Latest Post

Tanggung Jawab Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Islami kepada Anak

on Saturday, April 12, 2014 | 6:28 pm


Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
Jika Anda menempatkan tanggung jawab anak ke dalam tempat persemaian yang buruk saya khawatir Anda kelak akan mendapatkan adzab Allah dua kali lipat. Pertama, diadzab dengan adzab yang pedih karena telah mengotori mutuara yang mulia itu, dan yang kedua karena melakukan tindak kesalahan (Sheikh Muhammad Al-Khadhar Husain, As-Sa’adah al-Uzhma, hal. 90).

Oleh karena itu, kita temukan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Seorang imam adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta milik tuannya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya,” (Muttafaq ‘Alaih).
Sampai-sampai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam meletakkan kaidah mendasar yang kesimpulannya adalah seorang anak itu tumbuh dan berkembang mengikuti agama kedua orangtuanya. Keduanyalah yang memberikan pengaruh yang kuat terhadapnya.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Tiada seorang bayi pun yang lahir melainkan dia dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Majusi atau Nasrani; seperti binatang itu melahirkan binatang yang sama secara utuh. Adakah kamu menemukan adanya kebuntungan?” Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah:

“Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,” (QS Ar-Rum: 30).

Allah telah memerintahkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong mereka untuk itu dan memikulkan tanggung jawab kepada mereka. Allah berfirman:

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu, sedangkan para penjaganya adalah para malaikat yang kasar dan keras, serta tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS At-Taubah: 06).

Tentang firman Allah ini, Ali bin Abi Thalib berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” Diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan dia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya.

Fakhrur Razi dalam tafsirnya mengatakan, “Peliharalah dirimu...” yaitu dengan cara menjauhi segala yang dilarang oleh Allah untuk kamu kerjakan.” Sedangkan Muqatil mengatakan, “Maksudnya, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka berbuat kejahatan.” Sementara itu, Ima Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kassyaf menafsirkan, “Peliharalah dirimu...” yaitu dengan cara meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan, dan “Dan keluargamu...” adalah dengan cara memperlakukan mereka sebagaimana kalian memperlakukan dirimu sendiri,” (At-Tafsir Al-Kabir, 30/46).

Untuk itu, kita harus mencurahkan segala upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk meluruskan anak-anak kita, senantiasa memperbaiki kesalahan mereka, serta membiasakan mereka berbuat kebaikan. Ini adalah jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasul. Nabi Nuh telah mengajak anak beliau kepada iman, Nabi Ibrahim telah memerintahkan putra-putrinya agar hanya beribadah kepada Allah, dan demikian seterusnya.

Imam Nawawi, dalam kitabnya Bustan Al-Arifin (hal. 45) membawakan riwayat dari Syafi’i bahwa Fudhail berkata, “Nabi Dawud pernah berdoa, “Ya Ilahi, jadilah Engkau bagi anakku sebagaimana Engkai bagi diriku!”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Dawud, katakanlah kepada anakmu agar dia berbuat kepada-Ku, sebagaimana yang kamu lakukan kepada-Ku. Niscaya Aku akan bertindak kepadanya sebagaimana yang aku lakukan terhadapmu.”

Imam Ghazali dalam risalah beliau yang berjudul Ayyuhal Walad mengatakan bahwa makna tarbiyah (pendidikan) serupa dengan pekerjaan seorang petani yang membuang duri dan mengeluarkan tumbuhan-tumbuhan asing atau rerumputan yang mengganggu tanaman agar ia bisa tumbuh dengan baik dan membawa hasil yang maksimal.

Ibnul Qayyim juga menegaskan tanggung jawab ini dan memberikan keterangan yang cukup berguna. Beliau mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya,” (QS Al-Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu,” (QS At-Tahrim: 6).

Menafsirkan ayat ini, Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ajari mereka dan didiklah mereka!” Allah juga berfirman, “Beribadahlah kepada kedua orang tua dan kaum kerabat,” (QS An-Nisa: 36). Sedangkan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Berbuat adillah terhadap anak-anak kalian,” (HR At-Thabrani, Shahih).

Pesan Allah bagi ayah berkenaan dengan anak-anak mereka, mendahului pesan bagi anak berkenaan dengan ayah-ayah mereka. Allah berfirman:

“Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar,” (QS Al-Isra: 31).

Ibnul Qayyim selanjutnya menjelaskan, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saya, berarti dia telah berbuat kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama. Lalu menyia-nyiakan anak ketika kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari diri mereka, dan mereka pun tidak bisa memberikan manfaat kepada ayah atau ibu mereka ketika mereka dewasa.

Maka ada sebagian anak yang menyalahkan ayahnya sendiri atas tindakannya dalam mendurhakai orang tuanya dengan mengatakan, ‘Ayah, engkau telah berbuat jahat terhadapku ketika aku kecil. Kini aku pun balas mendurhakaimu ketika dewasa. Engkau telah menyia-nyiakanku ketika aku kecil, kini aku pun mengabaikanmu ketika engkau sudah tua renta.”

Pernikahan dan melahirkan keturunan merupakan sebuah tanggung jawab besar di mana seseorang itu akan dihisab pada hari Kiamat atasnya. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah, bahwa kedua sahabat ini mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti, setiap hamba akan dihadapkan kepada Allah. Allah berfirman, “Bukankah Aku telah menjadikan pendengaran, penglihatan, harta dan anak untukmu? Bukankah Aku juga telah menundukakan binatan dan ladang untuk kamu gunakan? Dan bukankah Aku telah membiarkanmu memimpin dan menikmati apa yang ada? Maka, yakinkah kamu bahwa kamu pasti berjumpa dengan-Ku pada hari ini?” Dan dia menjawab, “Tidak.” Allah pun kemudian berfirman kepadanya, “Pada hari ini Aku lupakan kamu sebagaimana engkau pun telah melupakan-Ku.

Dalam riwayat lain disebutkan adanya tambahan, “Bukankah Aku telah memasangkanmu dengan istrimu?

Lalu. Bukti mana lagi yang menunjukkan ketololan akal seorang dan hilangnya persaan yang lebih besar daripada orang yang diberi kesempatan waktu yang panjang hingga akanya mencapai usia dewasa, namun dia tidak membekalinya dengan pendidikan yang baik sehingga bisa menjadi seseorang yang mulia?” (Sheikh Muhammad Khadhar Husain, As-Sa’adah Al-Uzhma, hal. 90).

Pendidikan adalah hak anak yang menjadi kewajiban atas orang tua. Ia merupakan hibah atau hadiah. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam melalui sabda beliau, “Mereka itu disebut oleh Allah sebagai ‘abrar’ (orang-orang yang baik) karena mereka berbakti kepada orang tua dan anak. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas anakmu, maka anakmu juga mempunya hak atasmu,” (HR Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, didhaifkan oleh At-Thabrani).

An-nasai dan Ibnu Hiban dalam shahih-nya meriwayatkan secara marfu’ bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin atas apa yang dikuasakan kepadanya, apakah dia menjaga atau menyia-nyiakannya. Sampai-sampai, seseorang akan ditanya mengenau rumah tangganya,” (Lihat silsilah Al-Hadist As-Shahihah, no. 1626).

Dalam riwayat Abdur Razaq disebutkan bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin mengenai bawahannya, apakah dia telah menegakkan perintah Allah atas mereka ataukah meninggalkannya. Sampai-sampai, seseorang itu akan ditanya mengenai rumah tangganya.” Wallahu’alam bish shawwab.

Imam Masjid di Daghestan Gugur Ditembak

on Friday, April 11, 2014 | 10:07 pm


Daghestan, Mukminun.com- Seorang imam di suatu masjid di Daghestan dikabarkan gugur tertembak pada Kamis (10 April 2014) malam.

Imam Magomed Zakaryayev gugur ketika dua pembunuh bertopeng melepaskan rentetan tembakan senjata api kepadanya di distrik Kizil-Yurt.

Menurut pernyataan kepolisian setempat, investigator sedang berupaya menguak motif di balik penyerangan tersebut. Polisi menduga bahwa Sang Imam ditembak mati oleh pemberontak antirusia.(Worldbulletin/Mukminun/Nugrohoirfan)

Palestina 10 April 2014: Teroris israel Serang Jalur Gaza, Tangkap 1 Pemuda di Bethlehem dan 1 Kepala Sekolah


Palestina, Mukminun.com- Teroris israel menembakkan granat ke kawasan terbuka di utara Jalur Gaza pada Kamis (10 April 2014) pagi.

Tank-tank teroris israel laknatullah mendarat di area terbuka di penyeberangan Erez, demikian tutur kantor berita Maan.

Menurut saksi mata, kawasan tersebut dulu merupakan zona industri israel sebelum teroris israel melepaskan kawasan Jalur Gaza pada 2005.

Dalam insiden penembakan granat tersebut, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Di hari yang sama, teroris israel menyerbu satu kampung Badui di Bethlehem dan menculik satu pemuda Palestina setelah kawanan teroris tersebut menggeledah rumah-rumah pada Kamis (10 April 2014) pagi.

Salah satu petinggi di desa tersebut, Fawwaz Rashayda, mengatakan bahwa teroris israel menangkap Ayman Muhammad Rashayda dan mencuri komputer dan ponsel keluarga tersebut.

Di Jerusalem Timur, satu kepala sekolah dikabarkan telah diculik oleh teroris israel laknatullah.

Juru bicara kementerian pendidikan mengatakan bahwa teroris israel mengepung sekolah khusus yatim piatu di Jerusalem Timur pada Kamis (10 April 2014) dan menyerbu kompleks sekolahan dan menangkap kepala sekolah, Alaa Abu Shkeidim.

Abu Shkheidim dikabarkan telah dibawa ke Kota Tua untuk diinterogasi.(Maan/Mukminun/Nugrohoirfan)

Komentar Antiislam di Facebook, Enam Prajurit AL Australia Dipecat

on Thursday, April 10, 2014 | 2:36 pm

Foto: TimesOfIndia

Australia, Mukminun.com- Enam prajurit Angkatan Laut (AL) Australia dilepas dari jabatannya setelah mengunggah komentar antiislam di Facebook.

Wakil Komandan AL, Ray Griggs, mengatakan pada Selasa (8 April 2014) bahwa "sekelompok personil telah diketahui membuat komentar yang tidak pantas di media sosial, atau memiliki afiliasi dengan kelompok media sosial lainnya, yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kami."

"Beberapa pelaut telah dihentikan dari pekerjaannya atau telah diberitahu penyebab pemberhentian tersebut," tutur Griggs, sambil menambahkan, "Beberapa lainnya telah menerima serangkaian hukuman indisipliner dan sanksi administratif."

Meski memiliki hubungan dengan kelompok sayap kanan penentang Islam, Australian Defence League (ADL), tak satu pun dari keenam prajurit AL Australia tersebut yang diyakini menjadi anggota ADL.  Isu ini pertama kali muncul ketika seorang prajurit memuat pernyataan yang bernada menghina terhadap foto sekelompok imigran yang diunggah oleh anggota ADL.(Worldbulletin/Mukminun/Nugrohoirfan)

Palestina 9 April 2014: Teroris israel Serang Kampus di Palestina, Tangkap Tiga warga Muslim

Teroris israel laknatullah saat penyerangan Al-Quds University di Abu Dis 22 Januari 2014

Palestina, Mukminun.com- Teroris israel laknatullah dikabarkan telah menyerang satu kampus di Tepi Barat pada Rabu 9 April 2014.

Pejabat Kampus Salfit, cabang Al-Quds Open University mengatakan kepada kantor berita Maan bahwa teroris israel menyerang kompleks kampus dan menghujani para mahasiswa dengan gas air mata.

“Pekerja kampus mengumpulkan lebih dari 70 kanister gas air mata (setelah insiden tersebut),” tutur pejabat kampus sambil menambahkan bahwa beberapa mahasiswa kemudian batal pergi menuntut ilmu hari itu.

“Penjajahan israel yang menargetkan mahasiswa dan institusi Al-Quds Open University tidak akan mengendorkan semangat pihak kampus untuk terus bergerak maju seperti yang direncanakan,” janji pihak administrator kampus.

Juru bicara militer teroris israel mengatakan bahwa ia tidak mengetahui ada penyerangan tersebut.

Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Tinggi Palestina mengutuk serangan serupa pada 22 Januari 2014, ketika teroris israel laknatullah menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa Al-Quds University di Abu Dis dan merusak beberapa properti kampus.

Kementerian mengatakan bahwa saat itu, serangan merupakan bagian dari pelanggaran sistematis dan berkelanjutan terhadap institusi Palestina... termasuk institusi pendidikan dan kader-kadernya.

Di hari yang sama, teroris israel laknatullah dikabarkan telah menangkap tiga warga Palestina di Kota Tua Jerusalem pada Rabu 9 April 2014 pagi hari.

Pihak keluarga menuturkan kepada kantor berita Maan bahwa Thaer Raed Zghayyar, Walid Tffahah, dan Muhammad Abu Sbeih diculik oleh teroris israel laknatullah tanpa alasan yang jelas.

Juru bicara kepolisian teroris israel laknatullah tidak bersedia dimintai keterangan mengenai alasan di balik penculikan tersebut.(Maan/Mukminun/Nugrohoirfan)

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.