Latest Post

Surat-Surat yang biasa Dibaca Rasulullah ketika Shalat

on Wednesday, July 29, 2015 | 6:16 a.m.


Pertanyaan:
Mohon jelaskan ke saya, surat-surat dari Al-Quran yang biasa dibaca Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ketika shalat lima waktu, shalat Jumat, dan shalat-shalat lainnya.

Jawaban oleh Komite Riset Departemen Fatwa, Diketuai oleh Syeikh Abdul Wahhab Al-Turairi
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membaca surat-surat yang berbeda dari Al-Quran ketika shalat Subuh. Beberapa riwayat yang shahih menjelaskan ke kita bahwa beliau membaca Surat Al-Waqi’ah, Surat At-Takwir, Surat Al-Zalzalah di kedua rakaat. Juga diriwayatkan bahwa beliau terbiasa membaca 60 ayat dari surat-surat yang panjang di dalam Quran, seperti Surat Ar-Ruum, Surat Yaasin, dan Surat As-Shaffat.

Ketika bepergian, beliau terbiasa membaca Surat Al-Falaq dan Surat An-Nisa di shalat Subuh.

Di hari Jumat ketika shalat Subuh, beliau terbiasa membaca Surat As-Sajdah di rakaat pertama dan Surat Al-Insan di rakaat kedua.

Beliau juga biasa membaca Ayat 136 Surat Al-Baqarah dan Ayat 64 Surat Ali-Imran ketika shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh.

Ketika shalat Zuhur, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terbiasa membaca sekitar 30 ayat di dua rakaat pertama. Di lain kesempatan, beliau membaca Surat At-Tariq, Surat Al-Buruj, dan Surat Al-Lail. Beliau biasa memanjangkan bacaan di rakaat pertama daripada di rakaat kedua.

Ketika shalat Ashar, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terbiasa membaca sekitar 15 ayat di dua rakaat pertama. Juga, diriwayatkan bahwa beliau terbiasa membaca beberapa surat yang beliau baca di Shalat Zuhur.

Ketika Shalat Maghrib, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membaca Surat At-Tiin, Surat Muhammad, Surat At-Tuur, Surat Al-A’raaf, dan Surat Al-Anfal di dua rakaat pertama.

Dan akhirnya di Shalat Isya’, beliau terbiasa membaca Surat As-Syam, Surat Al-Insyiqaq, dan Surat At-Tiin.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menyarankan seorang imam Shalat Isya’ untuk membaca surat-surat yang panjang. Beliau menyuruh Muadz untuk membaca surat-surat seperti Asy-Syams, Al-A’la, Al-Alaq, dan Surat Al-Lail. Kemudian beliau mengatakan: “Beberapa yang shalat di belakangmu sudah berusia tua, lemah, dan ada pula yang memiliki urusan untuk dilakukan,” (HR Bukhari & Muslim).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terbiasa membaca Surat Al-Jumuah di rakaat pertama Shalat Jumat, dan Surat Al-Munafiqun di rakaat kedua. Juga diriwayatkan bahwa beliau membaca Surat Al-A’la di rakaat pertama dan Surat Al-Ghasiyah di rakaat kedua.

Beliau terbiasa membaca Surat Al-A’la, Al-Kafirun, dan Surat Al-Ikhlas di Shalat Witir.

Sumber: http://en.islamtoday.net/node/1593

Penerjemah: Irfan Nugroho

Konsep Bahagia dalam Islam, Kristen & Budaya Barat

on Tuesday, July 28, 2015 | 5:14 a.m.

Meski  bahagia  sering  dianggap  sebagai  sesatu  yang  paling penting  di  dalam  hidup,  ilmu  pengetahuan  hingga  kini  belum  bisa menjelaskan  panjang  lebar  tentang  apa  itu  kebahagiaan. 

Konsep kebahagiaan  sendiri  memang  cenderung  sukar  dipahami.  Apakah ia  berupa  ide,  emosi,  nilai,  falsafah,  impian,  ataukah  ia  hanyalah sesuatu  yang  terprogram  di  dalam  genetika  manusia? 

Tak  ada definisi  yang  pas  tentang  apa  itu  kebahagiaan,  tapi  banyak  manusia yang  dengan  bangga  mengklaim  bisa  menjual  kebahagiaan,  mulai dari  pedagang  narkotika,  perusahaan  obat,  dunia  hiburan  seperti Hollywood,  perusahaan  mainan,  konsultan  kejiwaan,  dan  tentu saja  Disney,  wahana  hiburan  dengan  slogan  “The  Happpiest  Place on  Earth  (Tempat  Paling  Bahagia  di  Bumi).” 

Benarkah kebahagiaan  bisa  dijual-beli?  Apakah  kebahagiaan  bisa  diraih dengan  memaksimalkan  kesenangan,  raihan  popularitas  dan keuntungan,  ataukah  kehidupan  dengan  kesenangan  yang  tiada batas? 

Artikel akan mengeksplorasi  secara  singkat  evolusi  kebahagiaan  di  dunia  Barat, diikuti  dengan  tinjauan  kebudayaan  Barat  terhadap  kebahagiaan. Terakhir,  di  bagian  akhir  artikel  ini  akan  dibahas  tentang  makna serta beberapa cara meraih kebahagiaan di dalam Islam.

Download di sini:
4SHARED
DROPBOX

Apa setelah Ramadan Berakhir?

on Wednesday, July 15, 2015 | 11:26 a.m.


Ramadan tahun ini, 1436 H/2015 M, segera berakhir. Hanya tersisa dua hari sejak tulisan ini dibuat sebelum bulan yang penuh berkah ini benar-benar berakhir. Atmosfer yang begitu kondusif untuk meningkatkan amalan ketakwaan itu mungkin segera kembali pudar, seiring dengan “lebar-nya” (Jawa: Selesai) Ramadan yang ditandai dengan perayaan Lebaran (Idul Fitri).

Ada beberapa hal yang tersisa di benak kita, berhasilkan madrasah Ramadan kali ini? Bagaimana dengan tingkat ketakwaan kita setelahnya, naikkah atau turunkah? Atau, apakah semua amal ibadah kita, puasa kita, shalat kita, sedekah kita, dan semuanya saja, diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala?

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas, mari kita simak bersama firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

﴿فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ﴾ ﴿وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ﴾ ﴿فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ﴾
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa (05), dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) (06), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (07), (QS Al-Lail: 5-7).

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, ketika menjelaskan ayat di atas, mengatakan, “Balasan untuk kebaikan adalah kebaikan pula setelahnya. Dan balasan untuk keburukan itu adalah keburukan pula setelahnya.”.

Maka jika kita berpijak pada penafsiran ayat di atas, bisa kita ketahui bahwa salah satu indikator diterima atau tidaknya amalan kita selama Ramadan adalah dimudahkannya kita untuk melakukan amalan-amalan serupa di bulan-bulan di luar bulan Ramadan.

Oleh karena itu, sejenak mari kita mengulang kembali kenangan indah kita bersama bulan Ramadan tahun ini.

1. Makmurnya masjid setelah lama sepi
Sudah menjadi fenomena umum di negara kita, bahkan mungkin di beberapa negara dunia lain, yakni masjid-masjid yang biasanya sepi menjadi makmur – jika tidak mau dikatakan ramai – karena banyaknya jamaah yang diringankan untuk mengikuti ritual shalat berjamaah.

Oleh karenanya, menangislah kita yang ternyata terbesit niat untuk memakmurkan masjid kerana selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bisa karena sekedar ikut-ikutan, perkewuh, wanita, atau yang lainnya.

﴿مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ - أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الاٌّخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ ﴾
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan (15), Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan? (16),” (QS Huud: 15-16).

Berbahagialah mereka yang berpartisipasi memakmurkan masjid pada masa-masa ini karena mengharap Ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

إِذَا تَطَهَّرَ الرَّجُلُ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ يَرْعَى الصَّلَاةَ كَتَبَ لَهُ كَاتِبَاهُ أَوْ كَاتِبُهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الْمَسْجِدِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَالْقَاعِدُ يَرْعَى الصَّلَاةَ كَالْقَانِتِ وَيُكْتَبُ مِنْ الْمُصَلِّينَ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِ

Jika seseorang bersuci lalu mendatangi Masjid untuk menunaikan shalat, maka maliakat pencatatnya akan mencatat baginya, untuk setiap langkah yang ia langkahkan menuju masjid sepuluh kebaikan. Dan orang yang duduk menunggu shalat laksana seorang yang melazimi kekhusyuan dan ketataan, dan akan dicacat sebagai orang yang sedang menunaikan shalat sejak ia keluar dari rumahnya hingga ia pulang ke rumahnya,” (HR Ahmad).

Oleh karenanya, mereka yang diterima oleh Allah langkah kakinya menuju masjid untuk memakmurkan masjid adalah mereka yang tetap terbiasa mendatangi masjid, menghadiri shalat berjamaah meski Ramadan telah usai, telah pergi meninggalkan kita.

﴿إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَـجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاٌّخِرِ﴾
“Sesungguhnya yang pantas memakmurkan masjid itu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian,” (QS At-Taubah: 18).

إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا عَلَيْهِ بِالْإِيمَانِ

Apabila kalian melihat seorang laki-laki yang selalu ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia adalah orang yang beriman,” (HR Ahmad).

2. Tadarus Al-Quran
Inilah bulan Al-Quran. Bulan ketika Al-Quran diturunkan, dan bulan di mana Malaikat Jibril terbiasa mengecek hafalan Quran Nabi kita tercinta hingga ia tetap terjaga keasliannya sampai hari ini.

Maka wajar jika kemudian tradisi membaca Al-Quran di bulan Ramadan menjadi begitu semarak, dari yang semula satu juz per bulan, kini bisa dua, tiga atau empat juz dalam sebulan. Inilah salah satu kenangan indah kita bersama Ramadan.

Maka dari itu, menangislah kita jika kita kesulitan untuk meluangkan waktu bersama Al-Quran, membaca ayat per ayat dari Kalam Allah di dalamnya, setelah Ramadan usai. Menangislah kita yang jika Ramadan usai, maka mushaf Al-Quran itu kembali masuk ke dalam lemari dan tak tersentuh kecuali hanya sedikit sekali frekuensinya.

Akan tetapi, berbahagialah mereka yang dimudahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk tetap mampu ber-tadarus Quran pascaramadan. Berbahagialah mereka yang tetap menghadiri majelis-majelis Al-Quran meski di luar bulan Ramadan. Berbahagialah mereka yang mendapati salah satu tanda bahwa amalan (tadarus Quran) mereka di bulan Ramadan diridhai oleh Allah.

Inilah salah satu manfaat Al-Quran yang diutarakan oleh Buya Hamka Rahimahullah, “...teguh pertalian jiwa dengan sesama manusia (lewat majelis-majelis Quran –red) dan teguh pula pertalian jiwa dengan Allah (lewat tadarus Quran –red). Dan ilham atau petunjuk akan selalu diberikan oleh Tuhan (lewat Al-Quran –red).”

3. Qiyam Al-Lail (Shalat Malam)
Lebih dikenal sebagai Shalat Tarawih, Qiyam Al-Lail (Shalat Malam) di bulan Ramadan ini adalah primadona utama dari bulan penuh berkah itu. Inilah amalan yang tidak ada padanannya di bulan-bulan lain selain Ramadan.

Tidak heran jika kemudian begitu banyak umat Islam yang terkesima dengan sang primadona yang satu ini. Sering kita temui beberapa dari kita yang menyeru, “Shalat Tarawih, yuk?” dan begitu tekun mengikutinya, tetapi shalat lima waktu yang wajib justru sering terbengkalai, baik tertunda atau sengaja ditunda, baik terlewatkan atau sengaja dilewatkan, atau pun karena alasan yang lainnya.

Meski ia adalah primadona di bulan Ramadan, banyak yang justru gugur di tengah jalan karenanya pula. Sebelas atau dua puluh tiga rakaat itu benar-benar menjadi ujian bagi kita yang tidak memiliki niat yang lurus, “Melakukannya bersama imam, disertai dengan iman dan mengharap pahala dari Allah untuk mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu,” (HR Bukhari).

Wajar jika kemudian ada dari kita yang melakukannya dengan kecepatan penuh hingga yang 23 rakaat itu bisa ditempuh dalam 7 menit. Ada pula kita yang batuk-batuk berdehem karena imam membaca dengan tartil hingga dirasa terlalu lama meski hanya shalat 11 rakaat selama 30 hari di bulan Ramadan.

Oleh karenanya, berbahagialah mereka yang istiqamah menjalankan Shalat Tarawih dari awal hingga akhir Ramadan, dengan disertai keimanan dan mengharap pahala dari Allah, dengan tuma’ninah, tidak ngebut seperti ayam mematuk. Berbahagialah mereka yang menjadikannya sebagai ibadah pelengkap dari rangkaian ibadah-ibadah wajib seperti shalat fardhu dan shiyam. Dan mereka yang bisa tetap melazimi amaliah ini selepas Ramadan hendaknya lebih berbahagia karena sungguh, “Balasan untuk kebaikan adalah kebaikan pula setelahnya.”

4. Sedekah
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam lebih gemar bersedekah di bulan Ramadan.
فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

"Sungguh, kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika didatangi Jibril 'alaihissalam (pada bulan Ramadan) jauh melebihi daripada angin yang berhembus," (HR Bukhari).

Dan sungguh beruntunglah mereka yang terbiasa bersedekah, memberi makan orang lain, serta menyantuni anak yatim lebih banyak di bulan Ramadan dengan diiringi niat yang tulus, dengan mengharap balasan semata dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَان

“Rasulullah pernah ditanya, "Sedekah apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Sedekah di bulan Ramadan," (HR Tirmidzi).

Merugilah kita yang mendapati bulan Ramadan tiba, tetapi gagal memanfaatkannya untuk memperbanyak sedekah. Juga merugilah kita yang gagal menetapi amalan itu ketika Ramadan telah usai, karena bisa jadi, itulah tanda bahwa sedekah kita selama Ramadan ditolak oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena niat yang tidak tulus lillahi ta’ala.

5. Adab & Akhlak
Madrasah Ramadan mendidik kita untuk lebih beradab dan berakhlak. Tidak cukup dengan memuasai perut dari makan dan minum, ia menuntut kita untuk meningkatkan kualitas adab dan perilaku kita.

Inilah ajaran mulia dari Nabi yang ummi Shalallahu 'Alaihi Wasallam:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan kotor, melakukan hal itu dan masa bodoh, maka Allah tidak butuh (amalannya) meskipun dia meninggalkan makanan dan minumannya (puasa)," (HR Bukhari).

فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

"Apabila kamu puasa, maka janganlah kamu merusak puasamu dengan rafats, dan jangan pula menghina orang. Apabila kamu dihina orang atau pun diserang, maka katakanlah, 'Sesungguhnya saya sedang berpuasa," (HR Muslim).

Duhai, jika saja produk dari pendidikan adab dan akhlak ini bisa kita pertahankan pascaramadan. Duhai, jika saja upaya kita mengekang hawa nafsu, mengontrol lisan dan tindak tanduk kita selama Ramadan bisa tetap berlangsung selepas Ramadan.

6. Kebersamaan Keluarga
Sudah menjadi mafhum di Indonesia bahwa Ramadan adalah masa-masa yang sangat dirindukan, khususnya oleh mereka para orang tua yang sudah renta, yang hidup terpisah dari putra-putri mereka di perantauan. Inilah momen ketika anak dan orang tua kembali berkumpul, terlebih di akhir Ramadan, menjelang dan selama Idul Fitri.

Tidak sedikit pula pada bulan Ramadan ini seorang kepala keluarga bisa mengerahkan semua tanggungannya – istri dan anak-anaknya – untuk berduyun-duyun menghadiri shalat jamaah di masjid tanpa merasa berat dan malas.

Berbahagialah mereka yang bisa tetap menjaga keluarganya dalam ketaatan seperti itu di luar Ramadan. Bukan tidak ayal jika memang demikian adanya, maka kelak keluarga seperti inilah yang digambarkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai keluarga penghuni surga,

﴿جَنَّـتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَائِهِمْ وَأَزْوَجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلَـئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِّن كُلِّ بَابٍ - سَلَـمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ﴾
“(Itulah) Surga 'Adn, yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (23) (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum"[772]. Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu,” (24) (QS Ar-Ra’du: 23-24).

﴿وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَـنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَـهُمْ مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ كُلُّ امْرِىءٍ بِمَا كَسَبَ رَهَينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya,” (QS At-Thur: 21).

Penutup
Inilah Ramadan. Sebuah madrasah yang digelar oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar kita menjadi insan yang bertakwa. Bukanlah disebut lulus dari madrasah ini jika ketaatan selama Ramadan menjadi pudar, bahkan sirna tak berbekas sama sekali di masa-masa di luar Ramadan. Lebih-lebih, sangat tidak pantas kiranya jika kita mengklaim kemenangan di kala Idul Fitri jika ketika “bel pulang” Ramadan itu belum berbunyi tetapi kita sudah futur (menyerah) di tengah jalan, drop-out.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima amal-amal ibadah kita di bulan Ramadan dengan memudahkan kita untuk melazimi amal-amal tersebut setelahnya.

تقبل الله منا ومنكم
 (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian)


Sukoharjo, 28 Ramadan 1436 H (15 Juli 2015)
Irfan Nugroho & Keluarga

Kumpulan Doa dari Orang Tua untuk Kebaikan Anak

on Tuesday, July 07, 2015 | 1:43 p.m.

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّة

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan segala makhluq berbisa dan begitupun dari setiap mata jahat yang mendatangkan petaka," [HR Bukhari].

اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ
"Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah ia dan cintailah orang-orang yang mencintainya," [HR Bukhari].

رَبَّنَا هَبْ لَـنَا  مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa," [QS. Al-Furqan: 74].

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا  الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِىْ وَبَنِىَّ اَنْ نَّـعْبُدَ الْاَصْنَامَؕ
"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala," [QS. Ibrahim: 35].

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku," [QS. Ibrahim: 40].

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)," [QS. Ibrahim: 41].

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَه
"Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak yang banyak dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadanya," [HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad].
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّين
"Ya Allah pandaikanlah dia dalam agama," [HR Bukhari].

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
"Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya," [HR Ahmad].

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ
"Ya Allah, berilah barakah dalam ikrar atau akad jual belinya," [HR Ahmad].

Semoga Kita tidak Termasuk dalam Tiga Kelompok Manusia Berikut

on Monday, July 06, 2015 | 6:30 p.m.

Oleh Irfan Nugroho
Di dalam Kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Rahimahullah, di dalam hadist nomor: 500 (versi Shahih) atau nomor: 644 (versi asli) dari sahabat Jabir bin Abdullah Radhiyallahuanhu disebutkan:

  أن النبي صلى الله عليه وسلم رقى المنبر فلما رقى الدرجة الأولى قال آمين ثم رقى الثانية فقال آمين ثم رقى الثالثة فقال آمين فقالوا يا رسول الله سمعناك تقول آمين ثلاث مرات قال لما رقيت الدرجة الأولى جاءني جبريل صلى الله عليه وسلم فقال شقي عبد أدرك رمضان فانسلخ منه ولم يغفر له فقلت آمين ثم قال شقي عبد أدرك والديه أو أحدهما فلم يدخلاه الجنة فقلت آمين ثم قال شقي عبد ذكرت عنده ولم يصل عليك فقلت آمين

Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika itu sedang menaiki mimbar. Maka tatkala menaiki tangga yang pertama beliau berkata, "Aamiin".

Kemudian ketika menaiki tangga yang kedua beliau berkata, "Aamiin." Lalu ketika menaiki tangga yang ketiga beliau berkata, "Aamiin."

Maka para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami telah mendengar engkau berkata, 'Aamiin' tiga kali."

Nabi bersabda, "Tatkala saya menaiki tangga yang pertama maka datanglah Jibril 'alaihissallam lalu berkata, "Celakalah seorang hamba yang bertemu dengan bulan Ramadhan lalu dia meninggalkannya sedangkan dia tidak mendapat ampunan," lalu saya berkata, "Aamiin."

Kemudian (Jibril) berkata, "Celakalah seorang hamba yang mendapati orang tuanya atau salah satunya (dalam keadaan tua), tapi tidak dapat masuk ke dalam surga (karena tidak berbakti)," lalu saya berkata, "Aamiin."

Kemudian dia (Jibril) berkata, "Celakalah seorang hamba yang ketika namamu disebut tapi dia tidak membacakan shalawat kepadamu," lalu saya berkata, "Aamiin," [Shahih lighairihi di dalam kitab At-Ta'lifu Ar Raghibu (2/283). Tidak tercantum dalam Kutubus Sittah].

Ada tiga kategori manusia yang disumpahi oleh Malaikat Jibril dengan sumpah yang buruk:

1. Orang yang bertemu dengan bulan Ramadan tapi tidak memohon ampunan dari Allah
Mereka yang masuk ke dalam kelompok ini adalah mereka yang;
a. Tidak berpuasa di bulan Ramadan tanpa adanya uzur yang syar'i, antara lain: Sakit parah, haidh, nifas, hamil, menyusui, tua renta, hilang akal, belum baligh, dalam perjalanan, atau orang kafir.

b. Mereka yang berpuasa tetapi berangkat dari niat yang keliru. Mereka memang tidak makan dan tidak minum sedari azan subuh hingga azan maghrib. Juga bisa jadi, mereka begitu lantang mengucapkan, "Nawaitu shoumma ghadin an adai fardhi syahri ramadhaana hadihish sanati lillahi ta'ala," tetapi ucapan itu hanya di lisan sedang hatinya terdapat niatan berpuasa karena selain Allah, bisa karena perkewuh, pamer, atau yang lainnya. Mereka lupa dengan wejangan Kanjeng Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه
"Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu," [HR Bukhari].

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَر

"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga, dan berapa banyak orang yang shalat tarawih tidak mendapatkan bagian dari ibadahnya kecuali hanya begadang saja," [HR Ahmad: 8501].

2. Orang yang gagal memaksimalkan keberadaan orang tuanya sebagai cara untuk memasuki surga
رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّة

"Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!" lalu beliau ditanya; "Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya)," [HR Muslim: 4628].

Bagaimana seseorang bisa meremehkan berbuat baik kepada orang tua jika ridha Allah tergantung pada ridha Orangtua, murka Allah tergantung pada murka orangtua?
  رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Ridha Tuhan tergantung ridha orang tua, dan kemurkaan Tuhan tergantung murka orang tua," [Hasan mauquf dan shahih marfu' didalam kitab Ash-Shahihah: 515].

3. Orang yang tidak bershalawat ketika Nabi Muhammad disebut
Mereka adalah orang yang ketika disebut nama Muhammad di hadapannya, tetapi enggan mengucap shalawat kepada beliau. Tak terbesit di dalam hatinya untuk mengungkapkan cinta kepada manusia paling mulia yang pernah ada, Muhammad bin Abdullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam.

Jika untuk sekedar mengucapkan shalawat saja ia malas, apatah lagi mewujudkan rasa cinta itu di dalam kehidupannya. Shalawat adalah ungkapan cinta, ia menuntut adanya upaya keras untuk mengikuti segala ajarannya, persis seperti perkataan Imam Hasan Al-Basri, seorang pemuka ulama di kalangan tabi'in, "Beberapa orang mengaku cinta kepada Nabi, tetapi mereka enggan mengikuti dan mengamalkan ajarannya, hingga mereka diuji dengan QS Ali Imran: 31," [Tafsir Ibnu Katsir].

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْؕ‌ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْم
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," [QS. Ali 'Imran: 31].

INDONESIA

+Index»

NEGERI SYAM

+Index »

MANCANEGARA

+Index»
 
MUKMINUN.COM Sitemap | Privacy Policy | Contact Us | Disclaimer - Semua materi dalam website ini boleh dikopi, namun mohon berkenan mencantumkan nama website ini.