Latest Post

Israel Inginkan Warga Yahudi Bisa Beribadah Di Masjid Al-Aqsa

on Tuesday, October 21, 2014 | 11:08 pm

Palestina, Mukminun.com- Seorang anggota Arab Knesset mengungkapkan bahwa akan ada voting dalam beberapa bulan ke depan terkait rancangan "undang-undang" yang menghendaki adanya pembagian jatah penggunaan Masjidil Aqsa antara umat Islam dengan warga Yahudi.

Masoud Ghanayim, sebagaimana dikutip oleh harian Felesteen pada Senin kemarin, mengatakan bahwa "draft undang-undang yang telah disiapkan oleh komite parlemen dalam negeri mengatur bahwa warga Yahudi bisa menjalankan ibadah di Masjid Al Aqsa."

"Hal ini didasarkan pada proposal yg memberi hak sama antara umat Islam dengan yahudi terkait akses dan pengginaan tempat suci tersebut. Proposal itu juga mengatur lokasi-lokasi tertentu di mana Yahudi dapat menjalankan sembahyang mereka."

Perlu diketahui bahwa  baik hukum Rabbani maupun hukum Israel sama-sama melarang warga Yahudi untuk beribadah di Masjid Al Aqsa. Sebagian besar warga yahudi yang berupaya melakukan sembahyang di situs tersebut biasanya warga yahudi ilegal dari kelompok sayap kanan.

Kota Tua Jerusalem, tempat di mana Masjid Al Aqsa berada, dikenal dunia sebagai kawasan Palestina yang sedang dijajah Israel. Otoritas Israel sendiri juga sering melarang umat Islam Palestina untuk beribadah di sana.

Menurut Ghanayim, proposal tersebut juga menghendaki agar otoritas Israel bisa leluasa melarang aksi demo dan protes dari warga sipil Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa.

"Disetujuinya proposal UU tersebut akan menjadi agresi biadab terhadap hak-hak keagamaan Umat Islam di seluruh dunia," jelas Ghanayim.

"Masjid Al Aqsa adalah bagian dari dunia Islam dan dunia Arab dan tidak bisa dipecah belah kapan pun di mana pun. Ia adalah bagian dari tanah Arab dan tanah Palestina yang dijajah oleh Zionis dan penjajahan yang ilegal itu tidak semestinya menerapkan undang-undang seperti itu."(Middleeastmonitor/Mukminun)

Ulil Abshar Abdalla Dilarang Sampaikan Doktrin "Islam Liberal" Di Malaysia

on Thursday, October 16, 2014 | 5:56 am

Malaysia, Mukminun.com- Otoritas Malaysia melarang tokoh utama sekaligus pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Absar Abdalla, untuk menyampaikan materinya tentang fundamentalisme di Kuala Lumpur.

Meski demikian, kerajaan Malaysia juga tidak sepenuhnya melarang Ulil untuk menginjakkan kakinya di Malaysia. "Kalau mau makan angin, mau jalan-jalan boleh saja," kata Dubes Malaysia untuk Indonesia Dato Seri Zahrain Mohamed Hashim saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (14/10/2014).

Ulama dan pemerintah Malaysia melarang kehadiran Ulil karena dikhawatirkan bahwa materi presentasinya akan mempnegaruhi akidah umat Islam di sana.

"Kalau untuk meja bulat dilarang," tambah Dato Seri Zahrain.

"Keputusan ulama di Malaysia sudah bulat, Islam adalah agama resmi. Tapi juga tidak melarang berkembangnya agama lain. Namun untuk Islam, hanya akidah ahlussunah wal jamaah yang diperbolehkan, yang lain dilarang.

"Right or wrong i cannot say, itu keputusan pelembagaan.

"Bila ada program bincang pluralisme jadi masalah. Tokoh seperti Ulil ini, dia membawa ikut ajaran qodani Ahmadiyah. Bagi institusi agama Islam di Malaysia, isu qodani Ahmadiyah adalah penyelewengan dari ahlus sunnah waljama'ah," imbuhnya kepada DetikCom.

Menurut Dato Seri Zahrain, di Malaysia sesuai rapat para alim ulama pada 1966, dikeluarkan fatwa kebangsaan bahwa hanya akidah ahlussunnah waljama'ah yang dibenarkan.

"Dan menurut ulama Malaysia mereka yang terlibat keluar dari ahlussunnah waljama'ah tidak ada otoritas bercakap
atas isu Islam," tambah dia.

Atas dasar itu, ulama di Malaysia meminta kepada pemerintah untuk tidak mengizinkan Ulil masuk, hadir dalam diskusi bertema fundamentalisme di Kuala Lumpur pada 18 Oktober.

"Kementerian Dalam Negeri dari badan Islam tidak membenarkan Ulil datang ke Malaysia menghadiri meja bulat," ujar Seri Zahrain.

Tak hanya itu saja, ulama di Malaysia juga tengah meminta agar diskusi dibatalkan. "Karena tidak ada otoritas Islam yang di dalam meja bulat," tutup dia.

Menanggapi hal tersebut, Wasekjen MUI Amir Syah mengatakan bahwa Ulil seharusnya mulai melakukan introspeksi diri karena pencekalan terhadap dirinya tidak hanya terjadi kali ini saja.

"Ya kita menghargai otoritas sebuah negara. Kami tidak boleh mencampuri urusan negara lain, sah-sah saja Malaysia mencekal. Sebagai warga negara yang baik harus taat azas dan hukum di negara mana pun berada. Tentu berdasarkan itu mesti introspeksi diri, merenungkan, muhasabah," kata Amir Syah sebagaimana dikutip oleh DetikCom. (Detik/Mukminun)

Ganggu Ketenangan Masjid, Polisi Amankan Pria Kafir

Australia, Mukminun.com- Seorang pria nonmuslim terpaksa diamankan kepolisian setempat setelah membuat onar di suatu Masjid di Sydney pada Selasa 14 Oktober 2014.

Juru bicara kepolisian mengatakan bahwa seorang pria 39 tahun tiba-tiba memasuki masjid di Auburn, Sydney, dan membuat kekisruhan dengan melancarkan kata-kata kotor kepada jamaah. Ia juga mengangkat kursi dan mengancam melemparkannya kepada seorang Muslimah yang mencoba menenangkannya.

Pria tersebut lantas diamankan dan dibawa ke kantor polisi Auburn, di mana ia akan menghadapi dakwaan pelecehan, intimidasi dan tindakan ofensif di tempat umum.(Sydneymorningherald/mukminun)

40 Muslim Sipil Di Suriah Gugur Akibat Serangan Pasukan Koalisi Syiah+AS

Suriah, Mukminun.com- Syrian Observatory for Human Roghts melaporkan bahwa jumlah korban jiwa dari pihak Muslim sipil menyusul serangan pasukan koalisi Syiah dan AS pada Selasa, 14 Oktober 2014, mencapai 40 orang.

Jumlah korban jiwa warga sipil terbanyak terjadi di Reef Dimasqh dengan 27 orang, disusul Homs dengan 6 orang.

Di Deer Zuur sendiri, 1 muslim sipil dikabarkan gugur akibat serangan koalisi Syiah dan AS terhadap mujahidin ISIS (IS) dan Jabhah Nusrah dan faksi-faksi lain, sedang di Idlib dan Aleppo, masing-masing dilaporkan terdapat dua korban jiwa.

Dari pihak pasukan kafir koalisi Syiah dan AS, sebanyak 87 orang dilaporkan mati sia-sia di jalan thaghut, sementara dari pihak mujahidin gabungan (JN, ISIS dan lainnya) sebanyak 100 orang.(Syrianhr/Mukminun)

Mengenal Sisi Negatif Dunia #1

on Saturday, October 11, 2014 | 5:35 am

Oleh Ziyad Abu Irsyad
Di balik gemerlapnya dunia dan segala macam perhiasannya yang menyilaukan mata yang memandang, yang membuat manusia tergoda untuk memilikinya, yang menjadikan orang-orang berambisi untuk menguasainya, ibarat bunga dunia dengan berbagai rupa, wanita, anak-anak, harta baik emas, rumah megah, mobil mewah, serta yang lainnya, kekuasaan, gelar, pangkat, pengaruh, ilmu dan masih banyak lainnya, di balik semua itu, ternyata dunia lebih banyak memiliki sisi negatif daripada sebaliknya.

Oleh karena itu, para salaf sangat takut dengan ujian dunia. Sahabat ‘Abdurrahman bin ’Auf berkata: “Dahulu kami diuji bersama Rasulullah dengan kesengsaraan, maka kami (mampu) bersabar. Kemudian setelah Nabi meninggal, kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bersabar," (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2464).

Bahkan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sudah mewanti-wanti tentang dunia ini melalui sabda beliau:

“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi aku khawatir akan dibukakan lebar-lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar dunia ini kepada orang-orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Dan nantinya, kemewahan dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka, umat terdahulu," (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sisi negatif dunia yang pertama adalah bahwa dunia itu ujian. Ya, dunia adalah ujian, bukan hasil akhir, atau semata-mata balasan dan kasih sayang Allah kepada kita.

Seseorang yang dibukakan pintu dunia bukan berarti ia disayang Allah, dan jika disulitkan rezekinya atau ditutup pintu dunia atasnya, bukan berarti pula ia tidak disayang dan dicintai oleh Allah. Miskin atau kaya, semuanya adalah ujian Allah. Allah ingin menguji kita, mana yang bersabar saat miskin dan mana yang bersyukur di saat kaya, dan mana yang paling baik amalnya.

Allah berfirman dalam surat Al Fajr: 15-16:

Fajar (Al-Fajr):15 - Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".

Fajar (Al-Fajr):16 - Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".

Jadi sebenarnya, jika seseorang dibukakan pintu dunia kepadanya berupa pangkat misalnya, promosi jabatan atau gaji naik atau usahanya maju atau dagangan laris, atau perusahannya berkembang pesat, maka saat itulah sebenarnya kita sedang diuji, apakah kita dapat bersyukur atau tidak.

Itu semua bukan balasan dari kebaikan kita, atau jawaban dari doa kita. Bukan pula Allah meninggikan derajat kita atau memuliakan kita dari orang lain. Tidak! Jika kita kaya, kita tidak lebih mulia dari di bawah kita, karena Allah sudah memiliki standar kriteria sendiri untuk menentukan siapa orang yang mulia, siapa yang hina, yaitu dari tingkat ketakwaan seorang hamba kepada syariat Allah, tanpa memandang kaya atau miskin, tanpa melihat status sosial dan harta kekayaan yang dimilikinya.

Banyak ayat atau hadits yang menyebutkan bahwa diantara balasan pahala Allah ini ada yang diberikan di dunia sebagai wujud kasih sayang Allah bagi mereka orang-orang yang beriman. Akan tetapi, tidak semata-mata mendapat dunia lalu kita boleh merasa disayang dan dimuliakan oleh Allah. Jika demikian, orang-orang kafir tentu lebih disayang Allah karena dunia dibukakan secara lebar-lebar kepada mereka. Kalla! Sungguh tentu tidak!

Lalu bagaimana kita bisa mengetahui apakah dunia yang kita miliki ini adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah?

Jika kita mendapat dunia karena ketaatan kita kepada Allah, maka itulah kasih sayang dan fadilah atau karunia yang Allah berikan kepada kita. Jika harta kita membuat kita semakin khusyuk dalam shalat atau semakin membuat kita bertakwa, maka di situlah Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada kita dalam wujud harta dunia.

Akan tetapi, jika kita mendapat dunia karena bermaksiat kepada Allah, dengan melanggar syariat-syariatNya, maka itulah yang dinamakan istidrooj atau dalam istilah Bahasa Jawa "ngelulu," yakni memberikan kesenangan dunia terlebih dahulu kepadanya, lalu nanti di akhirat, ia akan diazab dengan yang berlipat-lipat.

Jika kita mendapat nikmat dunia dari korupsi, riba, judi, curang dalam timbangan, menipu, merampok, menjadi biduan, dengan mengumbar aurat dan usaha haram lainnya, maka itulah yang dinamakan istidrooj.

Jika kita mendapat nikmat dari beribadah, usaha yang halal dan jujur maka itu adalah rahmat. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

"Bila kalian melihat Allah memberi nikmat kepada hamba-Nya yang selalu berlaku maksiat (durhaka), ketahuilah bahwa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala," (HR At-Tabrani, Ahmad dan Al-Baihaqi).

Maka, mari renungkan sejenak darimana kita mendapat dunia, dengan cara apa kita mendapat dunia dan bagaimana kita mendapat dunia, lalu mari kita nilai sendiri apakah ini semua adalah rahmat Allah ataukah adzab Allah... Wallahualam bish shawwab.

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.