Latest Post

Kumpulan Fatwa & Makalah Tentang Riba

on Friday, August 28, 2015 | 12:40 p.m.

Berikut kami kumpulkan fatwa & artikel tentang riba dari beberapa ulama. Semoga bisa membuat kita tersadar akan keharaman riba sehingga kuat itikad kita untuk berhenti dari praktik berbau riba. Berkas tersedia dalam bentuk PDF sehingga bisa dibaca melalui Smartphone.

1. Hukum Pekerjaan yang Bukan Riba di Perusahaan Ribawi

 Fatwa dari: Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_hukum_pekerjaan_yang_bukan_riba_di_perusahaan_ribawi.ok.pdf

2. Waspada terhadap Riba

Penulis: Dr Amin bin Abdullah As-Syaqawi

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Waspada_Terhadap_Riba.pdf

3. Cara Menghindari Bunga Bank Riba

Fatwa dari: Syeikh Abdullah Al-Jibrin

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_Cara_Menghindari_Bunga_Bank.pdf

4. Apakah Boleh Bekerja di Bank Konvensional

Fatwa dari: Syeikh Bin Baaz dan Syeikh Utsaimin

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_Apakah_Boleh_Bekerja_di_Bank_Konvensinal.pdf

5. Mengecam Riba dan Pelakunya

Fatwa dari: Sheikh Muhammad bin Abdullah bin Muadzir

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single2/id_Mengecam_Riba_dan_Pemakan_Riba.pdf

6. Agar Tidak Terjerat Riba

Fatwa dari: Sheikh Abul Hasan Muhammad Ihsan

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single2/id_Agar_Tidak_Terjerat_Riba.pdf

7. Hukum Menanam Saham di Bank Konvensional dan Menabung di Bank yg Menerapkan Bunga

Fatwa dari: Syeikh Bin Baaz

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_Hukum_Menanam_Saham_di_Bank_Konvensional.pdf

8. Hakikat Riba, Hukum dan Bahayanya

Penulis: Rikza Maulan, Lc. M.Ag

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single2/id_Hakikat_Riba_Dan_Bahayanya.pdf

9. Hukuman Bagi Pelaku Riba

Penulis: Abu Ishaq Al-Atsari

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single2/id_Hukuman_Pelaku_Riba.pdf

10. Membeli Flat (Rumah) dengan Uang Riba, Bagaimana Kalau Dia Bertaubat Dari Pekerjaannya?

Fatwa dari: Syeikh Muhammad bin Salih Al-Munajjid

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/id_islam_qa/id_islam_qa_82020.pdf

11. Hukum Gaji Pegawai Bank

Fatwa dari: Lajnah Daimah (MUI-nya Arab Saudi)

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_hukum_gaji_pegawai_bank.pdf

12. Bolehkan Bekerja di Bank-bank Konvensional (Ribawi)?

Fatwa dari: Syeikh Bin Baaz & Sheikh Utsaimin

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_Apakah_Boleh_Bekerja_di_Bank_Konvensinal.pdf

13. Memakan Harta Riba

Fatwa dari: Syeikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri

Download di: http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single3/id_Memakan_Harta_Riba.pdf

Ilmu Ditambah Adab Sama Dengan Takwa

on Tuesday, August 25, 2015 | 9:48 p.m.

Bukanlah kekayaan ilmu yang membuat kita terhindar dari siksa neraka; bukan pula semata adab yang luhur tetapi hampa dari penghambaan diri kepada Rabb semesta alam; dan bukan pula ketundukan tiada ilmu yang membuat kita menjadi dekat kepada Sang Pencipta.

Akan tetapi, kombinasi apik dari adab dan ilmu itulah yang membawa seseorang kepada ketakwaan, yang membuat kita terselamatkan dari malapetaka siksa neraka nan jahanam. Inilah maksud firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ  نَارًا...
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." [QS. At-Tahrim: 6].

"Didiklah mereka dan ajarilah mereka," demikian ungkap Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu ketika menjelaskan kandungan ayat di atas.

Ada perintah untuk menanamkan adab, oleh karenanya disebut pendidikan; ada perintah untuk memberikan ilmu yang karenanya disebut pengajaran.

Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan adab sebagai, "Himpunan perkara-perkara yang baik pada diri seorang hamba, yang meliputi; 1) adab kepada Allah, 2) adab kepada Rasulullah dan syariat, dan 3) adab kepada manusia.

Inilah satu dari sekian kompetensi dasar seorang manusia, umat Islam. Dirinya lengkap dengan adab dan ilmu, baik yg berkaitan dengan Allah, Rasulullah (Syariat) dan manusia.

Betapa banyak dari kita yang kadang terpukau dengan jargon "kajian ilmiah" meski di dalamnya kehormatan sesama muslim tercabik-cabik tiada tara. Pun betapa banyak dari kita yang merasa cukup dengan, "Yang penting tidak nyakitin orang," sedangkan hubungan kita bersama Allah dan syariatNya justru lebih sering kita lukai dan kita sakiti.

Itulah kenapa Ibnu Abbas menyebutkan adab sebelum ilmu, "didiklah" sebelum "ajarilah." Di sinilah letak urgensi adab di atas ilmu, persis seperti ungkapan Ibnu Mubarrak Rahimahullah, "Adab yang sedikit lebih kami butuhkan daripada ilmu yang banyak."

"Dengan ketaatan seseorang meraih surga, dengan adab seseorang meraih ketaatan," pungkas Abu Ali Ad-Daqqaq Rahimahullah.

Mengenang romantika pelajaran matematika di kala SD, "Dua ditambah satu sama dengan tiga, adab ditambah ilmu sama dengan takwa." Wallahu'alam bish shawwab.

Sukoharjo, 25 Agustus 2015
Yang miskin adab & fakir ilmu


Irfan Nugroho

Kata-Kata Bijak, Mutiara Hikmah Islam 24 Agustus 2015

on Monday, August 24, 2015 | 8:32 p.m.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki 1000 dirham (koin perak) dan apakah orang tersebut bisa dikategorikan sebagai orang yang zuhud; maka Imam Ahmad menjawab, "Bisa, tetapi dengan satu syarat, yakni; jika hartanya bertambah maka ia tidak merasa senang, dan jika hartanya berkurang maka ia tidak merasa sedih," ~Ibnu Qayyim dalam Madaarijus Salikin.

Kata-kata Bijak, Mutiara Hikmah Islam 23 Agustus 2015

Ooh.. Betapa banyak maksiat yang telah berlalu pada masa terjadinya; tetapi seolah-olah, kenikmatan dari berbuat maksiat itu tak pernah terjadi. Padahal, dampak buruk dari perbuatan maksiat itu terus saja tersisa - paling tidak akan selalu merasa getir karena menyesalinya, ~Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khatir

Tafsir Al-Quran Surat An-Naas #3 – Jin & Manusia, Dibisiki & Membisiki

on Tuesday, August 18, 2015 | 9:32 p.m.


Oleh Imam Ibnu Katsir
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ٦
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia,” (QS An-Nisa: 5-6).

Terkait ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥  apakah ayat ini khusus untuk manusia sebagaimana yang nampak jelas dari sisi redaksinya, atau berlaku umum untuk golongan manusia dan golongan jin? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; 1) Khusus manusia atau 2) termasuk juga golongan jin.

Menurut pendapat yang kedua, golongan jin termasuk ke dalam kata الناس (manusia) dalam konteks generalisasi. Ibnu Jarir berkata (mendukung pendapat kedua), “Dalam Al-Quran disebutkan kata رجال من الجن  (beberapa laki-laki dari golongan jin). Kata رجال telah digunakan pada mereka (jin) (padahal kata rijaalun biasanya digunakan untuk manusia), maka tidak menjadi masalah menggunakan kata an-naas “manusia” untuk golongan jin.

Selanjutnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ٦
Dari (golongan) jin dan manusia,” (QS An-Naas: 6).

Ayat ini menjelaskan kata الناس (manusia) pada ayat, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” Jadi, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjelaskan siapa yang membisikkan kejahatan tersebut dengan firmanNya, “Dari (golongan) jin dan manusia.” Tafsir ini memperkuat pendapat yang kedua (yang mengatakan bahwa lafaz الناس dalam ayat kelimat berlaku umum untuk jin dan juga manusia).

Ada yang berpendapat bahwa ayat, “Dari (golongan) jin dan manusia” merupakan tafsir dari lafaz الذي (yang) membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia (jadi yang membisikkan kejahatan pada manusia ada dua; jin dan manusia). Pendapat ini didasarkan pada firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ ...١١٢
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia),” (QS Al-An’am: 112).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Seseorang datang kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam lalu mengadu, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar berbicara dengan sesuatu (kepada diriku) di mana tersungkurnya aku dari langit lebih aku sukai daripada berbicara dengannya.”

Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam pun bersabda,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ


“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu daya (setan itu) kepada bisikan (saja),” (HR Ahmad, 1: 235 dan Abu Dawud: 5112, Shahih menurut Al-Albani).

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.