Pendaftaran Santri Baru Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

Latest Post

Muslim Kagetan

on Thursday, February 11, 2016 | 3:16 pm

Ada yang bilang antum itu, para aktivis dakwah yang peduli dengan urusan umat, sebagai Muslim kagetan lho. Ada kasus ini, antum bersuara. Ada kasus itu, antum bersuara.

Tentang LGBT misalnya, ada yang bilang antum kagetan lho; karena LGBT itu pan udah ada lama. Jumlahnya banyak, persis seperti gunung es, nyang keliatan cuman atasnya doank, bawahnya yang lebih guede ternyata ndak kelihatan.

Jika memang iya, mari kita coba berpikir seperti mereka yang menuduh antum sebagai Muslim kagetan.

Nabi Luth Alaihissalam hidup di zaman sebelum Rasulullah ; sedang perilaku homoseksual sudah terjadi di zaman Nabi Luth Alaihissalam, jauh sebelum zaman Rasulullah .

Lalu apa iya ketika Rasulullah bertitah, “Siapa saja yang mendapati perilaku Kaum Luth, maka bunuhlah keduanya,” (HR Tirmizi, Ahmad) lantas kita boleh mengoceh, “Rasulullah kok baru heboh setelah beratus-ratus tahun muncul fenomena homoseksual. Pan Nabi Luth Alaihissalam hidup jauh sebelum Rasulullah lahir, bro?”

Atau, apa iya ketika Rasulullah bertitah kepada para sahabat Radhiyallahuanhum, “Siapa saja yang melihat kemungkaran, maka ubahlah,” (HR Muslim) terkait LGBT lalu kita bisa seenak sendiri mengatakan, “Rasulullah kok kagetan sih? Kan LGBT sudah ada ratusan tahun sebelum beliau , bro?”

Nah bisa jadi, orang yang bilang antum Muslim kagetan itu juga bakal bilang gue ini Muslim kagetan juga lho. Pan ane juga langsung nulis beginian setelah die nulis begituan.

Terakhir...

Ingat, firman Allah (Tuhannya dia, antum dan ane) QS Huud ayat 82; itu diwahyukan kepada kanjeng Nabi juga beratus-ratus tahun setelah ada fenomena LGBT di zaman Nabi Luth Alaihissalam, lho. Lalu apa iya....? (Saya ndak tega ngelanjutinnya).

Semoga Allah memberi hidayah kepada dia agar hati-hati dalam berbicara. Aamiin


Wallahu’alam bish shawwab

Membunuh Gay (Homo) adalah Kewajiban Penguasa


Pertanyaan:
Bolehkah seseorang membunuh pria homoseksual? Atau, apakah dia harus melaporkannya kepada pemerintah dan pihak yang berwenang?

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqitti
Segala puji bagi Allah, Raab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Tidak diragukan lagi bahwa seorang Muslim yang menyaksikan perbuatan yang sangat keji seperti itu harus melakukan yang terbaik untuk mengubahnya, sesuai dengan kemampuannya, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghancurkan Kaum Luth Alaihissalam atas perbuatan seperti itu:

فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا جَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَةٗ مِّن سِجِّيلٖ مَّنضُودٖ ٨٢ 

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,” (QS Huud [11]: 82).
=================
Baca juga:
Hukuman bagi Pelaku LGBT
=================
Dengan nada yang sama, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah,” (HR Muslim).

Akan tetapi, adalah sebuah kesalahan besar untuk bertindak seperti yang Anda sebutkan di dalam pertanyaan, karena membunuh orang yang memang layak untuk dibunuh – setelah mengadakan pembuktian serta menerapkan hukuman yang diajarkan di dalam Syariat – adalah kewajiban mereka yang memiliki wewenang, bukan perorangan. Sebaliknya, saran Anda untuk membunuh orang-orang seperti itu justru menyebabkan kebingungan dan kerusakan.

Dalam hal ini, Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:

“Tak ada yang boleh mengubah kemungkaran dengan melakukan sesuatu yang lebih parah (dari kemungkaran itu sendiri). Sebagai contoh, jika setiap orang memiliki hak untuk memotong tangan pencuri, mencambuk orang yang meminum khamar, menegakkan hukuman seperti yang diajarkan di dalam Syariat, maka hal ini akan menimbulkan kebingungan dan kerusakan, karena hal ini akan mendorong setiap orang untuk mengklaim bahwa orang lain harus dihukum. Pada prinsipnya, tugas seperti ini dibebankan kepada penguasa.”

Akan tetapi, jika kemungkaran itu tetap eksis dan terus berlangsung, seorang Muslim harus mengubahnya dengan syarat bahwa tindakannya itu tidak menimbulkan kejahatan atau kerusakan yang lebih besar. Dengan kata lain, seseorang yang memikul tanggung jawab mengubah kemungkaran tidak boleh melakukan sesuatu di luar yang diperlukan untuk meraih tujuannya.

Selain itu, Imam Al-Haramain Rahimahullah berkata:

“Setiap individu boleh mencegah seseorang dari melakukan perbuatan dosa besar secara paksa, jika orang tersebut tidak bisa dihentikan melalui kata-kata. Akan tetapi, jika situasi seperti itu justru menyebabkan perkelahian dan penggunaan senjata, maka pengambilan tindakan terhadapnya harus dibatasi pada wewenang penguasa saja.”

Al-Ghazali di dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan kaidah yang komprehensif seperti berikut:

“Setiap individu hanyalah objek kemungkaran (berpotensi menjadi sasaran kemungkaran –pent). Cara-cara dan berbagai pilihan hukuman untuk tindak kejahatan yang telah lalu atau mencegah kejahatan adalah kewajiban penguasa, bukan subjeknya (pelaku).”

Dari sini kami menyatakan bahwa hal terbaik yang bisa dilakukan adalah memberi penjelasan kepada penguasa serta mereka yang memiliki wewenang agar mereka dapat menerapkan peraturan dan perintah Allah di dalam praktik yang nyata. Sebaliknya, adalah lebih baik untuk memberi nasihat, menyeru kepada pelaku maksiat untuk menghindari perbuatan seperti itu dan meluruskan perkara tersebut sesuai kemampuannya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Fatwa No: 84227
Tanggal: 13 Rabiul awal 1423 (25 Mei 2002)

Sumber:
http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&lang=E&Id=84227&Option=FatwaId

Hukuman bagi Pelaku LGBT


Pertanyaan:
Assalamu’alaikum! Apa hukuman bagi pelaku homoseksual di dalam hukum Islam?

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqitti
Segala puji bagi Allah, Raab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Jika yang dimaksud penanya adalah Gay (Suka sesama laki-laki), maka ulama berbeda pendapat tentang cara yang diajarkan (oleh Syariat) dalam memberi hukuman bagi pelakunya. 

Akan tetapi, banyak dalil mendukung pendapat yang mengatakan “hukuman mati” adalah hukuman yang diajarkan (oleh Syariat) bagi siapa saja yang terlibat di dalam tindakan homoseksual.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ, فَاقْتُلُوا اَلْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Barangsiapa mendapati seseorang melakukan seperti yang dilakukan Kaum Luth, maka bunuhlah keduanya, si pelaku dan orang yang berbuat bersamanya,(HR Tirmizi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Sungguh, telah banyak ulama yang mengutip ijma (konsensus) di antara para sahabat Radhiyallahuanhum tentang hal ini. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang cara menjatuhkan hukuman mati tersebut. 

Beberapa dari mereka mengatakan bahwa dia (pelaku homoseksual) hendaknya: 1) dibunuh dengan pedang, atau 2) dirajam (dikubur sebatas leher lalu dilempari batu sampai mati), atau 3) dibakar, juga ada pula yang mengatakan bahwa 4) hendaknya dia dibawa ke puncak tertinggi di suatu kota lalu dijatuhkan dari sana dan dilempari batu dari atas, persis seperti hukuman yang ditimpakan Allah kepada Kaum Luth. 

Akan tetapi, hanya penguasa Muslim yang boleh menerapkan hukuman ini.
=====================
Baca Juga:
Membunuh Gay adalah Kewajiban Penguasa
=====================
Semua hukuman di atas berlaku untuk Gay; sedang bagi lesbian, ada kesepakatan di antara para ulama bahwa hal itu (lesbianisme) adalah haram, dan banyak ulama yang menilainya sebagai dosa besar. Setiap wanita yang terlibat di dalamnya, maka dia telah berbuat dosa besar dan dia harus bertaubat dan memohon ampunan Allah.

Tentang hukuman yang diajarkan (oleh Syariat) bagi lesbian, Ensiklopedia Fikih (Kuwait) mengatakan:

“Pada Fuqaha (ulama ahli fikih) sepakat bahwa tidak ada hukuman yang diajarkan (oleh Hukum Islam) bagi lesbian, karena lesbianisme bukanlah zina, tetapi wanita yang melakukannya harus diberi peringatan karena lesbianisme adalah tindak kemaksiatan.”

Wallahu’alam bish shawwab

Fatwa No: 92314
Tanggal: 18 Rajab 1427 (13 Agustus 2006)

Sumber:
http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=92314

Sukoharjo, 11 Februari 2016
Nguter-Sukoharjo

Ketika Khutbah Jumat, Khotib Batal Wudhunya


Pertanyaan:
Kepada saudara kami di dalam Islam. Apa yang seharusnya dilakukan Imam jika wudhunya batal ketika sedang menyampaikan khutbah jumat?

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqitti
Segala puji bagi Allah, Raab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Jika seorang khatib (orang yang memberikan ceramah khutbah Jumat) batal wudhunya ketika menyampaikan khutbah Jumat, dia tidak bersalah dan dia harus terus melanjutkan khutbahnya tanpa harus melakukan apa-apa. Suci bukanlah syarat untuk menyampaikan khutbah Jumat.

Al-Hajjawi Rahimahullah, di dalam Zaadul Mustaqni, berkata:

“Suci bukanlah syarat sah untuk keduanya (dua khutbah jumat).”

Ketika sang Imam telah menyelesaikan khutbahnya, maka dia memiliki dua pilihan:

1. Memberi wewenang kepada orang lain untuk memimpin Shalat, karena bukan suatu syarat orang yang menyampaikan Khutbah Jumat menjadi Imam Shalat. Penulis Zaadul Mustaqni berkata, di akhir pernyataan yang telah disebutkan di muka:

“Bukanlah suatu kewajiban orang yang menyampaikan Khutbah Jumat menjadi orang yang memimpin salat.”

2. Berwudhu setelah menyelesaikan khutbah, lalu memimpin Shalat Jumat. Hal ini tidak berpengaruh terhadap keabsahan tindakannya selama jeda waktu antara khutbah Jumat dan salat Jumat tidaklah lama. Ibnu Qudamah Rahimahullah, di dalam Al-Mughni, berkata:

“Runut antara Khutbah Jumat dan Salat Jumat adalah wajib. Jika Imam harus mengembalikan kesuciannya, dia bisa berwudhu lalu melakukan Shalat Jumat selama interval (jeda waktu) yang memisahkan keduanya (Khutbah Jumat dan Shalat Jumat) tidaklah lama.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Fatwa No: 67964
Tanggal: 9 Dzulqadah 1436 (24 Agustus 2015)

Sumber:
http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=67964

Sukoharjo, 11 Februari 2016
Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo

Nguter-Sukoharjo

Hukum Pelembut Pakaian Berbahan Lemak Babi

on Wednesday, February 10, 2016 | 10:33 pm


Pertanyaan:
Assalamu’alaikum.
Saya menggunakan cairan pelembut kain dan lembaran pelembut kain ketika mencuci. Saya membaca bahwa kedua jenis pelembut ini mengandung lemak babi dan lemak daging sapi.

Apakah ini artinya kedua jenis pelembut ini haram? Atau, apakah keduanya berubah sedemikian rupa sehingga menjadi halal? Jika haram, apakah baju saya menjadi najis sekarang? Lalu, apakah salat saya tidak sah dan saya harus mengganti semua salat (yang sebelumnya)?

Mohon jawaban Anda sesegera mungkin. Baarakallahu fiik.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqitti
Segala puji bagi Allah, Raab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Jika (lemak) babi tersebut diperlakukan sampai benar-benar berubah menjadi bentuk lain, lalu ia ditambahkan ke dalam cairan seperti yang Anda sebutkan di dalam pertanyaan di atas, maka, menurut pendapat yang lebih mendekati benar adalah boleh untuk menggunakannya karena proses pengolahan tersebut telah menjadikannya suci.

Ibnul Qayyim Rahimahullah, di dalam A’lamul Muwaqiin, berkata:

“Mustahil hukum najis tetap ada ketika jenis dan sifat (kenajisan) pada suatu benda telah berubah. Hukum itu dikaitkan dengan jenis dan karakter. Ada dan tiadanya (najis) tergantung pada apakah jenis dan karakter itu ada atau tidak ada. Teks-teks yang berlaku pada larangan daging mati, darah, daging babi, dan alkohol, tidak berlaku pada tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, abu, garam, atau cuka, baik di dalam zahir lafalnya, atau maknanya, atau teksnya, atau analoginya.”

Akhir kutipan.

Akan tetapi, jika lemak babi itu dimasukkan ke dalam cairan sebelum lemak babi itu berubah (sebelum diolah sampai berubah atau masih mentah), maka ia tetaplah najis, dan jika baju dicuci dengannya, maka zat tersebut akan membuatnya najis.

Jika kasusnya seperti ini, maka Anda harus menghindari penggunaan cairan ini untuk mencuci baju yang Anda pakai untuk melaksanakan salat, karena cairan itu membuatnya najis. Sebagaimana diketahui, salah tidak sah dengan pakaian yang terdapat najis ketika si pemakai tahu akan adanya najis tersebut dan bisa mengubahnya (mengganti dengan pakaian lain untuk salat).

Tentang salat Anda yang sebelumnya (jika memakai pakaian yang najis), maka menurut pendapat beberapa ulama, Anda tidak wajib mengulanginya jika Anda saat itu tidak mengetahui bahwa cairan tersebut adalah najis.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata tentang seseorang yang salat dengan pakaian yang najis sedangkan orang tersebut tidak mengetahuinya:

“Dia tidak perlu mengulangi salatnya, terlepas dari apakah dia lupa (bahwa ada najis pada pakaiannya), atau lupa mencucinya, atau tidak tahu bahwa ada kotoran padanya, atau tidak sadar bahwa hal itu adalah najis, atau tidak tahu hukumnya, atau tidak tahu apakah (najis itu menempel di bajunya) sebelum atau sesudah salat.”

Juga, di dalam Fatwa Nuur Alad Darb, beliau berkata:

“Jika seseorang melakukan salat dengan adanya najis (baik pada tubuhnya atau bajunya), sedangkan dia tidak mengetahuinya, maka dia tidak perlu mengulanginya. Hukum yang sama berlaku pada seseorang yang tidak mengetahui bagaimana hukumnya…”

Wallahu’alam bish shawwab.

Fatwa No: 313504
Tanggal: 29 Rabiul Akhir 1437 (9 Februari 2016)

Sumber:
http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=313504

Sukoharjo, 10 Februari 2016
Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa
Nguter-Sukoharjo

www.el-taqwa.com

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.