ini. Inilah yang dijadikan hujjah oleh Nabi Musa alaihissalam ketika ditanya Firaun:

“Berkata Firaun, ‘Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?’ Maka Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk,” (Thaha: 49-50).

Jawaban Musa alaihissalam sungguh tepat dan telak, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” Maksudnya, Tuhan kami yang telah menciptakan semua makhluk dan memberi masing-masing makhluk dan memberi masing-masing maklhuk suatu ciptaan yang pantas untuknya; mulai dari ukuran besar, kecil dan sedangnya serta seluruh sifat-sifatnya kemudian menunjukkan kepada setiap makhluk tugas dan fungsinya.

Petunjuk ini adalah hidayah yang sempurna, yang dapat disaksikan pada setiap makhluk. Kamu dapati setiap makhluk melaksanakan apa yang menjadi tugasnya, apakah itu dalam mencari manfaat, atau menolak bahaya, sampai hewan ternak pun diberiNya sebagian dari akal yang membuatnya mampu melakukan yang bermanfaat baginya dan mengusir bahaya yang mengancamnya, dan juga mampu melaksanakan tugasnya dalam kehidupan. Ini seperti Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya,” (As-Sajdah: 07).

Jadi, yang telah menciptakan semua makhluk dan memberinya sifat penciptaan yang baik, yang manusia tidak bisa mengusulkan yang lebih baik lagi, juga yang telah menunjukkan kepada kemaslahatannya masing-masing adalah Tuhan yang sebenarnya. MengingkariNya adalah mengingkari wujud yang paling agung. Dan hal ini merupakan kecongkakan atau kebohongan yang terang-terangan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi semua makhluk segala kebutuhannya di dunia, kemudian menunjukkan cara-cara pemanfaatannya. Dan tidak syak lagi jika Dia telah memberi setiap jenis makhluk suatu bentuk dan rupa yang sesuai kodratnya.

Dia telah memberi setiap laki-laki dan perempuan bentuk yang sesuai dengan jenisnya, baik dalam pernikahan, perasaan dan unsur sosial. Juga telah memberi setiap anggota tubuh bentuk yang sesuai untuk suatu manfaat yang telah ditentukanNya. Semua ini adalah bukti nyata bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Tuhan bagi segala sesuatu, dan Dia yang berhak disembah, bukan yang lain.

Pada setiap benda terdapat bukti bagiNya
Yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa

Kemudian, tidak diragukan lagi, maksud penetapan rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas makhlukNya dan keesaanNya dalam rububiyah adalah untuk menunjukkan wajibnya menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata, tanpa sekutu bagiNya, yakni tauhid Uluhiyah.

Seandainya seseorang mengakui tauhid rububiyah, tetapi tidak mengimani tauhid uluhiyah, atau tidak mau melaksanakannya, maka ia tidak menjadi muslim dan bukan ahli tauhid, bahkan ia adalah kafir jahid (yang menentang). Dan tema inilah yang akan kita bahas pada pasal berikutnya, in sya Allah. Wallahu’alam bish shawwab.

Prinsip Kemandirian dalam Keluarga Islami

on Sunday, August 03, 2014 | 7:42 am

Oleh Ust. Tri Asmoro Kurniawan
Secara umum manusia itu nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan, maka satu yg sering dikhawatirkan adalah adanya fase-fase perubahan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru.
Pernikahan adalah fase perubahan dari kebiasaan-kebiasaan masa lajang menuju kebiasaan-kebiasaan rumah tangga.

Nikah adalah kemandirian. Sepasang suami istri hendaknya tidak terlalu menggantungkan dirinya pada orang lain seperti teman, saudara atau orang tua.

Begitu kita menikah, maka kita harus memiliki pola pikir kemandirian. Bukan lagi anak yang terus minta uang dari orangtua, bukan lagi anak SMA yang hobi chattingan, bukan lagi bujangan yang bisa bermain futsalel empat kali seminggu sembari menelantarkan istri dan anak di rumah.

Dalam hal apa keluarga islamu harus mandiri:
1. Tempat tinggal
Beberapa kakek/nenek tidak senang melihat anak kecil menangis. Maka sebisa mungkin, pasangan suami istri hendaknya mengusahakan memiliki rumah sendiri.

Dalam banyak kasus, kakek/nenek punya pengaruh banyak dalam pendidikan anak. Kadang mereka tidak mencampuri pendidikan anak dengan kata-kata, melainkan dengan sikap.

"Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka," (QS Ath Thalaq: 06).

Ini bukan berarti mutlak kita keluarga Muslim harus meninggalkan orangtua dan tinggal di rumah sendiri terpisah dari oranhtua. Boleh kita tetap tinggal bersama orangtua dengan alasan syar'i dan orangtua tersebut tidak akan mencampuri urusan pendidikan anak, atau jika orangtua kita punya kapasitas keilmuan yg tidak kita miliki.

2. Mandiri Finansial
Beberapa orangtua melarang anak anaknya segera menikah karena si anak tidak punya uang atau belum mapan secara finansial. Padahal, si orangtua tadi ketika menikah juga tidak punya apa apa atau belum mapan secara finansial.

"Barangsiapa yang bisa menjaminkan padaku bahwa dia tidak akan meminta-minta pada orang lain, maka aku jamin ia dengan surga," (HR Abu Dawud - Shahih).

Di Indonesia, 70% dari 333.000 kasus perceraian tahun 2013 adalah gugat cerai, atau wanita meminta cerai. Dari sekian kasus, sebagiannya karena masalah finansial.

"Tidaklah orang yang memints minta ada di antara kalian kecuali ia akan bertemu dengan Allah dengan wajaj yang tidak berdaging," (Hadist Shahih).

3. Mandiri dalam Mengatur Keluarga
Sebisa mungkin jangan libatkan orang lain dalam urusan dalam negeri keluarga Anda. Misal, banyak kasus di mana ikhwan sering ngeluh pada Ustadz, "Tadz, istri saya ga bisa masak! Gimana nih?" atau, "Tadz, suami saya marah nih.. Gimana?"

Contoh contoh ini adalah tanda bahwa suami dan istri tadi tidak bisa mandiri. Ia selalu merujuk pada orang lain, dan lupa bahwa Islam sudah punya solusi dan petunjuk dalam membangun dan mengatasi masalah dalam keluarga.

Selain Ustadz, pihak ketiga yang paling mungkin mencampuri urusan keluarga kita adalah orangtua. Banyak suami atau istri yang mengeluh pada orangtua mereka tentang kelemahan pasangan mereka. 

Selain itu, ada pula potensi gangguan dari saudara ipar. Ada juga potensi gangguan dari mantan pacar, maka yang musti diingat bahwa suami/istri kita sekarang adalah pasangan hidup kita, jangan berkhayal menjadi istri atau suami mantan kita dulu.

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.