Latest Post

Membangun Qaidah Shalabah (Kelompok Inti)

on Friday, January 23, 2015 | 6:50 am


Oleh Sheikh Abdullah Azzam
Qaidah Shalabah menjadi fokus pembinaan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam tempo yang lama. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh berkualitas seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mus’ab, Hamzah, dan lain-lain. Kelompok ini dibina di Madinah Munawarah. Pada saat terjadi murtad massal di Jazirah Arab yang telah dikuasai Islam, mereka dapat mengembalikan seluruh jazirah ke dalam Islam karena kuat dan solidnya kelompok tersebut.

Kelompok inilah yang telah melahirkan tokoh sekaliber Abu Bakar. Pada saat beberapa kabilah Arab menolak membayar zakat (sepeninggal Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam), beliau Ash Shiddiq berdiri dan berkata dengan tegas, “Demi Allah, sekiranya mereka mencegahku untuk memungut anak kambing (dalam riwayat lain dikatakan unta betina) yang dahulu mereka bayarkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, pasti aku akan memerangi mereka, atau aku akan binasa karenanya.”

Ketika itu, salah seorang dari kelompok itu – yang setara dengan Abu Bakar – membujuknya supaya bersikap lebih lunak dan mempertimbangkan kembali keputusannya, inilah jawaban yang beliau berikan, “Demi Allah, sekiranya binatang-binatang buas masuk ke kota Madinah dan menyeret kaki istri-istri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dari rumah mereka, aku tetap tidak ragu dan tidak akan berhenti.

Bagaimana kelompok ini dibangun? Bagaimana Qaidah Shalabah ini dibina? Bagaimana prototipe yang tinggi ini dibangun? Kelompok ini, bangunan yang besar ini, semuanya ditegakkan di atas dua aspek penopang saja. Oleh sebab itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sangat memerhatikan pembinaan aspek-aspek tersebut, yakni:

1. Lamanya Penggemblengan (Thuulul Ihtidhan)
Kita harus tahu apa yang dimaksud dengan lamanya penggemblengan ini. Ia adalah lamanya penggemblengan seorang komandan terhadap prajurit-prajurit yang berada di sekelilingnya, dari Darul Arqam, tempat di mana beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membina generasi pilihan. Kemudian hijrah, ketika beliau memerintahkan setiap mukmin berhijrah bersamanya agar tetap mendapatkan pengarahan dan bimbingan dari beliau.

Suatu ketika, ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah. Beliau pun memintanya untuk berbaiat (berjanji setia) untuk tinggal di Madinah. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memang membaiat orang-orang sesudah hijrah untuk tetap tinggal di Madinah. Lantas Arab Badui itu memberikan baiatnya. Beberapa hari kemudian dia merasa tidak betah, akhirnya dia datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata, “Tariklah baiatku,” namun Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menolaknya. Lantas orang tersebut nekad dan meninggalkan Madinah. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

Sesungguhnya Madinah ini seperti peniup api pandai besi yang dapat menghilangkan karat dan memurnikan kebaikannya,” (HR Muslim).

Jika demikian, yang dimaksud dengan lamanya penggemblenga adalah lamanya waktu tarbiyah(pembinaan).

2. Pembinaan Ruhani/Mental
Pembinaan ruhani dapat dicapai dengan banyak sarana, yang terpenting pada permulaannya adalah Qiyamul Lail (shalat tahajjud).

1. Hai orang yang berselimut (Muhammad), 2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), 3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. 4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. 5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat, (QS Al-Muzammil: 1-5).

Semua ini diperintahkan supaya jiwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dapat memikul Qaulan Tsaqila (wahyu yang berat) tersebut. Pada permulaan dakwah, qiyamul lail merupakan perkara wajib atas Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

170. dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang Mengadakan perbaikan, (QS Al-A’raaf: 170).

Ada dua penopang pokok bagi para muslihin (orang-orang yang melakukan perbaikan), yakni berpegang teguh kepada Al-Kitab dan mendirikan shalat:

45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS Al-Baqarah: 45).

154. dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya, (QS Al-Baqarah: 154).

45. Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung, (QS Al-Anfal: 45).

Di medan pertempuran, hendaklah kamu menyebut Nama Allah sebanyak-banyaknya, agar kalian mendapat kemenangan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam senantiasa berzikir kepada Allah setiap saat. Apabila beliau keluar dari kamar mandi/kamar kecil, beliau selalu mengucapkan doa, “Yaa Allah, ampunilah kami.”

Yakni, ampunilah aku, ya Allah, dari selang waktu terputusnya zikirku kepadaMu (ketika di dalam kamar mandi).

Beliau juga menanamkan rasa cinta terhadap sesama sahabatnya serta sifat mengutamakan kepentingan saudara seagama.

9. dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung, (QS Al-Hasyr: 9).

Beliau juga meneguhkan sikap saling memercayai di antara para sahabat. Apabila ada sahabat yang datang kepada Rasulullah lalu menggunjing sahabat lain, beliau bersabda kepadanya:

“Janganlah salah seorang sahabatku menyebut aib sahabat yang lain kepadaku, sesungguhnya aku lebih suka keluar menjumpai kalian dalam keadaan salamatush shadr (lapang dada),” (HR Adu Dawud, hasan).

Hendaknya para dai memerhatikan persoalan ini. Mereka yang mencabik-cabik daging saudaranya atas nama Maslahat Dakwah, atas dalil mengenal para pengikut dakwah dan mereka yang memandang sebelah mata kehormatan seseorang.

“Janganlah salah seorang sahabatku menyebut aib sahabat yang lain kepadaku, sesungguhnya aku lebih suka keluar menjumpai kalian dalam keadaan salamatush shadr (lapang dada),” (HR Adu Dawud, hasan).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam akan menyebut kebaikan-kebaikan para sahabatnya ketika mereka melakukan kesalahan. Ketika Hathib bin Abi Balta’ah melakukan kesalahan, yakni mengirimkan sebuah surat kepada kaum Quraisy mengenai rencana Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, “Yaa Rasulullah, izinkanlah saya memenggal leher orang munafik ini.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hai Umar, tidakkah engkau mengetahui bahwa dia ikut serta dalam Perang Badar? Seakan-akan Allah melihat isi hati para ahli Badar, lalu Allah berfirman, ‘Lakukanlah sekehendak kamu, sesungguhnya Aku (Allah) telah memberikan ampunan bagimu,” (HR Bukhari).

Tanya-Jawab Islam: Bolehkah Menggauli Istri yang Suci dari Nifas Meski Kurang dari 40 Hari

on Wednesday, January 21, 2015 | 3:58 pm


Pertanyaan:
Apabila seorang wanita yang nifas telah suci sebelum 40 hari, bolehkah sang suami menggaulinya? Dan apabila darah (nifas) itu keluar lagi setelah 40 hari, bagaimana hukumnya? 
Jawaban oleh Sheikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Para wanita yang nifas, suaminya tidak boleh berjima’ dengannya. Namun, apabila ia telah suci sebelum 40 hari, maka ia telah kena kewajiban shalat dan boleh bagi suaminya untuk menggaulinya karena Allah berfirman tentang haid,

Sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu,” (QS Al-Baqarah: 222).

Ketika kotoran (darah haid) itu ada, maka tidak boleh berjima’. Apabila telah suci, maka dibolehkan jima’. Sebagaimana ia juga diwajibkan shalat, maka ia boleh mengerjakan semua hal yang sebelumnya terlarang karena nifas, jika ia telah suci sebelum 40 hari.

Begitu pula boleh bagi suami untuk melakukan jima’, hanya saja sebaiknya ia bersabar dulu agar darahnya benar-benar tidak keluar lagi karena jima’, sampai genap masa 40 hari. Akan tetapi, jika ia tetap ingin menggaulinya sebelum 40 hari, maka ia juga tidak salah.

Apabila wanita melihat darah setelah 40 hari, dan setelah ia suci, maka hal tersebut adalah bagian dari darah haid, bukan darah nifas, sedangkan darah haid sudah dikenal oleh kaum wanita.

Maka jika ia keluar darah lagi, maka itu adalah haid, namun jika darah itu keluar terus menerus tanpa terputus, atau terputus tetapi hanya sebentar saja, berarti ia sedang istihadhah. Dalam kondisi demikian, hendaknya tidak shalat pada waktu ia biasa haid. Ada pun selebihnya, ia mandi dan shalat.

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2002. Majmu’ Fatawa: Solusi Problematika Umat Islam Seputar Aqidah dan Ibadah. Penerjemah: Qosdi Ridwanullah, dkk. Solo: Pustaka Arafah. Hal. 309-310.

Akidah Islam: Hal-hal yang Membatalkan Keislaman Seseorang


Oleh Sheikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
Yang dimaksud adalah segala hal yang membatalkan keislaman, karena dua kalimat syahadat itulah yang membuat seseorang masuk Islam. Mengucapkan keduanya adalah pengakuan terhadap kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syiar-syiar Islam. Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha dalam kitab-kitab fikih telah menulis bab khusus yang diberi “Bab Riddah (Kemurtadan).” Dan yang terpenting adalah sepuluh hal berikut, yaitu:

1. Syirik dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (Syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya,” (QS An-Nisa: 48).

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun,” (QS Al-Maidah: 72).

Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain-lain.

2. Orang yang menjadikan antara dia dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala perantara-perantara. Ia berdoa kepada mereka, meminta syafa’at kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma.

3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan mahdzab mereka, dia itu kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, mengutamakan hukum atau undang-undang manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir.

5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, sekalipun ia juga mengamalkannya, maka dia kafir.

6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasallam atau pahala maupun siksanya, maka dia kafir. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman,” (QS At-Taubah: 65-66).

7. Sihir, di antaranya sharf dan ‘athf (semacam pelet). Barangsiapa melakukan atau meridhainya, maka dia telah kafir. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“...sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir,” (QS Al-Baqarah: 102).

8. Mendukung kaum musyrikin dana menolong mereka dalam memusuhi umat Islam. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim,” (QS Al-Maidah: 51).

9. Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syariat Nabi Muhamamd Shalallahu ‘Alaihi Wasallam seperti halnya Nabi Khidir Alaihissalam boleh keluar dari syariat Nabi Musa Alaihissalam, maka ia telah kafir. Sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

10. Berpaling dari agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa,” (QS As-Sajadah: 22).

Sheikh Muhammad at-Tamimi Rahimahullah berkata, “Tidak ada beda dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (sungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari hal-hal yang bisa mendatangkan murkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan siksaNya yang pedih.” (Majmu’ah at-Tauhid an-Najdiyah, hal. 37-39).

Pasukan Syiah Hutsi Lancarkan Serangan di sekitar Istana Presiden

on Tuesday, January 20, 2015 | 7:36 am

Dua Syiah Hutsi memeriksa kendaraan yang melintas di Ibukota Sana'a | FOTO: Abdulrahman Hwais/EPA

Yaman, Mukminun.com – Pasukan pemerintah Yaman dan pemberontak Syiah Hutsi dikabarkan terlibat pertempuran sengit di ibukota Sana’a, di sekitar Istana Kepresidenan, saksi mata melaporkan kepada Reuters pada Senin, 19 Januari 2015 waktu setempat.

Letupan senjata dan dentuman bom terdengar beberapa kali di seluruh kota, di dekat kediaman presiden dan kepala keamanan pemerintah Yaman. Akan tetapi, belum ada kepastian apakah presiden Abdurrabbuh Mansur Hadi sedang berada di tempat atau di luar kota.

Jual beli serangan dan ledakan juga terdengar di distrik Hadda, di markas diplomatik kawasan selatan kota tersebut. Salah seorang saksi mata mengatakan bahwa dirinya bisa melihat beberapa pria bersenjata di jalan Al-Khamseen, kediaman pejabat senior keamanan pemerintah, termasuk kediaman menteri pertahanan Yaman.

Laporan yang berkembang di media sosial mengatakan bahwa pertempuran terus terjadi di kedua kota tersebut. Ratusan penduduk setempat terpaksa mengungsi dari keduanya untuk menyelamatkan diri sedangkan beberapa sekolahan harus meliburkan aktivitas belajar-mengajarnya hingga waktu yang tidak ditentukan.

Sebagaimana diketahui, Syiah Hutsi di Yaman telah menguasai ibukota Sana’a sejak September 2014 silam, dengan pertama kali berhasil merebut kantor berita milik pemerintah di kota tersebut.

Kedua kubu lalu sepakat melakukan gencatan senjata, dengan pemerintah Yaman mengaku bersedia melakukan reformasi terhadap pemerintahannya dan pemberontak Syiah Hutsi berjanji akan mengundurkan diri dari ibukota Sana’a jika permohonan tersebut dikabulkan.

Hingga berita ini diturunkan, pemberontak Syiah Hutsi tetap menduduki kota Sana’a dan terus melancarkan serangan kepada pasukan pemerintah dan juga mujahidin Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP). (Guardian/Mukminun)

Terapi Kemandulan Menurut Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam


Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
Imam Abu Hanifah, di dalam musnad-nya, meriwayatkan hadist dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahuanhu bahwa salah seorang Anshar datang menghadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam seraya berkata,

“Ya Rasulullah, aku belum dikaruniai anak dan aku tidak memiliki anak.”

Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika engkau mau memperbanyak istighfar dan memperbanyak sedekah, maka engkau akan dikaruniai anak.

Sahabat ini pun kemudian memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir kemudian melanjutkan ceritanya, “Kemudian ia pun dikarunia sembilan anak laki-laki.

Al-Allamah Mulla Ali Al-Qari dalam menjelaskan hadist ini mengatakan, “Barangkali hal ini bertolak dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menceritakan tentang Nabi Nuh Alaihissalam:

“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, - Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun – niscara Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS Nuuh: 10-12).

Disebutkan pula dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang memperbanyak istighfar, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjadikan kesedihannya menjadi kebahagiaan, kesempitan menjadi kelonggoran serta memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka,” (HR Ahmad dan Hakim).

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.