Latest Post

Tanya-Jawab Islam: Hukum Beternak Cacing dan Semut Jepang

on Tuesday, May 12, 2015 | 9:28 p.m.



Pertanyaan:
Ustadz, bolehkah beternak cacing dan semut Jepang menurut fiqih Islam? Kata kawan saya, cacing dan semut Jepang itu dapat digunakan untuk terapi alternatif berbagai penyakit. Ada juga yang memanfaatkannya untuk pakan ternak.

Jawaban oleh KH Imtihan Syafi’i (Dosen Mahad Aly An-Nuur, Sukoharjo)
Beternak cacing maupun semut Jepang (sebenarnya bukan semut, karena ciri semut tidak terdapat di dalamnya, sedang binatang yang disebut semut Jepang ini sebenarnya lebih mirip dengan kutu beras) untuk diperjualbelikan hukum asalnya adalah mubah/boleh. Sebab, umumnya cacing dan semut Jepang dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Demikian seperti yang dinyatakan oleh beberapa ulama kontemporer.

Sedangkan untuk kepentingan terapi alternatif, maka sebelum berbicara tentang boleh-tidaknya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu status kehalalannya. Jika kedua binatang ini halal, maka penggunaan keduanya untuk keperluan terapi alternatif pun tidak menjadi masalah, begitu juga dengan beternak dan memperjualbelikannya, juga tidak masalah, tentu setelah dilakukan penelitian klinis bahwa kedua binatang tersebut benar-benar memberi efek terapi, bukan semata-mata sugesti. Jika hal itu belum dilakukan, kita hendaknya mengkhawatirkan tersebarnya kebohongan, yakni mengiklankan terapi, padahal tidak demikian kenyataannya.

Kembali kepada status kehalalan dua binatang tersebut, para ulama berbeda pendapat. Para ulama mahzab Maliki menyatakan keduanya termasuk binatang yang tidak diharamkan. Dengan demikian, beternak dan memperjualbelikannya pun tidak menjadi masalah.

Akan tetapi, jumhur ulama menyatakan bahwa keduanya termasuk binatang yang diharamkan. Sebab, kedua binatang tersebut tidak termasuk ke dalam keluarga ikan atau belalang. Ingat, semua binatang yang tidak disembeli dan tidak dapat disembelih maka hukumnya haram kecuali ikan dan belalang.

Maka dari itu, beternak dan memperjualbelikan cacing dan semut Jepang untuk keperluan terapi alternatif pun menjadi tidak boleh. Hanya saja, para ulama mahzab Syafi’i membolehkan jika tidak ditemukan lagi obat lain yang jelas-jelas halal. Wallahu’alam bish shawwab

Sumber: Majalah Fikih Islam Hujjah, No. 04/Vol. I/ April 2015

Yakin Masih Enggan Berhijab?

Oleh Irfan Nugroho
Nabi Adam alaihissalam dan Ibunda Siti Hawa semula adalah penghuni surga. Mereka mendapat nikmat surgawi di dalamnya, tetapi musnah seketika karena menuruti bisikan syaitan, yakni: 1. bisikan untuk membuka aurat; dan 2. untuk melanggar larangan Allah (memakan buah khuldi). 

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِىَ لَهُمَا مَا وُۥرِىَ عَنْهُمَا مِن سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخٰلِدِينَ
 
"Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)," [QS. Al-A'raf: Ayat 20].

يٰبَنِىٓ ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَآ ۗ َ
 
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya," [QS. Al-A'raf: Ayat 27].

يٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوٰرِى سَوْءٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌ ۚ
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik," [QS. Al-A'raf: Ayat 26].

Nah, jika seorang nabi saja dikeluarkan dari surga karena aurat, bagaimana dengan kita yang manusia biasa?

Nabi Adam membuka aurat, dan beliau dihukum dengan dikeluarkan dari surga. Meski demikian, pada akhirnya beliau akan dimasukkan ke dalam surga karena ketaatan beliau selama di dunia.

Bagaimana dengan kita? Kita pamerkan aurat kita demi orang lain. Bukan dikeluarkan dari surga hukumannya, justru neraka menanti kita jika mati dalam keadaan belum menutup aurat.

Jika di ayat sebelumnya disebutkan "pakaian taqwa" adalah pakaian yang terbaik, maka pakaian itu adalah kita menghijabi jasmani dan ruhani kita.

Persis seperti kutipan ayat berikut di mana Allah berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّبِىُّ قُل لِّأَزْوٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلٰبِيبِهِنَّ ۚ ذٰلِكَ أَدْنٰىٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
"
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," [QS. Al-Ahzab: Ayat 59].

Jelas sudah, kan? Ada hukuman berat bagi kita yg gemar menunjukkan aurat kepada orang yg bukan mahrom kita. Maka solusi untuk hal tersebut adalah menutupinya.

Begitu pula, ada hukuman berat bagi pelanggaran terhadap larangan Allah dan pengabaian ajaran Allah. Nabi Adam keluar dari surga karena melanggar larangan Allah, manusia biasa masuk ke neraka karena melanggar larangan Allah. Setan kekal di neraka karena mengabaikan dan menentang ajaran Allah?

Telah terpapar gamblang kepada kita ajaran dari Allah tentang kewajiban mengenakan jilbab pada jiwa dan raga kita. Tapi, apakah kita akan menentangnya dan kekal di neraka bersama syaitan? Nauzubillahi min zaalik..

Ubadah bin Shamit dan Teladan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

on Saturday, May 09, 2015 | 5:57 a.m.

Oleh Abdul Aziz bin Nashir Al-Julail & Bahauddin bin Fatih Aqil
Dari Ibnu Abi Uwais, dari bapaknya, dari Walid bin Daud bin Muhammad bin ‘Ubadah bin Shamit, dari anak pamannya Ubadah bin Walid, ia berkata:

Suatu ketika, Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu sedang bersama Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Tak lama berselang, azan pun berkumandang.

Seorang khatib tiba-tiba berdiri dan memuji dan menyampaikan sanjungan kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.

Maka Ubadah pun berdiri dengan segenggam tanah di tangannya, lalu menyuapkan tanah tersebut ke dalam mulut sang khatib yang memuji Muawiyah radhiyallahu ‘anhu.

Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pun marah melihat sikap Ubadah. Maka Ubadah radhiyallahu ‘anhu pun berkata kepadanya:

بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ‏.‏ ‏‏وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ

Sesungguhnya engkau tidak ikut bersama kami saat kami melakukan bai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Aqabah untuk mendengar dan taat di saat rajin, tidak suka lagi malas, diutamakan terhadap kami, tidak membantah perkara terhadap ahlinya, menegakkan kebenaran di mana pun kami berada, tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela Allah subhanahu wa ta’ala,” (HR Bukhari: 7199).

Kemudian Ubadah melanjutkan dengan menyebutkan sabda Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ

 Apabila engkau melihat orang orang yang memuji maka suapkanlah tanah di mulutnya,” (HR Muslim: 3002a & 3002b).

Sumber: Aina Nahnu Min Akhlak Salaf

Pondasi Peradaban Masyarakat Islami, Quran Surat Al-Hujurat Ayat 11

Oleh Abdullah Azzam
Wahai manusia yang telah ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai dinnya, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya, ketahuilah bahwa Allah telah menurunkan ayat dalam Surat Al-Hujurat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌۭ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًۭا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌۭ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًۭا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim,” (QS Al-Hujurat: 11).

Surat Al-Hujurat berisi prinsip-prinsip yang mencerminkan aspek utama dari pilar-pilar utama kerangka bangunan masyarakat Islam. Karena itu, sistem masyarakat Islam, pembinaan keluarga muslim, adab berziarah, adab berpakaian, dan sebagainya, diambil dari tiga surat; Al-Hujurat, An-Nuur, dan Al-Ahzab.

Surat ini memang pendek, tetapi makna yang terkandung di dalamnya begitu berbobot dalam timbangan Ar-Rahman. Berbobot sekali jika ditinjau dari sisi pembinaan umat manusia.

Sebuah masyarakat, baik masyarakat jahiliyah atau pun masyarakat Islam, tidak mungkin bisa tegak jika tidak berjalan mengikuti langkah-langkah sistem yang mulia ini dan ayat-ayat yang berat dalam timbangan Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebuah masyarakat Islam terbentuk dari banyak individu yang berbeda. Jika di antara individu-individu tersebut tidak memiliki ikatan yang erat, pertalian yang kuat, dan hubungan yang mendalam, masyarakat Islami pun tidak akan terwujud. Ikatan yang erat, pertalian yang kuat, serta hubungan yang mendalam di antara segenap individu di dalamnya adalah faktor-faktor yang menjaga bangunan masyarakat tersebut dari keruntuhan dan melindunginya dari kehancuran.

Jihad sebagai Pondasi Pokok dalam Pendidikan Karakter Islami ala Nabi

on Wednesday, May 06, 2015 | 6:01 a.m.

Oleh Sheikh Abdullah Azzam
Jihad adalah yang melindungi agama ini dan penyebarannya. Jihad (harus) menjadi asas terbesar sebagai landasan setiap harakah. Harakah Islamiyah apa saja yang tidak menjadikan jihad sebagai orientasinya, maka wajib bagi seseorang untuk meninggalkannya dan menyatakan dengan terang-terangan bahwa harakah tersebut hanyalah gerakan omong kosong belaka.

Jihad di dalam Islam dibangun di atas beberapa asas, di antaranya adalah zuhud terhadap dunia. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepada sahabat :

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ” ‏(‏‏(‏حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة‏)‏‏)‏‏.‏

Zuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah kamu atas sesuatu yang menjadi milik manusia, niscaya orang-orang akan mencintaimu,” (HR Ibnu Majah: 4102, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 292).

Demikian pula, jihad itu dibangun atas asas tawakal. Di dalam surat Al Fatihah yang kita baca tujuh belas kali dalam sehari semalam, di dalamnya terdapat ayat :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan,” (QS Al-Fatihah: 05).

Ibnul Qayyim mengatakan: “Ad Dien itu ada dua macam, yakni ibadah dan isti’anah atau inabah/minta ampunan dan tawakal.” Tatkala Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam melihat alat bajak di depan pintu rumah seorang Anshar, padahal waktu itu beliau hendak bertempur melawan kaum Quraisy, maka beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ هَذَا بَيْتَ قَوْمٍ إِلاَّ أُدْخِلَهُ الذُّلُّ

Tidaklah benda ini masuk ke dalam rumah suatu kaum kecuali ia akan memasukkan pula kehinaan ke dalamnya,” (HR Bukhari: 2321).

Bukan untuk mematikan penghidupan, akan tetapi karena beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam melihat bahwa di dalam mata bajak itu ada kesibukan terhadap sesuatu yang sebenarnya penting, tetapi ada sesuatu lainnya yang jauh lebih penting dari bertani, yakni karena agama Allah akan menghadapi kemusnahan sekiranya kita sibuk dengan pertanian dan perdagangan.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Apabila kalian telah jual beli dengan sistem ‘inah (bentuk riba), sibuk mengikuti ekor sapi (sibuk dengan peternakan) dan puas dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad fii sabilillah, niscaya Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan yang tiada akan dicabut-Nya sehingga kalian kembali kepada Dien kalian”. (HR Abu Dawud: 3462, Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir: 423).

Sesudah penaklukan negeri Syam, umat Islam melihat negeri tersebut sebagai negeri yang subur. Mereka lalu menanaminya dengan gandum Syam.

Kabar tersebut sampai kepada Umar bin Khattab, lalu beliau mengirim utusan dengan membawa surat yang memerintahkan pembakaran ladang pertanian mereka di negeri Syam tersebut. Surat tersebut panjangnya hanya satu baris, berisi kata-kata sebagai berikut:

Sesungguhnya jika kalian meninggalkan jihad dan sibuk dengan pertanian, maka aku akan memberlakukan jizyah kepada kalian. Dan aku akan memperlakukan kalian sebagaimana aku memperlakukan Ahli Kitab. Sesungguhnya makanan pokok kalian adalah dari makanan pokok musuh-musuh kalian.”

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

“Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, sampai Allah sebagai satu-satunya sembahan tidak ada kesyirikan baginya dan dijadikan rizki dibawah bayangan tombakku, dan dijadikan hina dan rendah bagi siapa saja yang menyelisihi urusanku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia menjadi bagian kaum itu,” (HR Ahmad, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 2831).

Waktu telah habis, untuk itu saya cukupkan sekian dulu.

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.